Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 13 September 2011

Penyakit Pada Ternak Scabies



BAB I PENDAHULUAN


  LATAR BELAKANG
Salah satu hambatan dalam rangka meningkatkan produktivitas ternak adalah adanya berbagai penyakit yang merupakan faktor yang langsung berpengaruh terhadap kehidupan ternak. Penyakit pada ternak dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi peternak khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.  Karena selain merusakkan kehidupan ternak, juga dapat menular kepada manusia (zoonosis). Kerugian ekonomi akibat serangan penyakit dapat ditekan jika diagnosa dan pengobatan dilakukan sedini mungkin, secara cepat dan tepat agar penyakit tidak menyebar ke ternak lain.
Scabies  merupakan  penyakit  parasit  menular pada kulit yang disebabkan oleh tungau parasit Sarcoptes scabei. Penyakit Scabies adalah penyakit pada ternak yang dikenal oleh masyarakat petani peternak disebut Kudis.  Ternak yang terserang penyakit ini  akan mengalami penurunan kondisi terutama berat badan,  penurunan kualitas daging atau karkas, kerusakan dan penurunan nilai kulit. Selain  kerugian ekonomis tersebut, penyakit ini juga sangat merugikan karena  bersifat zoonosis yaitu penyakit yang dapat menular kepada manusia. 

BAB II PEMBAHASAN

A.      Nama Penyakit dan Penyebabnya
Di Indonesia nama penyakit scabies sering disebut kudis, penyakit gudig wesi (jawa tengah), buduk (jawa barat), katalu kabusu (sulawesi selatan). Disebut juga gatal agogo atau disko, hal ini kemungkinan karena penderita menggaruk badanya yang gatal menyerupai orang yang menari.
Scabies merupakan penyakit kulit dengan jumlah kasus yang relatif tinggi pada hewan ternak, hewan piaraan dan beberapa hewan liar. Gejala khas penyakit ini berupa gatal-gatal pada kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei (Walton  et al., 2004). Tungau  Sarcoptic pada hewan piaraan pada dasarnya adalah sama dengan pada manusia. Sebagian besar infestasinya adalah pada bagian tubuh yang tidak ditumbuhi rambut atau bagian tubuh dengan rambut yang pendek. Infeksi sekunder oleh bakteri umum terjadi dan menyebabkan gejala penyakit menjadi lebih parah (Schmidt dan  Robert, 2000). Scabies  adalah  penyakit  zoonosis  yang  menyerang  kulit, mudah  menular  dari  manusia  ke  manusia,  dari  hewan  ke  manusia atau sebaliknya, dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia  yang  disebabkan  oleh  tungau  (kutu  atau mite) Sarcoptes scabiei (Buchart, 1997; Rosendal 1997).
Tungau Sarcoptes scabei ini besarnya 0,2-0,24 mm untuk yang jantan, sementara betina 0,33-0,6mm. Perkembangbiakan tungau terjadi dengan cara bertelur, sekali bertelur mencapai 40-50 butir. Kutu betina masuk ke bawah kulit dengan merusak kulit bagian atas (Masanto, R; Agus, A 2010). Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh betina. Tungai betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum (lapisan tanduk), dengan kecepatan 2-3 mm sehari dan sambil meletakan telurnya 2 atau 4 butir sehari (dalam kelompok-kelompok) sampai mencapai 40-50. Bentuk betina yang dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telur akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya dari mulai telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari (djuanda, Adhi. 2007).
 Penyakit Scabies dapat menyerang ternak kambing yang dipelihara pada kandang yang sangat kotor akibat kurang terawat, pada kondisi lingkungan yang tidak hygienes dan pada ternak yang mempunyai kondisi tubuh jelek. Gejala klinis dari penyakit scabies ini adalah gatal-gatal pada daerah yang terserang, kulitnya merah menebal, berkeropeng-keropeng, bulunya rontok, dan badannya kurus. Rasa gatal biasanya dimulai dari bagian kepala, bibir, dan berlanjut pada bagian tubuh lain yang terserang. Selanjutnya efek yang ditimbulkan berupa kerusakan kulit, kekurusan dan kalau tidak segera diobati, ternak akan mati merana (Sarwono, 2002). Penyakit ini banyak terjadi pada sapi, kambing, kelinci, dan babi pada segala umur. Pada umumnya muncul pada kandang lembab dan kotor. Karna kegatalan kemudian digosok-gosokan pada tempat tertentu, apabila ada ternak lain yang menempel pada tempat gosokan, maka kutu akan terbawa dan berkembang biak pada ternak yang baru. Bagian tubuh. Yang sering diserang adalah muka, telinga, leher, dan pangkal ekor. Karena merasa gatal maka ternak akan gelisah menggosok-gosok dan menggigit-gigit, sehingga nafsu makan berkurang sehingga kurus, lemah, dan mati (Subagyo, 2009).
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau scabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitasi terhadap sekreta dan ekskreta tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukanya papul, vesikel, urtika dan lain-lain. Dengan  garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder (djuanda, Adhi. 2007).
A.      Gejala klinis
1.         Menggaruk dan menggosok pada benda keras
Karna kegatalan kemudian digosok-gosokan pada tempat tertentu, apabila ada ternak lain yang menempel pada tempat gosokan, maka kutu akan terbawa dan berkembang biak pada ternak yang baru.
2.         Kerusakan kulit pada moncong, leher, bahu, telinga, permukaan paha, punggung, kaki dan pangkal ekor.
Sebagian besar infestasi Tungau  Sarcoptic  adalah pada bagian tubuh yang tidak ditumbuhi rambut atau bagian tubuh dengan rambut yang pendek. Kemudia ditemukan terowongan (kunikulus) pada tempat penderita berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung ditemukan papul atau vesikel
3.         Pada hewan muda pertumbuhan terganggu
Karena merasa kegatalan maka ternak akan gelisah menggosok-gosok dan menggigit-gigit menyebabkan nafsu makan berkurang dan pertumbuhan terganggu
4.         Ditemukan tungau
Merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. Cara menemukan tungau diantaranya : 1) carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung yang terlihat papul atau vesikel dicongkel dengan jarum dan diletakan diatas sebuah kaca obyek, lalu ditutup dengan kaca penutup dan dilihat dengan mikroskop. 2) dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung diatas selembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar (djuanda, Adhi. 2007).
A.      Pencegahan dan pengobatan
1.         Pencegahan
a.    Biosecurity
Biosecurity adalah usaha untuk menjaga lingkungan peternakan dari masuknya agen penyakit, menjaga tersebarnya agen penyakit dari daerah tertentu, dan menjaga agar suatu penyakit tidak menyebar di dalam daerah tersebut. Program ini direncanakan untuk membatasi timbulnya penyakit menular kedalam kelompok ternak dan penyebaran penyakit dari bahan-bahan dari luar dan juga dari kelompok ternak itu sendiri. Tahapan biosecurity antara lain :
·         Pembelian ternak yang baru dari peternakan secara langsung tanpa perantara.
·         Alat pengangkut ternak haruslah bersih dan harus sudah didesinfektans.
·         Ternak yang baru datang dapat perlu dikarantina selama satu bulan sebelum masuk ke kelompok lama.
·         Pengamatan dilakukan secara periodik untuk kutu, kuku dan berat badan.
·         Pemberian vaksinasi dan obat cacing pada ternak yang baru datang sebelum dimasukan karantina.
b.    Kebersihan
Pencegahan untuk menghindari penyakit skabies adalah dengan membersihkan kandang dan memandikan ternak secara periodik, kemudian jangan biarkan kotoran menumpuk, serta membuang sisa hijauan. Sebelum digunakan kandang perlu disemprot dengan desinfektan dan dibiarkan kosong selama kira-kira 15 hari.
2.         Pengobatan
Kambing yang terserang scabies harus segera diasingkan dan dirawat di tempat yang hangat dan diberi ransum yang bergizi dan diobati. Kandang dibersihkan dengan desinfektan sampai bersih supaya tidak menular ke yang lain. Salah satu cara pengobatan yang biasa di dilakukan pemilik dengan menggunakan wormectin injeksi. Mula-mula dilakukan pencukuran bulu rambut disekitar luka, kemudian bersihkan dengan kapas yang dikasih alkohol lalu dilakukan injeksi subkutan (dibawah kulit). Biasanya setelah beberapa hari dengan penanganan yang tepat maka penyakit ini akan sembuh.
Pengobatan lain dapat dilakukan secara topikal. Mula-mula dilakukan pencukuran rambut didaerah yang terserang luka. Kemudian borok-borok luka dibersihkan dengan air hangat, selanjutnya dimandikan dengan air yang telah diberikan bubuk Neguvon. Pengobatan luka dapat menggunakan (salep) caviam atau scabec kemudian oleskan secara teliti karena bibit penyakit ini suka bersarang di tempat tersembunyi. Pengobatan bisa diulangi 14 hari kemudian (Sarwono, B. 2002).
BAB III KESIMPULAN

Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Penularannya dapat melalui Kontak langsung dengan penderita atau benda tercemar.
Gejala klinis scabies seperti Menggaruk dan menggosok pada benda keras; Kerusakan kulit pada moncong, leher, bahu, telinga, permukaan paha, punggung, kaki dan pangkal ekor; Pada hewan muda pertumbuhan terganggu; Ditemukan tungaul.
Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan biosecurity dan kebersihan. Pengobatan diantaranya dengan cara injeksi dan topikal. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut