Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 27 Desember 2011

anak Punk

Hari ini ketika makan siang di warung aku bertemu seorang anak berusia sekitar sepuluh tahunan. Anaknya dekil, kotor, bau, bajunya masih bagus tapi seperti tak pernah dicuci, rmbutnya mohawk dicat merah dan wajah anak itu seperti tak pernah di cuci sama sekali, ini terbukti kulit wajahnya lebih kotor dari tangannya. Yang membuatku benar-benar muak melihatnya adalah dia membeli rokok di warung makan itu padahal usianya baru 10 tahun. Pemilik warung dan aku hanya menggeleng-geleng saja. Lalu anak itu menyalakan rokok di depan kami, setelah menghisap asap rokok itu dalam-dalam adalah saat dia menyemburkan asap rokok itu kearah ku.  “Bajingan…!!! masih kecil dah mainin orang dewasa!” gumalku dalam hati. Rasanya saat itu ingin ku pukul dia dengan botol kecap didepanku. Untungnya aku ini orang yang sabar dan tahu diri jadi ku biarkan dia pergi.
Menurutku dia salah satu anak pank yang ahir-ahir ini sering dibicarakan. Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.
Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun kadang-kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.
Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.
Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambutmohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.
Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).
Dengan definisi diatas, punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seniavant-garde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas).
Punk selanjutnya berkembang sebagai buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.
Akibatnya punk dicap sebagai musik rock and roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi. Perusahaan-perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.
Gaya hidup ialah relatif tidak ada seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya. Ideologi diambil dari kata "ideas" dan "logos" yang berarti buah pikiran murni dalam kehidupan. Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan situasi maka punk kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek "jor-joran" yaitu manfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita. Dengan kata lain punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.
Sedangkan di Indonesia perkembangan scene punk, komunitas, gerakan, musik, dan lainnya, yang paling optimal adalah di Bandung, disusul Malang, Yogyakarta, Jabotabek, Semarang, Surabaya, dan Bali. Parameternya adalah kuantitas dan kualitas aktivitas, bermusik, pembuatan fanzine (publikasi internal), movement (gerakan), distro kolektif, hingga pembuatan situs.Meski demikian, secara keseluruhan, punk di Indonesia termasuk marak. Profane Existence, sebuah fanzine asal Amerika menulis negara dengan perkembangan punk yang menempati peringkat teratas di muka Bumi adalah Indonesia dan Bulgaria. Bahwa `Himsa`, band punk asal Amerika sampai dibuat berdecak kagum menyaksikan antusiasme konser punk di Bandung. Di Inggris dan Amerika, dua negara yang disebut sebagai asal wabah punk, konser punk yang sering diadakan disana hanya dihadiri tak lebih seratus orang. Sedangkan di sini, konser punk bisa dihadiri ribuan orang. Mereka kadang reaktif terhadap publikasi pers karena khawatir diekploitasi. Pers sebagai industri, mereka anggap merupakan salah satu mesin kapitalis. Mereka memilih publikasi kegiatan, konser, hingga diskusi ide-ide lewat fanzine.
Tapi banyak anak muda yang di Indonesia yang salah kaprah tentang punk. Mereka berpikir adalah menjadi anak punk itu bebas, bebas dalam arti sebebas-bebasnya. Padahal sebenarnya punk itu maksutnya bebas berekpresi. Gara-gara arti kebebasan ini banyak anak punk Indonesia yang suka asal –asalan, semaunya sendiri, dan mengganggu kehidupan orang lain. Lebih jauh lagi anak punk di Indonesia di anggap negative karena karena arti kebebasan yang salah  itu mereka berbuat kejahatan seperti mencopet, penjarahan dan hal-hal yang mengganggu lainnya. Hal ini dikarenakan mereka ingin bebas dari beben-beban hidup, mereka ingin benar-benar hidup bebas tanpa ada tanggungan hidup sehingga mereka ahirnya hidup dengan seadanya yang penting hidup, yang penting sekarang bisa makan dan yang penting bisa berkumpul dengan teman-teman. Mereka tidak berpikir tenang masa depan, tidak mau berpikir “besuk makan apa?” ataupun berpikir “besuk kira-kira ada uang ga ya…?” yang merka inginkan adalah bebas. Benar-benar bebas yang penting bisa makan sekarang, besuk dipikir besuk, jika tidak punya uang besuk untuk beli makan ya ngamen, ga cukup minta, ga cukup lagi main kasar.
Padahal menurut saya namanya manusia itu tidak ada yang bebas. Sejak dalam kandungan manusia itu sudah tak bisa bebas, ia hanya bisa hidup di dalam rahim saja. Setelah di lahirkan ketidak bebasan itu semaikn banyak, manusa tidak bisa lepas untuk ini itu. Ketidak bebasan itu dimulai dari ayah dan ibu yang mendidik anak mereka untuk belajar tentang hidup mulai makan, tidur, ke kamar mandi dll. Jika sejak lahir manusia dah di beri kebebasan mungkin dia akan makan menggunakan kali atau malh tidak memakai apa-apa seperti anjing atau mereka akan membuang kotoran semau mereka dan menimbulkan lingkungan yang jorok. Ketidak bebasan itu ditambah lagi dengan system kehidupan bermasarakat entah itu di lingkungan dalam rumah, lingkungan rumah hingga Negara dan dunia.
Dari rumah terjadilah ketidak bebasan itu dengan adanya aturan-aturan di rumah. Di lingkungan rumah itu apa lagi. Lalu di Negara yang pastilah setiap Negara memiliki peraturan yang berbeda-beda. Peraturan-peraturan itu sebenarnya untuk kenyamanan masarakat sekitar, etapi ketika satu saja yang melanggara kan menimbulkan kekacauan seperti yang sering terjadi di dunia ini. Apakah ada Negara yang tidak memiliki peraturan? Jawabannya tidak ada. Di hutan dan di lautan sekalipun yang tidak ada manusianya memiliki hokum yaitu hukum rimba apalagi yang terdapat berjuta-juta manusia.
Memang tidak semua anak punk yang seperti itu. Mereka yang seperti itu adalah anak-anak pung yang salah paham dan tidak mengetahui arti anak pung sendiri. Mereka asal ikut-ikutan saja.  Saya lihat ada anak-anak punk yang mengerti arti kebebasan mereka, dimana kebebasan itu kebebasan berexpresi.  Temanku ada yang menjadi anak pung, tetapi dia tetap beribdah, mempunyai usaha sendiri sebagai pengengembangan bakat mereka, tidak mementingkan diri sendiri, dan yang paling aku suka mereka tidak pernah meresahkan masarakat sekitar kami.
Aku percaya anak punk itu tidak senegativ yang orang tua saya katakana. Hanya anak-anak jalanan yang tak tahu diri saja yang mengatasnamakan anak punk yang melakukan tindakan tak terpuji itu. Seperti anak berusia 10 tahun yang saya temui hari ini.  Mungkin sebenarnya anak itu orang tuanya mampu tetapi dia tidak mau mengikuti perintah orang tuanya dan lebih memilih hidup sesua keinginannya. Nyatanya baju dan celananya bagus dan bermerek. “soal merek baju dan celana gw kalah besar olehnya hahahaaa….”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut