Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 07 Juni 2012

Kelahiran Caesar pada Bayi (Efek Negatif)


Demi menghindari rasa sakit atau ingin memilih tanggal tertentu sebagai waktu kelahiran buah hati, banyak para orang tua langsung memilih bedah caesar untuk melahirkan anak. Para dokter juga kerap menganggap caesar sebagai pilihan terbaik bagi kelahiran bayi prematur. 

Namun, studi baru menunjukkan bahwa kelahiran caesar tidak lebih aman daripada persalinan normal bagi bayi yang masih rapuh, terlalu kecil atau lahir terlalu cepat daripada usia normal mereka. Bahkan studi menunjukkan caesar meningkatkan risiko pernapasan dan komplikasi pada bayi.
Pemimpin penulis studi tersebut, Dr Erika Werner, asisten profesor ginekologi dan kebidanan di Johns Hopkins School of Medicine mengungkap dokter harus mempertimbangkan kembali proses kelahiran. "Anda tidak boleh mengasumsikan tidak ada kerugian bayi yang lahir lewat caesar," kata Werner seperti dikutip dari Today Health.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menemukan, angka bedah caesar meningkat 37 persen dalam rentang tahun 2000 hingga 2007. Dan, wanita berusia 25 tahun ke bawah yang menjalani bedah caesar tercatat paling tinggi, 57 persen.

Dr Nancy Snyderman, pemimpin redaksi medis NBC mengungkap, proses bayi tabung atau kelahiran kembar menjadi alasan sebagian orang tua untuk menjalani caesar bagi kelahiran buah hati. Sebagian lainnya ingin memiliki anak sesuai tanggal yang diinginkan dan lainnya takut melahirkan normal.

Pada 2009, sebanyak 45,6 persen bayi dilahirkan belum cukup minggu dibandingkan 35,1 persen  yang lahir pada usia 37-38 minggu. Studi terhadap 2.560 bayi prematur yang lahir antara  1995 dan 2003 di New York, 54 persen diantaranya dilahirkan secara caesar.

Peneliti menemukan, bayi yang lahir secara normal mengalami risiko subdural, kejang, atau sepsis lebih rendah dibandingkan bayi yang lahir dengan proses caesar. Bayi caesar juga 30 persen lebih mungkin mengembangkan gangguan pernapasan. "Ini juga mungkin akan berdampak pada kesehatan jangka panjang bayi seperti asma," ucap Synderman.

Di minggu-minggu terakhir, katanya, paru-paru dan otak bayi berkembang pesat. Sehingga, kemungkinan gangguan pernapasan atau otak seperti
 cerebral palsy, kesulitan belajar akan semakin parah jika bayi lahir sebelum waktunya.

Werner menyarankan dalam kondisi yang tidak membahayakan bayi dan ibu, sebaiknya anak dilahirkan dengan proses normal dalam usia 37-38 minggu. "Bila lebih dari 40 minggu, lebih baik segera mengeluarkan bayi dengan
 C-section. Tetapi jangan karena tidak ingin merasa sakit memilih caesar." 

Laporan dipresentasikan pada pertemuan tahunan
 Society for Maternal-Fetal Medicine. (hp). 
• VIVAnews 
Dari blog lain mengatakan
SEBUAH penelitian terdahulu menunjukkan, bahwa persalinan caesar memicu risiko asma dan alergi pada anak. Kini, persalinan caesar dikaitkan dengan masalah berat badan anak.

Penelitian tersebut dilakukan tim dari Boston Children's Hospital. Mereka mengamati 1.255 pasangan ibu dan anak dari 1999 hingga 2002. Seperempat bayi dalam penelitian tersebut dilahirkan melalui operasi caesar, sisanya melalui persalinan normal.

Dilakukan penimbangan dan pengukuran saat bayi lahir, usia enam bulan dan usia tiga tahun. Dari pengukuran ditemukan 16 persen anak-anak yang dilahirkan melalui caesar mengalami obesitas pada usia tiga tahun. Sedangkan pada persalinan normal hanya ditemukan 7,5 persen anak obesitas.

Hal tersebut menunjukkan bahwa bayi yang lahir melalui operasi caesar memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami obesitas pada usia tiga tahun dibandingkan bayi dengan persalinan normal.

Menurut peneliti, hal tersebut dikarenakan kelahiran caesar memengaruhi bakteri dalam usus. Pada akhirnya memengaruhi cara makanan di cerna.

"Kami berspekulasi bahwa berbagai jenis persalinan dapat memengaruhi bakteri dalam usus saat lahir dan ada kemungkinan bahwa bakteri usus dapat memengaruhi obesitas dengan memengaruhi kalori dan nutrisi yang diserap dari makanan," kata direktur pertumbuhan dan program gizi di Rumah Sakit Anak Boston, Dr Susanna Huh. (Ghi/Wtr4)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut