Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 11 Januari 2013

KRITERIA HEWAN YANG AKAN DISEMBELIH DI RPA (RUMAH POTONG AYAM)



PENDAHULUAN
Ayam broiler adalah jenis ayam jantan maupun betina muda berumur sekitar 6 – 8 minggu yang dipelihara secara intensif, guna memperoleh daging yang optimal. Ditinjau dari segi mutu, daging ayam memiliki nilai gizi yang tinggi dibandingkan ternak lainnya. Dan jika ditinjau dari segi ekonomis, khususnya ayam ras potong atau ayam negeri yang sudah populer dengan sebutan broiler ini, merupakan ayam negeri yang bisa diusahakan secara efisien dan cepat dalam pemanenan. Ayam pedaging (broiler) dapat digolongkan ke dalam kelompok unggas penghasil daging artinya dipelihara khusus untuk menghasilkan daging. Umumnya memiliki ciri-ciri, yaitu kerangka tubuh besar, pertumbuhan badan yang cepat, pertumbuhan bulu yang cepat, hemat ransum, lebih efisien dalam mengubah ransum menjadi daging (Rasyaf, 1997).
Hingga saat ini, usaha peternakan ayam broiler merupakan salah satu kegiatan yang paling cepat dan efisien untuk menghasilkan bahan pangan hewani yang bermutu dan bernilai gizi tinggi. Beberapa hal yang menjadi penyebabnya antara lain, laju pertumbuhan ayam yang lebih cepat dibandingkan dengan komoditas ternak lainnya, permodalan yang relatif lebih kecil, penggunaan lahan yang tidak terlalu luas serta kebutuhan dan kesadaran masyarakat meningkat akan kandungan gizinya.
Rumah Potong Unggas/Ayam (RPU/RPA) adalah kompleks bangunan dengan desain dan konstruksi khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan higiene tertentu serta digunakan sebagai tempat memotong unggas/ayam bagi konsumsi masyarakat umum. Untuk membangun RPA, diperlukan persyaratan lokasi dan tersedianya sarana yang cukup memadai, hal ini tercantum dalam SNI 01-6160-1999.
Identifikasi Ayam potong
1.      Ternak ayam yang baru datang di RPA harus diturunkan dari mobil box, kotak box berisi ayam diturunkan dengan hati-hati dan tidak membuat ternak tersebut stress.
2.      Dilakukan pemeriksaan dokumen (surat kesehatan hewan, surat keterangan asal hewan, surat karantina, dsb).
3.      Ayam yang akan di sembelih sebelum nya harus diistirahatkan terlebih dahulu di kandang penempungan minimal 12 jam sebelum dipotong.
4.      Ayam   harus dipuasakan 8-12 jam sebelum dipotong.
5.      Ayam harus diperiksa kesehatannya sebelum dipotong (pemeriksaan antemortem).

A.    Syarat ayam yang akan di potong
1.      Ayam dalam kondisi aktif, lincah, mata dan muka cerah (tidak mengantuk) serta bebas dari penyakit.
2.      Berat badan sesuai dengan umur (standar) dan seragam.
3.      Nafsu makan dan minum baik.
4.      Bulu cerah berminyak, tidak kusam dan tidak berdiri.
5.      Bentuk tubuh ayam normal dan proposional, berdiri tegak dengan kaki yang kokoh, serta tidak ada luka ditubuhnya.
6.      Sayap tidak jatuh dan posisi kepala terangkat dengan baik.
7.      Tidak terdengar gejala napas bersuara (ngorok) atau batuk.
8.      Anus bersih dan tidak ada kotoran.
Berkenaan dengan kesiapan ternak untuk siap disembelih maka beberapa hal perlu diperhatikan sebelum ternak disembelih. (1) Ternak harus diistirahatkan secukupnya dan tenang sesaat menjelang eksekusi, (2) ternak harus dihindarkan dari tekanan dan perlakuan menyakiti, dan (3) ternak harus dalam keadaan sehat. Ternak yang cukup istirahat dan tenang sebelum penyembelihan diharapkan akan mendapatkan kualitas karkas/daging bermutu tinggi dibandingkan dengan ternak yang sebelum penyembelihan dalam kondisi kelelahan dan mendapat tekanan (stres). Ternak yang kelelahan dan stres memiliki cadangan glikogen yang rendah sehingga berpengaruh pada proses pengeluaran darah, meronta, dan rigor mortis.
Lamanya waktu mengistirahatkan ternak berbeda-beda tergantung dari spesies, tipe ternak dan kondisi atau tingkat kelelahannya, misalnya dari perjalanan (pengakutan) menuju tempat pemotongan yang jauh, dan lain sebagainya. Namun demiian biasanya cukup antara 12 – 24 jam. Perlunya ternak diistirahatkan adalah agar (1) ternak tidak mengalami stres, (2) cukup tersedia cadangan energi sehingga proses rigormortis dapat berlangsung secara sempurna, dan (3) pada saat disembelih darah yang keluar sebanyak mungkin.
Mengistirahatkan ternak sebelum disembelih ada 2 (dua) cara, yaitu dengan dipuasakan dan tanpa dipuasakan. Pemuasaan dilakukan agar (1) diperoleh bobot tubuh kosong (BTK), yaitu bobot tubuh yang telah dikurangi isi saluran pencernaan, saluran kencing dan empedu, (2) mempermudah proses penyembelihan terutama bagi ternak yang agresif atau liar (Soeparno, 1994). Sedangkan pengistirahatan ternak tanpa pemuasaan adalah agar (1) ternak tidak mengalami stres dan (2) ketika disembelih ternak mengeluarkan darah sebanyak mungkin karena lebih kuat meronta, mengejang atau berkontraksi sehingga darah yang dikeluarkan akan lebih sempurna (Soeparno, 1994).

B.     Pemeriksaan Ante-mortem
Hal penting lain yang perlu dilakukan sebelum ternak disembelih adalah melakukan pemeriksaan ternak (pemeriksaan antemortem). Menururt Soeparno (1994) bahwa pemeriksaan antemortem dimaksudkan (1) untuk mengetahui ternak yang cidera sehingga diprioritaskan untuk disembelih terlebih dahulu dan (2) untuk mengetahui ternak-ternak yang sakit sehingga disembelih secara terpisah.
Pemeriksaan ante-mortem ini sangat penting dilakukan karena merupakan salah satu proses pencegahan penyakit terhadap konsumen. Dalam hal ini "pemeriksa" harus memiliki pengetahuan mengenai kesehatan masyarakat dan juga cukup berpengalaman dalam menangani ternak-ternak yang akan dipotong.
Adapun manfaat dari pemeriksaan antemortem (Suharyanto, 1996) adalah:
a.       Menegtahui/menentukan ternak yang dagingnya berbahaya untuk dikonsumsi. Misalnya ditemukan adanya ternak yang berada pada taraf septi chaemi (gejala infeksi yang mulai menjalar); ternak yang demikian ini sukar diketahui gejala-gejalanya sehingga tanpa pemeriksaan sukar diketahui sedangkan hal ini berbahaya bagi konsumen.
b.      Dapat menetapkan kesehatan ternak ketika masih hidup sehingga bisa menyatakan sehat atau tidak dagingnya untuk dikonsumsi.
c.       Dapat mengetahui apakah ternak dalam keadaan lelah atau tidak untuk segera dilakukan penyembelihan.
C.    Ayam yang siap potong
Bobot potong diperoleh dari hasil penimbangan broiler hidup yang sudah
dipuasakan sebelum dipotong. Menurut Wahyu (1988), tingkat konsumsi ransum banyak ditentukan oleh palatabilitas ransum, sistem pakan dan pemberian pakan, serta kepadatan kandang. Dilain pihak, tingkat konsumsi juga dipengaruhi oleh nafsu makan dan kesehatan ternak. Ayam hidup yang bermutu baik yaitu ayam yang sehat, berbulu baik, ukurannya seragam dan berkualitas baik dengan perbandingan antara tulang dan daging seimbang (proporsional).
Ayam broiler merupakan hasil rekayasa genetika dari galur murni yang dapat dipanen lebih cepat dengan bobot badan 1-1,5 kg/ ekor (Charoen Pokphand, 2005). Menurut Siregar et al. (1982) menyatakan ayam broiler mampu memproduksi daging secara optimal dalam kurun waktu 6–7 minggu, ayam broiler mampu mencapai bobot hidup 1,5–2 kg/ekor
Murtidjo (1987) menyatakan bahwa ayam broiler yang dipotong usia kurang dari 8 minggu, dengan ciri khas daging masih lunak, kulit agak licin, tulang dada agak keras disebut dengan istilah roaster. Poussins adalah ayam dipotong pada usia 7-8 minggu dengan berat hidup berkisar antara 1,5-2,0 kg. Ayam pedaging atau broiler adalah istilah untuk menyebutkan ayam pedaging hasil rekayasa genetika dengan ciri pertumbuhannya yang cepat sebagai penghasil daging yang konversi ransumnya rendah dan siap potong pada umur yang relatif muda. Pada umumnya ayam broiler ini siap panen pada umur 35-45 hari dan bobot badan antara 1,2-1,9 kg/ekor (Murtidjo, 1992)
 PENUTUP
Identifikasi Ayam potong terdiri dari Ternak ayam yang baru datang di RPA harus diturunkan dari mobil box, kotak box berisi ayam diturunkan dengan hati-hati dan tidak membuat ternak tersebut stress. Dilakukan pemeriksaan dokumen (surat kesehatan hewan, surat keterangan asal hewan, surat karantina, dsb). Ayam yang akan di sembelih sebelum nya harus diistirahatkan terlebih dahulu di kandang penempungan minimal 12 jam sebelum dipotong. Ayam   harus dipuasakan 8-12 jam sebelum dipotong. Ayam harus diperiksa kesehatannya sebelum dipotong (pemeriksaan antemortem).
Hal yang perlu diperhatikan sebelum ternak disembelih. (1) Ternak harus diistirahatkan secukupnya dan tenang sesaat menjelang eksekusi, (2) ternak harus dihindarkan dari tekanan dan perlakuan menyakiti, dan (3) ternak harus dalam keadaan sehat. Perlunya ternak diistirahatkan adalah agar (1) ternak tidak mengalami stres, (2) cukup tersedia cadangan energi sehingga proses rigormortis dapat berlangsung secara sempurna, dan (3) pada saat disembelih darah yang keluar sebanyak mungkin.

DAFTAR PUSTAKA
Charoen Pokphand. 2005. Charoen Pokphand Broiler Breeder Guide Principles. (Tidak diterbitkan).
Murtidjo, B A., 1987. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Kanisius, Yogyakarta
Murtidjo, B A., 1992. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Kanisius, Yogyakarta.
Rasyaf, M.. 1997. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.
Siregar, A.P., M Sabrani dan S. Pramu, 1982. Teknik Beternak Ayam Pedaging di Indonesia. Margie Group, Jakarta.
Soeparno, 1994. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Standar Nasional Indonesia. 1999. SNI 01-6160-1999. Rumah Potong Unggas.
            Standardisasi Nasional-BSN Jakarta
Suharyanto, 1996. Pentingnya Pembangunan Rumah Potong Ayam di Bengkulu. Semarak, 4 Januari 1996.
Wahyu, J., 1988, Ilmu Nutrisi Unggas, Gajah Mada University Press, Yogyakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut