Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 13 Maret 2013

MEMBUKA TABIR SATRIO PININGIT > Jagad Satrio Wibowo


Misteri Satrio Piningit tak pernah pupus dari benak dan relung hati anak cucu leluhur nusantara. Fenomena sejak masa kewalian, pasca kehancuran Majapahit, ini sangat lekat terutama bagi a
nak cucu Jawa – Bali Dwipa.

Menurut kitab Musarar Jayabaya era sekarang masuk jaman Kalabendu (jaman sengsara), disebut kalabendu (kutukan bumi) disebabkan dari pengaruh hawa kutukan bumi, biasnya perilaku manusia menjadi edan (gila) dan hidupnya sengsara “hidup di jaman edan kalau tidak edan tidak kebagian”.

Pada masa-masa sulit di jaman edan (jaman kalabendu) ini, masyarakat nusantara mendambakan datangnya jaman kalisuba (jaman kemakmuran) yang ditandai datangnya sosok Satrio Piningit dan Ratu Adil sebagaimana yang ditulis pada bait-bait syair terakhir kitab Musarar Jayabaya, Uga Wangsit Siliwangi dan Ramalan Ronggowarsito.

Karya-karya leluhur nusantara antara satu dengan lainnya walaupun berbeda masa/periode yang jauh berselang, namun di dalam perlambangnya memiliki saling keterkaitan. Suatu perlambang dalam suatu karya menunjuk kepada perlambang atau karakter yang lain di dalam karya leluhur yang berbeda.

Masing-masing orang bisa saja menafsirkan yang berbeda-beda, tidak ada yang melarang. Bebas-bebas saja. Benar tidaknya kembali kepada diri kita masing-masing. Inilah tabir misteri menurut saya.

Wangsit Siliwangi :

“Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. tapi memang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hese apes ku rogahala”



(“Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan raja dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata, karena jelas keturunan raja penguasa baru susah dianiaya”).



Inilah Soekarno, Presiden pertama NKRI, ibunda Soekarno adalah Ida Ayu Nyoman Rai seorang putri bangsawan Bali. Ayahnya seorang guru bernama Raden Soekeni Sosrodihardjo. Namun dari penelusuran secara spiritual, ayahanda Soekarno sebenarnya adalah Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X. Nama kecil Soekarno adalah Raden Mas Malikul Koesno. Beliau termasuk “anak ciritan” dalam lingkaran kraton Solo.



Kitab Musarar Jayabaya, dalam Sinom bait 18 :

“Dene jejuluke nata, Lung gadung rara nglikasi, Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki, Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhing bebendu, Kerem negaranira, Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa”



(“Nama rajanya Lung Gadung Rara Nglikasi kemudian berganti Gajah Meta Semune Tengu Lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajak rakyat adalah …..”)

Lung Gadung Rara Nglikasi memiliki makna yaitu pemimpin yang penuh inisiatif (cerdas) namun memiliki kelemahan mudah tergoda wanita. Perlambang ini menunjuk kepada Presiden pertama RI, Soekarno. Sedangkan Gajah Meta Semune Tengu Lelaki bermakna pemimpin yang kuat karena disegani atau ditakuti, namun akhirnya terhina atau nista. Perlambang ini menunjuk kepada presiden kedua RI, Soeharto. Dalam bait ini juga dikatakan bahwa Negara selama 60 tahun menerima kutukan sehingga tidak ada kepastian hukum.

Dalam bait 20 dikatakan :

“Bejade ingkang Negara, Narendra pisah lan abdi. Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram”



(“Negara rusak, Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram”)



Bait ini menggambarkan situasi Negara yang kacau. Pemimpin jauh dari rakyat, dan dimulainya era baru dengan apa yang dinamakan otonomi daerah sebagai implikasi bergulirnya reformasi (Jaman Kutila). Karakter pemimpinnya saling jegal untuk saling menjatuhkan (Raja Kara Murka). Perlambang Panji Loro Semune Pajang – Mataram bermakna ada dua kekuatan pimpinan yang berseteru, yang satu dilambangkan dari trah Pajang (Joko Tingkir), dan yang lain dilambangkan dari trah Mataram (Pakubuwono), hal ini menunjuk kepada era Gus Dur dan Megawati.

Pada bait 22, dikatakan :

“Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih,Lajengipun sinung lambang, Dene Maolana Ngali, Samsujen Sang-a Yogi, Tekane Sang Kala Bendu, Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngrawuhi, Sasmitane lambang kang kocap punika”



(“Tan Kober Paes Sarira, Sinjang Kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu, Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut”)

Perlambang Tan Kober Paes Sarira, Sinjang Kemben tan Tinolih bermakna pemimpin yang tidak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah, ini menunjuk kepada Presiden RI keenam saat ini yaitu Susilo Bambang Yudhoyono.

Perlambang Semarang-Tembayat merupakan tempat dimana seseorang memahami dan mengetahui solusi dari apa yang terjadi. Jawaban & solusi mengatasi carut marut keadaan bangsa ini ada di “Semarang Tembayat” yang telah diungkap oleh Prabu Jayabaya guna membantu memecahkan misteri ini.

Kemudian bait 27 berbunyi :

“Dene besuk nuli ana, Tekane kang Tunjung Putih, Semune Pudhak Kasungsang, Bumi Mekah dennya lair, Iku kang angratoni, Jagad kabeh ingkang mengku. Juluk Ratu Amisan. Sirep musibating bumi, Wong nakoda milu manjing ing samuwan”



(“Kemudian kelak akan datang Tanjung Putih Semune Pudak Kasungsang. Lahir di bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan”)



Perlambang Tanjung Putih Semune Pudak Kasungsang memiliki makna seorang pemimpin yang masih tersembunyi berhati suci dan bersih. Inilah seorang pemimpin yang dikenal banyak orang dengan nama Ratu Adil sebagai pemimpin yang membawa amanat untuk membenahi kerusakan dahsyat bumi nusantara akibat bencana kemanusiaan dan bencana alam. Lahir di bumi Mekah merupakan perlambang bahwa pemimpin tersebut adalah seorang Islam sejati yang memiliki tingkat ketauhidan yang sangat tinggi.



Bait 28 tertulis :

“Prabu tusing Waliyullah, Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki, Perak lan Gunung Perahu, Sakulone tempuran, Balane samya jrih asih, Iya iku ratu rinenggeng sajagad”



(“Raja utusan waliyullah. berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan Gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia”)



Prediksi saya tentang bait tersebut, yang dimaksud dengan hasil didikan/tempaan seorang waliyullah (aulia) yang juga selalu tersembunyi berkedaton di Mekah dan Tanah Jawa adalah 2 (dua) waliyullah tersembunyi (menitis) di dalam dirinya (“sawiji”); yang satu seorang aulia dari Mekah dan yang satunya lagi seorang raja Jawa. Orang yang dimaksud merupakan Islam sejati, sudah makom Ma’rifat Mukasyafah, serta berciri khusus terdapat andheng-andheng (tahi lalat) segi tiga yang jelas sangat kelihatan (“dingklik”) “sanalika iku wong Jawa akeh kang tesmak bathok, senajan mlorok ora ndelok, andheng-andheng dingklik”. Pemimpin tersebut akan mampu memimpin nusantara ini dengan baik, adil dan membawa kepada kesejahteraan rakyat, serta menjadikan nusantara sebagai “barometer dunia” (istilah Bung Karno : “Negara mercusuar”).



Saya mencoba menelusuri alat-alatnya yang menandai datangnya Sang Ratu Adil pada serat Jangka Jayabaya/catursabda, Pethikan Seratan Tangan Kangge Sambetan Jangka Triwikrama :



”.. Kulup ingsun mangsit marang sira ... sanalika iku wong Jawa akeh kang tesmak bathok, senajan mlorok ora ndelok, andheng-andheng dingklik. Lah ing kono kulup, ora suwe bakal katon alat-alate kang minangka dadi cacaloning Sang Ratu Adil Panetep Panata Agama Kalipatullah”

”.... mung gegamane bae golekana kongsi katemu ”.



Kemudian kita simak serat Paweling (Peringatan), sebagai berikut :

”Nanging piweling ingsun, diawas dieling, jejegna imanira, turuten gustinira ratu adil panetep panata gama. Golekana gegamane sing nganti ketemu, turuten dalane, ngetutburia saparane..”,



Pada syair tersebut, Jangka Jayabaya memberikan pesan/paweling, agar kita selalu waspada dan ingat kepada Tuhannya, tegakan iman, jadilah pengikut Ratu Adil Panetep Panata gama, dan kita diminta untuk mencari ”senjatanya” sampai ketemu.



Kitab Musarar Jayabaya, Bait 159

“Se lelet-lelete yen mbesuk ngancik tutup tahun sinungkalan dewa wolu, ngasto manggalaning ratu, bakal ana dewa ngejawantah apengawak manungsa, apasuryan padha Bethara Kresna, awewatak Baladewa, agegaman Trisula Wedha. Jinejer wolak-waliking jaman, wong nyilih mbalekake, wong utang mbayar, utang nyawa bayar nyawa, utang wirang nyaur wirang”



(Selambat-lambatnya kelak menjelang tutup “sinungkalan dewa wolu, ngasto manggalaning ratu”, akan ada dewa tampil berbadan manusia, berparas seperti Bathara Kresna berwatak seperti Baladewa, bersenjatakan trisula wedha, tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam mengembalikan, orang berhutang membayar, hutang nyawa bayar nyawa, hutang malu dibayar malu)



Bait 160

“Sadurunge ana tetenger lintang kemukus lawa ngalu-alu tumanja ana kidul wetan bener lawase pitung bengi, perak esuk bener ilange Bathara Surya njumedhul …… iku tandane putra Bathara Indra wus katon tumeka ing arcapada …. “



(Sebelumnya ada pertanda Lintang Kemukus panjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timur lamanya tujuh malam, hilangnya menjelang pagi sekali bersama munculnya Batara Surya bebarengan dengan hilangnya kesengsaraan manusia yang berlarut-karut)



Bait 161

“Dununge ana sikile redi Lawu sisih Wetan, Wetane bengawan banyu, andhedukuh pindha Raden Gatotkaca, arupa pagupon Dara tundha tiga, kaya manungsa angleledha”.



(Asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur, sebelah Timurnya bengawan, berumah seperti Raden Gatutkaca, berupa rumah merpati susun tiga, seperti manusia yang menggoda)



Memahami bait 159 s/d 161: sinungkalan dewa wolu (8), ngasta (2) manggalaning (9) ratu (1) mungkin maksudnya tahun Jawa 1928 atau 2006 Masehi (dalam perkiraan yang tepat 2008) akan dewa tampil berbadan manusia berparas seperti Bhatara Kresna berwatak bagaikan Baladewa bersenjata Trisula Wedha, adalah tanda-tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam harus mengembalikan orang berhutang wajib membayar.

Prediksi saya tahun 2008 telah hadir ngejawantah di bumi nusantara berupa senjata Trisula Wedha atau Dewa/Putra Bathara Indra, munculnya di daerah Banyuwangi, sesuai dengan bait 161 “ bengawan banyu”). Tempat munculnya di Banyuwangi bukan secara kebetulan, karena daerah tsb dahulu adalah tempat pertemuan & perpisahan Prabu Brawijaya V (Sunan Lawu) dgn Sabdopalon & Noyogenggong, disaksikan Sunan Kalijaga (mengacu pada naskah Darmogandul).

Darmogandhul (Jawa) :

“Sang Prabu karsane arep ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna.

Sang Prabu ngungun serta nenggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk Negara Blambangan salina jenenge Negara Banyuwangi, dadiya tenger Sabdapalon enggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane”.

Berdasarkan kutipan serat Dharmogandul, tempat tersebut (Banyuwangi) menjadikan tanda Sabdopalon & Noyogenggong akan datang lagi ke tanah Jawa “nanti jika ada orang Jawa bersenjatakan kaweruh, yaitu yang akan diasuh Sabdopalon, orang Jawan akan diberi petunjuk tentang bener salah”. Sebagai tanda tempat tsb, oleh sang Prabu Brawijaya dgn disaksikan Sunan Kalijaga, daerah Blambangan dirubah namanya menjadi Banyuwangi menjadikan tanda Sabdopalon & Noyogenggong pulang kembali ke tanah Jawa membawa momongannya.

Seperti apakah wujud Trisula Wedha atau Dewa/Putra Bathara Indra yang dimaksud oleh kitab Musarar Jayabaya? Untuk memecahkan misteri ini, bait 161 telah memberikan kata kunci “rumahnya seperti Raden Gatotkaca” (bait 161 “andhedukuh pindha Raden Gatotkaca”). Artinya kita, diminta untuk berpikir dan menelusuri, siapakah sosok Raden Gatotkaca sehingga dikatakan sebagai rumah?

Untuk menjawab teka-teki tersebut, agar menyimak cerita wayang tentang masa kecil dan gugurnya Raden Gatotkaca. Diceritakan sewaktu Raden Gatutkaca masih bayi, pusernya tidak mempan dipotong dengan senjata apapun, maka Raden Arjuna diminta untuk pinjam pusaka Kunta kepada Dewa, tetapi hanya mendapatkan warangka/sarungnya pusaka saja, karena bilah pusaka telah terlebih dahulu diambil oleh Adipati Karna. Akhirnya pusernya Raden Gatutkaca dapat dipotong menggunakan warangka, tetapi naas warangkanya masuk kedalam puser. Kemudian pada waktu terjadinya perang Barathayuda antara Astina dengan Pandawa, Raden Gatutkaca mendapatkan lawan tangguh yaitu Adipati Karna. Diceritakan, senjata Kunta milik Adipati Karna digunakan untuk melawan Raden Gatotkaca, walaupun Raden Gatutkaca terbang menghindar dari kejaran senjata Kunta, bahkan sampai lapis langit ketujuh, tetap saja senjata Kunta mengejarnya!, dan Raden Gatotkaca tidak bisa menghindar. Hal ini disebabkan Raden Gatutkaca adalah rumah/sarangnya senjata tersebut (di pusernya bersemayam warangka/sarungnya).

Diperoleh jawaban sementara misteri teka-teki ini, bahwa Dewa/Putra Bathara Indra itu rumahnya seperti Raden Gatutkaca, dimaksud adalah Warangka.

Gambaran sementara, yang dimaksud sbg Dewa/Putra Bathara Indra yang sudah ngejawantah atau di temukan di Banyuwangi sebagai pasangan dari Warangka tersebut adalah bilah Keris.?!

Sepertinya indikasi Satrio Piningit lebih mengarah kepada gegaman/pusaka, kita simak :



Bait 164

”Putra kinasih swargi Sunan Lawu, ya Kyai Brajamusthi ya Kresna ya Herumurti, mumpuni sakehing laku, nugel tanah Jawa kaping pindho, ngerahake jin, setan, kumara, prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen abebantu manungso Jawa, padha asenjata Trisula Weda, landhepe triniji suci, bener, jejeg, jujur didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong”



(Putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu, yaitu Kyai Brajamusthi, ya Kresna, ya Herumurti, menguasai seluruh ajaran (ngelmu), memotong tanah Jawa kedua kali, mengerahkan jin dan setan seluruh makluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula wedha, tajamnya tritunggal nan suci benar, lurus, jujur didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong).



Bait 168

”Mula den udia satriya iki, wus tan abapa, tan bibi, lola wus aputus wedha Jawa,

mula ngandelake Trisula Wedha, landepe Trisula pucuk arupa gegawe sirik agawe pati utawa utang nyawa. Sing tengah sirik agawe kapitunaning liyan, sing pinggir-pinggir tulak tolak colong jupuk winaleran”



(Oleh sebab itu carilah satria itu yatim piatu, tak beranak saudara sudah lulus weda Jawa hanya berpedoman trisula, tajamnya trisula pucuk sangat tajam membawa maut atau utang nyawa, yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain, yang kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan).



Prediksi saya pada bait 164 dan 168 menggambarkan bahwa gaman/pusaka yang sebelum ditemukan memang yatim piatu, pusaka tersebut memang merupakan gaman/pusaka klangenan/ageman/putra kesayangan almarhum Sunan Lawu. Keistimewaan pusaka tersebut bersemayam 3 nur/dewa yaitu Kyai Brajamusthi, Kresna, Herumurti (asal kata Dewa adalah dari kata Div yang artinya cahaya), mampu mengerahkan jin, setan, kumara, prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo membantu orang Jawa/bangsa Indonesia.

Ciri-ciri fisik, pucuknya sangat tajam membawa maut, tengahnya pantang merugikan orang lain, dan pinggir-pinggirnya menolak pencurian dan kejahatan; Tajamnya tri tunggal nan suci; benar, lurus, jujur dan didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong (di pangkal pusaka tersebut terdapat 2 bocah kembar yang digambarkan diiringi Sambdopalon dan Noyogenggong. 2 bocah kembar ini lahir di bawah pohon beringin (lambang/pamor pohon beringin).

Untuk membuka misteri tentang gaman/pusaka tersebut telah kroscek dengan melakukan dialog batin dengan Sunan Lawu. Diakui oleh beliau bahwa pusaka tersebut memang merupakan putra kinasih (klangenan) beliau, bait 159 disebutkan seperti manusia, “ana dewa ngejawantah apengawak manungsa”) bukankah di diri masing-masing manusia terdapat 4 nur hitam, merah, kuning dan putih yang merupakan nafsu-nafsunya manusia.

Hasil deteksi, ciri-ciri pusaka terssbut telah sesuai sebagaimana digambarkan dalam kitab Musarar Jayabaya yakni bersemayam didalam pusaka 3 warna nur/cahaya yaitu Merah, Biru dan Hijau, yaitu Kyai Brajamusthi, Kresna dan Herumurthi (bait 164 ”Putra kinasih swargi Sunan Lawu, ya Kyai Brajamusthi ya Kresna ya Herumurti”), mempunyai sifat yang suci, bener, jejeg/lurus, jujur (“landhepe triniji suci, bener, jejeg, jujur”).

Spesifikasi yang lain diterangkan pada bait 164, di pangkal pusaka, tepatnya dibawah gambar pohon Beringin, terdapat 2 (dua) bocah kembar sebagai Sabdopalon & Noyogenggong (bait 164 “didampingi Sabdopalon & Noyogenggong”), dipisahkan oleh pamor/gambar, seperti rumah Merpati susun tiga (bait 161 “arupa pagupon Dara tundha tiga”).

Jika melihat ciri-ciri spesifikasi mengenai pusaka keris tersebut mengarah kepada jenis pusaka Oumyang Jembe. Jumlah jenis pusaka ini hasil dialog dgn Pangeran Diponegoro ada 27 buah (1 peti), tetapi hanya satu ini yang telah muncul dan terdapat 3 (tiga) nur dan yang dicari-cari oleh orang yang mengerti sejarah pusaka ini yang juga pusaka andalan kerajaan besar yang mempunyai wilayah terluas Sriwijaya & Majapahit, gaman ini yang disebut sebagai Satrio Piningit.

Salah satu faktor pada bait 164 gaman ini dikatakan sebagai pusaka (putra) kesayangan (kinasih) Sunan Lawu karena pusaka ini mengandung makna filosofis, sejarah & daya tuah yang luar biasa serta dipahat dalam lambang-lambang/pamor timbul. Lambang pohon Beringin yang terdapat pada pusaka tersebut menggambarkan menanam pohon bersama (Majapahit & Pajajaran yang diibaratkan sebagai satu pohon) yang akhirnya berpisah. Sedangkan Majapahit & Pajajaran dipahatkan dengan lambang 2 (dua) bocah kembar terletak di kiri–kanan, kitab Musarar Jayabaya menyebutnya sebagai diiringi Sabdopalon &Noyogenggong atau 2 (dua) bocah kembar yang lahir di bawah pohon cemara.

Sabdopalon sebagai sebuah petuah orang tua kepada anak keturunannya Raden Wijaya pendiri Majapahit (yang juga keturunan darah Sunda) mendapat wejangan dan disumpah, kelak jika nanti negaranya menjadi negara besar & luas wilayahnya, janganlah sekali-sekali menyerang Sunda/Pajajaran karena masih saudara sendiri. Dan janji /sumpah tersebut telah dipenuhi oleh Raden Wijaya.

Waktu pun terus berjalan, Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk mencapai puncak jaman keemasan dengan wilayah jangkauan kekuasaan Majapahit sangat luas. Didorong oleh ambisi Maha Patih Gajahmada mepersatukan nusantara, menganggap belum lengkap jika Sunda belum ditaklukan, maka terjadilah peristiwa perang Bubad. Atas peristiwa tersebut berarti Raden Wijaya dan keturunannya telah melanggar sumpah dan nasehat kakeknya.

Akibat pelanggaran tersebut, setelah wafatnya raja Hayam Wuruk, sinar kejayaan Majapahit berangsur-angsur memudar, sampai pada generasi Prabu Brawijaya V kerajaan Majapahit sirna ditelan bumi. Begitu juga (berdasarkan babad sunda) kerajaan Pajajaran/sunda juga sama sirna ditelan bumi, tidak berbekas (tan kasat mata). Sejak peristiwa tersebut jaman Kalajaya (jaman hunggul) telah berubah menjadi jaman kalabendu (jaman sengsara dan angkara murka), fitrah manusia sejati yang mengedepankan budi pakartai akhlak mulia/luhur (bener, lurus/eling dan jujur) telah luntur/rusak akibat pengaruh prabawa kutukan bumi jawa (kalabendu jawa).

Gejalanya dimulai jaman Kalabendu ini, menurut Serat Darmogandul ditandai datangnya orang-orang sebrang seperti dari Arab, kerbau bulai (eropa) ke bumi nusantara dan sejak saat itu burung kuntul ada kuncirnya. Dahulu sebelum jaman Kalabendu jawa terjadi belum tumbuh kuncirnya. Maknanya, melambangkan manusia jawa telah berubah sifat-sifat asli sebagai orang jawa yang sejati, seperti, hilangnya budi pakarti manusia jawa yang luhur, tidak tahu balas budi baik orang lain, jika ditolong ia membalas kejelekan dari belakang ia menohok, suka berbohong, suka memfitnah. Menghalalkan segala cara.

Diceritakan sejak Wafatnya Raden Hayam Wuruk, maka sinar kejayaan Majapahit mulai memudar. Pusaka tersebut oleh Mpu pembuatnya yaitu Mpu Gedeng Supo nama lain dari Mpu Tantular/Dang Hyang Angsokanatha di larung ke laut. Dengan harapan kelak akan ditemukan kembali dan dipegang oleh orang yang ditakdirkan untuk memegang pusaka ini. Dengan diketemukan kembali pusaka ini itulah tanda jaman kalabendu akan segera berakhir dan menuju jaman kalisuba (jaman kemakmuran). Sunda/Pajajaran memaafkan, Majapahit dan Pajajaran bersatu kembali, nusa jaya lagi.

Sebagaimana kita ketahui Mpu Tantular/Dang Hyang Angsokanatha adalah penyusun Kakawin Sutasoma yang didalamnya tercantum Bhineka Tunggal Ika adalah salah satu penasehat Raja Hayam Wuruk, sedangkan cucunya yaitu Mpu Dwijendra/Dang Hyang Nirartha/Penanda Sakti Wuwu Rawuh/Tuan Semeru adalah salah satu penasehat Prabu Brawijaya V atau Sunan Lawu. Keduanya mempunyai keterkaitan dengan masalah rahasia pusaka tersebut.

Pusaka pengayom nusantara yang dilarung ke laut tersebut oleh Mpu pembuatnya, oleh orang yang mengerti rahasia, pusaka ini dicari-cari dan bahkan konon PB X juga ikut mencari pusaka ini dengan mengadakan sayembara, barang siapa menemukan pusaka ini akan diberi hadiah serta dijadikan abdi dalem kraton, karena beliau merasa tidak kuat ketempatan pusaka ini akibat gawatnya prabawa pusaka. Pernah ada seorang nelayan yang menemukan pusaka ini tetapi nelayan tersebut dicari-cari tidak ditemukan menghilang di laut.

Sebagaimana harapan Mpu Tantular, kelak pusaka ini ditemukan dan orang yang ketempatan pusaka ini tentunya pasti seorang yang waskita dalam pandangan spiritual dan tajam mata bhatinnya serta mampu memahami makna pusaka ini. Secara filosifis tahu dan mampu tatacara menyatukan kembali Majapahit dan Pajajaran melalui pusaka ini.

Pemahaman saya tentang gaman/pusaka memang belumlah sempurna, karena belum lama mengerti tentang pusaka, saya mendapatkan referensi dari Al-Qur’an yang bisa merujuk kepada pusaka/keris pada Surah Al-Hadid 25 yang artinya :

“dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang sangat dan berbagai manfaat bagi manusia. Dan Allah hendak mengetahui siapa yang menolongnya dan rasul-rasul-Nya biarpun tidak kelihatan”.

Penelurusan tentang tokoh Mpu Tantular/Dang Hyang Angsokanatha penasehat Raja Hayam Wuruk menguasai wilayah Timur dan Tengah diibaratkan sebagai ilmunya, sedangkan Mpu Dwijendra/Dang Hyang Nirartha/Penanda Sakti Wuwu Rawuh/Tuan Semeru penasehat Sunan Lawu menguasai Barat, diibaratkan menguasai asset, atau diibaratkan Majapahit sebagai ilmunya sedangkan Sunda/Pajajaran sebagai pemilik assetnya. Mungkin disinilah letaknya, jika Majapahit (Raja Hayam Wuruk) meminang Sunda/Pajajaran (Dyah Pitaloka) yang diartikan perempuan indentik dengan harta, artinya setelah Majapahit kehilangan Sunda/Pajajaran sama saja ia kehilangan asset, ini yang tidak disadari oleh pejabat Majapahit karena sesungguhnya ada hubungan bhatin yang sangat kuat diantara keduanya. Sebagai contoh lambang/logo kemakmuran berbentuk “padi & kapas” yang terdapat di logam emas adalah milik Sunda/Pajajaran, dan lambang padi kapas juga tergambar jelas di pucuk/ujungnya gaman/pusaka yang dibuat Mpu Tantular atau bahkan pada lambang negara Burung Garuda. Hubungan bhatin terlihat dari wajah polos raja Sunda/Pajajaran yang tidak terpikir akan terjadi insiden di jalan. Demikian juga Raja Hayam Wuruk juga sangat terpukul setelah peristiwa tersebut, ia sakit dan wafat. Periswita tersebut juga membuat Mpu Tantular juga ikut terpukul, maka sebagai konsekwensinya pusaka buatannya dilarung/dibuang ke laut.

Cobalah simak Wangsit Siliwangi :

“Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong, dan bahkan berlebihan kalau bicara.”

Pada uraian di atas pernah saya kupas mengenai sejarahnya jaman Kalabendu sebagai akibat dari penghianatan Majapahit kepada Sunda/Pajajaran yaitu pada peristiwa Bubad. Hal ini terjadi karena generasi penerus utamanya para pejabat Majapahit tidak memahami sejarah dari leluhur terdahulunya. Karena dalam pikiran pejabat Majapahit tinggal Sunda yang belum di pangkuan Majapahit. Akhirnya terjadilah peristiwa yang menyakitkan hati masyarakat Sunda/Majapahit yang sesungguhnya kedua kerajaan adalah memang saudara sehidup dan semati.

Namun pada akhirnya kelak Sunda/Pajajaran akan memaafkan segala kekhilafan Majapahit itu terlihat dari kalimat “Orang Sunda dipanggil-panggil, orang Sunda memaafkan Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi …..” kita simak di bawah ini.

Wangsit Siliwangi :

“Dengarkan! Jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus. Disusul tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang Sunda dipanggil-panggil, orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil ratu adil yang sejati”.

“Tapi ratu siapa? dari mana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala”.

Berdasarkan kutipan Wangsit Siliwangi, jika Sunda telah memaafkan Majapahit, maka tandanya adalah Gunung Gede meletus disusul oleh 7 (tujuh) gunung. Yang menjadikan pertanyaan apakah Gunung Gede benar-benar meletus? Atau hanya sebuah siloka (lambang)?

Prediksi saya, kalimat tersebut hanya siloka dari pada mengarah kepada bencana alam yang banyak menelan korban dan tidak ada korelasi (kaitannya) antara bencana alam gunung meletus dengan negara bersatu kembali, nusa jaya lagi? Atau kah memang sungguh-sungguh gunung tersebut memang meletus?

Jangka Jayabaya Selebare Raja Kuning Babon Asli Kagungan Dalem Bandara Pangeran Harya Suryawijaya ing Ngayugyakarta, menerangkan bahwa Ratu Adil adalah seorang yang bersifat rendah hati tidak memiliki pamrih, bersedia mengeluarkan hartanya. Sedangkan rahasia menyangkut lokasi asset yang dimaksud oleh para leluhur dikatakan sebagai Lebak Cewene oleh Prabu Siliwangi adalah juga Gunung Perahu menurut Jayabaya, dan tempatnya di Semarang-Tembayat seperti juga telah diungkapkan oleh Jayabaya. Dengan ciri-ciri terdapat 2 sumber air besar, 3 pohon beringin dan keberadaan watu gilang. Hampir semua gunung yang mengandung rahasia mempunyai ciri-ciri khusus ini dari ujung kulon sampai ke timur.

Penelusuran keberadaan asset-asset nusatara telah disinggung oleh syair-syair Wangsit Siliwangi.

Syair-syair Wangsit Siliwangi sebagai berikut :

“… selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar.

Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong dan bahkan berkelebihan bicara”

“Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutup pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau, bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon.

Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satunya datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah, setiap waktu akan berulang, itu dan itu lagi.”

Kita kembali kepada Kitab Musarar Jayabaya untuk melihat bentuk perilaku manusia pada jaman kalabendu jawa (jaman sengsara) bentuk penyimpangan perilaku yang terjadi di masyarakat :

1. Sungguh zaman gonjang-ganjing menyaksikan zaman gila tidak ikut gila tidak dapat bagian, yang sehat pada olah pikir, para petani dibelenggu, para pembohong bersuka ria (bait 142).

2. Raja tidak menempati janji, orang makan sesamanya, kayu gelondongan dan besi juga dimakan katanya enak rasa kue bolu, malam hari semua tak bisa tidur (bait 143).

3. Yang gila dapat berdandan, yang membangkang semua dapat membangun rumah, gedung-gedung megah (bait 144).

4. Orang berdagang barang makin laris, tapi hartanya makin habis, banyak orang mati kelaparan disamping makanan, banyak orang berharta namun hidupnya sengsara (bait 145).

5. Orang waras & adil hidupnya memprihatinkan & terkucil, yg tidak dapat mencuri dibenci, yg pintar curang jadi teman, orang jujur semakin tak berkutik, orang salah makin pongah, banyak harta musnah tak jelas larinya, banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab (bait 146).

6. Bumi semakin lama semakin sempit, sejengkal tanah kena pajak, wanita memakai pakaian laki-laki (bait 147).



Akibat dari perilaku tersebut diatas mempengaruhi keseimbangan alam seperti :

1. Banjir bandang dimana-mana, gunung meletus tidak dinyana-nyana (bait 141).

2. Datangnya jaman penuh bencana di nusantara seperti tanah pecah merekah, gempa 7 kali sehari, dan bencana macam-macam.

3. Hujan salah musim.



Jaman edan akan berakhir, Sabdopalon yang termasyur dan menanggung malu, akan tampil kembali untuk membantu nusantara agar bermoral benar, lurus dan jujur (trisula weda) dengan ditandai munculnya putra kinasih swargi Sunan Lawu atau Putra Bathara Indra yang sulung.

Jika nanti jaman sudah berubah, barang siapa melanggar Sabdopalon maka konsekwensinya :

1. Banyak orang digigit nyamuk mati, digigit semut mati, banyak suara aneh tapan rupa, pasukan makluk halus sama-sama berbaris berebut garis yang benar, tak kelihatan, tak berbentuk yang memimpin putra Bathara Indra, bersenjatakan trisula weda, para asuhannya menjadi perwira perang, jika berperang tanpa pasukan sakti mandraguna tanpa aji-aji (bait 162).

2. Yang membantah pasti mati (bait 166).



Jika jaman sudah berubah menjadi jaman berakhlak trisula weda yang telah diwejang Sabdopalon maka akan terwujud jaman kemakmuran dan Indonesia akan segera menjadi negara mercusuar dunia, harta berlimpah muncul dimana-mana.

Prediksi saya perubahan jaman (wolak-waliknya jaman) dari jaman Kalabendu ke jaman Kalisuba dimulai awal bulan Suro tahun ini, yang hampir bertepatan bersamaan tahun baru Masehi, dapat disimak pada Bait 165 Pendhak Suro sambutlah kumara, yang sudah tampak menebus dosa dihadapan sang Maha Kuasa (“Pendhak Sura nguntapa kumara kang wus katon nimbus dosane kadhepake ngarsaning sang kuasa……”).



Disamping mengandung cerita sejarah, pusaka kesayangan Sunan Lawu ini juga :

1. Menguasai seluruh ajaran (ngelmu) bait 164

2. Mampu memberi perintah & mengerahkan jin, setan, kumara, prewangan dan para lelembut untuk bersatu padu membantu masyarakat Indoensia (bait 164).

3. Bergelar pangeran perang, dapat mengatasi keruwetan orang banyak (bait 163)

4. Setiap bulan Sura nguntapake kumara (bait 165)

5. Ludahnya ludah api, sabdanya sakti (terbukti) yang membantah pasti mati, orang tua, muda maupun bayi, orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi, garis sabdanya tidak akan lama (bait 166)

6. Pandai meramal seperti dewa, dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda, tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati, bijak, cermat dan sakti, mengerti sebelum sesuatu terjadi, mengerti garis hidup setiap umat, tidak khawatir tertelan zaman (bait 167).

7. Sudah lulus weda Jawa (bait 168).



Serat Centhini, pupuh 258.

“Saka marmaning Hyang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenenge nata, ing kono raharjaning, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka”

(Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murkapun mereda).



“Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji-wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya,adenge tanpa sarana, nagdam maksuming srinata, sonya rutikedatonnya”

(kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti munculnya secara ghaib, yang mempunyai sifat-sifat utama (note; yang diterjemahkan banyak pihak sabagai Satrio Piningit)



“Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita”

(datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dlm hidupnya, yg oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yg berbudi luhur)



“Luwih adil paraarta, lumuh maring brana-arta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangkan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirrullah prajuritnya, tungguling dzikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna”.

(Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dgn harta benda, bernama Sultan Erucakra, tdk ketahuan asal kedatangannya, tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya kepercayaan/keimanan thdp Allah SWT prajuritnya dan senjatanya adalah semata-mata dzikir, musuh semua bisa dikalahkan)



“Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagad sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahira, pitung reyal ika, tan karsa lamun luwiha”

(Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan Negara dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterimanya)



“Bumi sakjung pajegira, among sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda”

(Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang & pangan)



“Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak wana, panjenenganin sang nata”

(Tidak ada penjahat, semua sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil bijaksana).

12 komentar:

  1. Wow, sejarah nusantara memang ha ada habisnya untuk di bahas :)
    nice gan

    BalasHapus
  2. ALKITAB MAZMUR 2
    Satria Piningit Raja Yang Diurapi TUHAN
    2:1 Mengapa riuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?
    2:2 Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama mengabdi pada TUHAN dan Raja yang diurapi-Nya:
    2:3 "Marilah kita memutuskan belenggu perseteruan dan membuang tali perbedaan dari pada kita!"
    2:4 Satria Piningit, yang bersemayam di takhta, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka.
    2:5 Maka berkatalah TUHAN kepada mereka dalam Alkitab dan mengejutkan mereka dalam kehangatan-Nya:
    2:6 "Akulah yang telah melantik Raja Satria Piningit-Ku di Indonesia, negeri-Ku yang kudus!"
    2:7 TUHAN menceritakan tentang ketetapan; TUHAN berkata kepada Satria Piningit: "Anak-Ku Satria Piningit! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.
    2:8 Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa Kuberikan kepada Satria Piningit menjadi milik pusaka Satria Piningit, dan ujung bumi menjadi kepunyaan Satria Piningit.
    2:9 Engkau harus membina mereka dengan damai, mempersatukan mereka seperti tukang periuk membuat tembikar."
    2:10 Oleh sebab itu, hai raja-raja dunia, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!
    2:11 Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah langkah kaki Satria Piningit dengan gembira,
    2:12 supaya Satria Piningit jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala." Berbahagialah semua orang yang berlindung pada Satria Piningit!"

    BalasHapus
  3. ALKITAB ZAKHARIA 9
    Raja Satria Piningit Di Indonesia
    9:9 Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai putera puteri Indonesia, bersorak-sorailah, hai putera puteri Indonesia! Lihat, raja Satria Piningit datang kepadamu; Satria Piningit adil dan jaya. Satria Piningit lemah lembut.
    9:10 Raja Satria Piningit melenyapkan kereta-kereta dan kuda-kuda perang; busur perang dilenyapkan, dan Satria Piningit memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaan Satria Piningit terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai sampai ke ujung bumi.(Puncak gunung)

    BalasHapus
  4. ALKITAB ZAKHARIA 6
    Kerajaan Sang Tunas Di Indonesia
    6:12 Katakanlah : Beginilah firman TUHAN semesta alam: Inilah orang yang bernama Sang Tunas Satria Piningit. Satria Piningit bertunas dari Indonesia dan Satria Piningit mendirikan bait TUHAN.
    6:13 Satria Piningit lah yang mendirikan bait TUHAN, dan Satria Piningit lah yang mendapat keagungan dan duduk memerintah di atas takhta. Di sebelah kanan ada para Imam dan permufakatan tentang damai ada di antara mereka.
    6:14 Dan mahkota itu tetap tinggal dalam bait TUHAN sebagai tanda peringatan akan Satria Piningit.
    6:15 Orang-orang dari jauh datang untuk turut membangun bait TUHAN; maka kamu akan mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus Satria Piningit kepadamu. Dan hal ini terjadi, apabila kamu dengan baik-baik mendengarkan Firman TUHAN Allahmu."

    BalasHapus
  5. ALKITAB YESAYA 4
    Indonesia Disucikan Dan Dilindungi
    4:2 Pada waktu itu Sang Tunas Satria Piningit yang ditumbuhkan TUHAN menjadi kepermaian dan kemuliaan, dan hasil tanah menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi orang Indonesia yang terluput bencana.
    4:3 Dan orang yang tinggal di Indonesia dan yang tersisa disebut Kudus, yakni setiap orang di Indonesia yang tercatat untuk beroleh hidup,
    4:4 apabila TUHAN telah membersihkan kekotoran Indonesia dan menghapuskan segala noda darah Indonesia dari tengah-tengahnya dengan Satria Piningit yang mengadili dan yang membina.
    4:5 Maka TUHAN menjadikan di atas seluruh wilayah Indonesia dan di atas setiap pertemuan yang diadakan di situ segumpal awan pada waktu siang dan segumpal asap serta sinar terang yang menyala-nyala pada waktu malam, sebab di atas semua itu ada kemuliaan TUHAN sebagai tudung
    4:6 dan sebagai pondok tempat bernaung pada waktu siang terhadap panas terik dan sebagai perlindungan dan persembunyian terhadap angin ribut dan hujan.

    BalasHapus
  6. ALKITAB IBRANI 4-5
    Satria Piningit Sebagai Imam Besar Indonesia
    4:14 Karena sekarang Indonesia mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Satria Piningit, Anak Allah, baiklah berpegang teguh pada pengakuan iman.
    4:15 Sebab Imam Besar yang Indonesia punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan manusia, sebaliknya sama dengan manusia, sedangkan Satria Piningit telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.
    5:1 Sebab setiap imam yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan manusia dengan manusia, supaya manusia memberi persembahan dan korban
    5:2 Imam harus dapat mengerti orang yang jahil dan orang yang sesat, karena imam sendiri penuh dengan kelemahan,
    5:3 yang mengharuskan untuk memberikan persembahan dan korban, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi diri sendiri.
    5:4 Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi diri sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Imam Besar.
    5:5 Demikian pula Satria Piningit tidak memuliakan diri sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Allah yang berfirman kepada-Nya: " Satria Piningit Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini",
    Sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas : " Katakan Allah itu Esa. Allah tempat memohon. Tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan memperanakkan Satria Piningit. Bagi Dia tiada satupun yang memadaiNya!"
    5:6 sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: "Satria Piningit adalah Imam Besar untuk selamanya, menurut peraturan Melkisedek."
    5:7 Dalam hidup sebagai manusia, Satria Piningit telah mempersembahkan doa pujian dan permohonan dan keluhan kepada Allah, yang sanggup selamatkan dari maut, dan karena kesalehan Satria Piningit, Allah telah dengarkan.
    5:8 Dan sekalipun Satria Piningit adalah Anak Allah, Satria Piningit menjadi taat setelah belajar dari apa yang telah diderita umat,
    5:9 dan sesudah Satria Piningit mencapai kesempurnaan, Satria Piningit menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada Satria Piningit,
    5:10 dan Satria Piningit dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.
    4:16 Sebab itu marilah dengan penuh sukacita menghampiri Takhta kasih karunia, supaya menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan pada waktunya.

    BalasHapus
  7. ALKITAB IBRANI 7 11-18
    Satria Piningit Adalah Imam Yang Lebih Tinggi Daripada Presiden
    7:11 Karena itu, andaikata oleh Imamat telah tercapai kesempurnaan--sebab karena imamat itu rakyat telah menerima hukum Pilpres -apakah sebab masih perlu seorang lain ditetapkan menjadi Imam Besar menurut peraturan Melkisedek dan yang tentang Imam Besar tidak dikatakan menurut peraturan Pilpres?
    7:12 Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendiri akan berubah pula hukum Pilpres itu.
    7:18 Memang hukum Pilpres yang dikeluarkan dahulu dibatalkan, kalau hukum Pilpres itu tidak mempunyai kekuatan dan karena itu hukum Pilpres tidak berguna,
    7:15 Dan hal itu jauh lebih nyata lagi, jikalau ditetapkan seorang Imam lain menurut cara Melkisedek,
    7:16 yang menjadi Imam bukan berdasarkan peraturan Pilpres, tetapi berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa.
    7:19 --sebab peraturan Pilpres sama sekali tidak membawa kesempurnaan --tetapi sekarang timbul pengharapan yang lebih baik, yang mendekatkan manusia kepada Allah.
    7:13 Sebab Imam, yang dimaksudkan di sini, termasuk suku Jawa; dari suku ini tidak ada seorangpun yang pernah melayani Satria Piningit di Pilpres.
    7:14 Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Satria Piningit berasal dari suku Jawa dan mengenai suku ini Musa tidak pernah mengatakan suatu apapun tentang imam-imam.
    7:17 Sebab tentang Satria Piningit diberi kesaksian: "Engkau adalah Imam untuk selamanya, menurut peraturan Melkisedek."
    7:20 Dan sama seperti hal ini tidak terjadi tanpa sumpah--memang Satria Piningit telah menjadi Imam Besar tanpa sumpah,
    7:21 tetapi Satria Piningit dengan disumpah, diucapkan oleh Tuhan yang berfirman kepada-Nya: "Tuhan telah bersumpah dan Tuhan tidak sesal: Satria Piningit adalah Imam untuk selamanya"
    7:22 demikianlah Satria Piningit adalah jaminan dari suatu perjanjian Imamat yang lebih kuat.
    7:23 Dan dalam jumlah yang besar mereka dukung Satria Piningit yang telah menjadi Imam Besar, karena mereka dicegah dari maut untuk itu Satria Piningit tetap menjabat Imam Besar.
    7:24 Tetapi, karena Satria Piningit tetap selamanya, Imamat Satria Piningit tidak dapat beralih kepada orang lain, sehingga Imamat Satria Piningit seumur langit.
    7:25 Karena itu Satria Piningit sanggup juga selamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Satria Piningit datang kepada Allah. Sebab Satria Piningit hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.
    7:26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang diperlukan: yaitu yang saleh tanpa salah, tanpa noda yang terpisah dari orang bernoda, tanpa partai yang terpisah dari orang berpartai dan lebih tinggi dari pada tingkat kuasa apapun,
    7:27 yang tidak seperti imam lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk diri sendiri dan sesudah itu barulah untuk umatnya, beda hal itu dengan yang telah dilakukan Satria Piningit satu kali untuk selamanya, ketika Satria Piningit mempersembahkan diri sendiri sebagai Imam Besar.
    7:28 Sebab Hukum Imamat Taurat menetapkan orang yang diliputi Tuhan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada Hukum Imamat Taurat, menetapkan Anak Allah, Satria Piningit yang telah menjadi sempurna sampai selamanya. Amiin!

    BalasHapus
  8. ALKITAB YESAYA 43 22-28
    Dosa Pilpres Indonesia Diampuni
    43:22 "Sungguh, engkau tidak memanggil Aku, hai Indonesia, dan engkau tidak bersusah-susah Pilpres karena Aku, hai Indonesia
    43:23 Engkau tidak membawa domba korban bakaranmu bagi-Ku, dan tidak memuliakan Aku dengan korban sembelihan. Aku tidak memberati engkau dengan menuntut korban sajian atau susahi engkau dengan menuntut kemenyan.
    43:24 Engkau tidak membeli tebu wangi bagi-Ku dengan uang atau mengenyangkan Aku dengan lemak korban sembelihan. Tetapi engkau memberati Aku dengan dosa Pilpresmu, engkau susahi Aku dengan kesalahan Pilpresmu.
    43:25 Aku, Akulah yang menghapus dosa Pilpres pemberontakanmu oleh karena Satria Piningit dan Aku tidak mengingat-ingat dosa Pilpresmu.
    43:26 Ingatkanlah Aku, marilah berperkara, kemukakanlah segala sesuatu, supaya engkau nyata benar!
    43:27 Bapa leluhurmu yang lalu sudah berdosa, dan jurubicaramu telah memberontak terhadap Aku.
    43:28 Jadi Aku terpaksa menajiskan pemimpin-pemimpin tempat kudus, dan terpaksa serahkan untuk ditumpas dan untuk dinista."

    BalasHapus
  9. ALKITAB ZAKHARIA 9 11-17
    Indonesia Dipulihkan Kembali
    9:11 "Mengenai Indonesia, oleh karena Darah Perjanjian-Ku dengan Satria Piningit, Aku melepaskan orang-orang tahanan dari lobang yang tidak berair.
    9:12 Kembalilah ke kota bentengmu, hai orang tahanan yang penuh harapan! Pada hari ini juga Aku memberitahukan: Aku memberi ganti kepadamu dua kali lipat!
    9:13 Sebab Aku melentur Satria Piningit bagi-Ku, busur Kuisi dengan Firman-Ku, dan Aku mengayunkan Satria Piningit terhadap anak-anakmu, hai Indonesia, dan Aku memakai Satria Piningit seperti pedang seorang pahlawan".
    9:14 TUHAN menampakkan diri kepada orang Indonesia, dan Satria Piningit-Nya melayang keluar seperti kilat. Dan Tuhan ALLAH meniup sangkakala dan berjalan maju dalam angin badai dari selatan.
    9:15 TUHAN semesta alam melindungi mereka, dan mereka menghabisi dan mengindahkan firman Tuhan. Mereka minum Darah Perjanjian seperti minum anggur dan menjadi penuh seperti bokor siraman pada penjuru mezbah.
    9:17 Sungguh, alangkah baik itu dan alangkah indah! Teruna Indonesia bertumbuh pesat karena gandum, dan karena anggur merah.
    9:16 TUHAN, Allah Indonesia, selamatkan mereka pada hari itu; terhadap kawanan domba umat-Nya itu, sungguh, orang Indonesia seperti permata-permata mahkota yang berkilap-kilap, demikianlah orang Indonesia di tanah TUHAN.

    BalasHapus
  10. ALKITAB ZAKHARIA 6
    Kerajaan Sang Tunas di Indonesia
    6:9 Datanglah firman TUHAN berbunyi:
    6:10 "Pergilah pada hari ini dan pungutlah persembahan dari pihak orang-orang, semua orang yang sudah datang kembali,
    6:11 pungutlah perak dan emas, buatlah mahkota dan kenakanlah mahkota itu pada kepala Imam Besar Satria Piningit;
    6:12 Katakanlah : Beginilah firman TUHAN semesta alam: Inilah orang yang bernama Sang Tunas Satria Piningit. Satria Piningit bertunas dari Indonesia dan Satria Piningit mendirikan bait TUHAN.
    6:13 Satria Piningit lah yang mendirikan bait TUHAN, dan Satria Piningit lah yang mendapat keagungan dan duduk memerintah di atas takhta. Di sebelah kanan ada para Imam dan permufakatan tentang damai ada di antara mereka.
    6:14 Dan mahkota itu tetap tinggal dalam bait TUHAN sebagai tanda peringatan akan Satria Piningit.
    6:15 Orang-orang dari jauh datang untuk turut membangun bait TUHAN; maka kamu akan mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus Satria Piningit kepadamu. Dan hal ini terjadi, apabila kamu dengan baik-baik mendengarkan suara TUHAN Allahmu."

    BalasHapus

  11. "apeparap pangeraning prang
    tan pokro anggoning nyandhang
    ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang
    sing padha nyembah reca ndhaplang,
    cina eling seh seh kalih pinaringan sabda hiya gidrang-gidrang"
    Berjuluk pangeran perang
    Berpakaian seadanya tapi bisa menyempurnakan lagi kristen menjadi kristen yang sempurna
    orang-orang buddhist sadar inilah yang jutaan tahun kelak akan lahirlagi sebagai Metteya Buddha
    Dari sikap takut menjadi berbondong-bondong menunggu perintah perang ratu adil

    "tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh
    hiya siji iki kang bisa paring pituduh
    marang jarwane jangka kalaningsun"
    Air brajamusti mengalir kemana-mana ditubuhnya
    beginilah jika saya mengutus orang menjalankan ramalan saya

    "pendhak Sura nguntapa kumara
    kang wus katon nembus dosane
    kadhepake ngarsaning sang kuasa
    isih timur kaceluk wong tuwa
    paringane Gatotkaca sayuta"
    tiba suro habis semua dosanya
    masih muda tapi seperti sudah tua
    hartanya banyak sekali

    "nglurug tanpa bala
    yen menang tan ngasorake liyan
    hiya iku momongane kaki Sabdopalon
    sing wis adu wirang nanging kondhang"
    Menyerang orang ramai sendirian saja
    Saat menang tidak merendahkan musuhnya
    Itulah asuhannya Semar
    yang sudah diterpa masalah tapi akhirnya terkenal

    ___________________________________________

    "Ratu adil iku kanjeng Nabi Isa putrane betara indra kang pembayun,
    jumeneng ratu pinandhita tunjung putih semune pundak semungsang, kasbut
    sultan herucakra. Akedaton ing tengah-tengahing bumi mataram,
    kadherekake Sabda Palon lan Naya Genggong." ("Ratu adil itu Nabi
    Isa, bernama satria pinandhita satria piningit, berjuluk sultan
    herucakra, putranya Yahweh/Odin/Zeus/Indra paling sulung. Tinggal di
    yogyakarta saat ini, didampingi Semar dan Narada. 'Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: 'Semua malaikat Yahweh harus menyembah Dia.' - Ibr 1:6 Injil") - Jayabaya

    Kelahirankembali Wild Bill Hickock, Jesus (Caesarion/Ptolemy XV), Leonardo da Vinci, Solomon, Karna, Parikshit, Kian Santang, Damarwulan.

    BalasHapus
  12. Q: Siapakah Ratu Adil?
    A: Pantun Bogor, "ku sanghyang batara kala, turun jadi budak angon"
    Serat Yasadipura, "tukule parikesit tan busana narendra utawa ksatriyan prajurit."
    Serat Jayabaya, "putrane batara indra kang pembayun hiya iku buda wekasan kanjeng nabi isa."
    Injil, "Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: 'Semua malaikat Yahweh harus menyembah Dia."
    Uga Wangsit Siliwangi, "papay ku dia lacak Ki Santang!"
    Ratu Adil adalah orang yang sewaktu di surga bernama Batara Kala atau Sudharshan Chakra. Ia adalah anak Indra/Yahweh tersulung, yang jutaan tahun lagi akan lahir lagi ke bumi sebagai Metteya Buddha. Selama hidup di bumi ia pernah hidup sebagai berbagai tokoh diantaranya Kian Santang putra Prabu Siliwangi, Parikesit yang sebelumnya hidup sebagai Karna, serta ia juga adalah Nabi Sulaiman, Adam, dan Isa.

    Q: Tempat tinggal Ratu Adil membingungkan, ada ramalan serat mengatakan di jawa barat tapi ada pula serat menyatakan di jawa timur?
    A: Setiap serat itu ada perbedaan tentang tempat tinggal karena sedang menyorot masa hidup ratu adil yang berbeda-beda, anak-anak, remaja, dan dewasanya.
    Uga Wangsit Siliwangi, "Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung!"
    Serat Jayabaya, "bumi mekkah denna lair."
    Serat Jayabaya Yogyakarta, "akedaton ing tengah-tengahing mataharam"
    Uga Wangsit Siliwangi, "Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal.geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!"
    Serat Jayabaya, "dunungane ana sikil redi Lawu sisih wetan wetane bengawan banyu."
    Serat Jayabaya Yogyakarta, "Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji"
    Ratu Adil lahir di daerah yang disebut bumi mekkah yaitu daerah yang bergejolak karena referendum yang dipimpin gus dur. Setelah dewasa ia pindah ke Yogyakarta, lalu pindah lagi ke Jawa Barat, dan akhirnya menetap di kaki Gunung Lawu di Ngawi, dimana ia dinyatakan berkraton dua yaitu satu di Jawa dan satu lagi di Arab. Saat itu ia telah pula menguasai dunia khilafah dunia yang ditinggal dengan kematian Imam Mahdi phase I. Ia lalu diangkat oleh masyarakat Arab sebagai Imam Mahdi phase II setelah diketahui ia adalah Isa.
    Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: Saya mendengar Nabi bersabda: “....Lantas Isa ibnu Maryam turun, maka pemimpin kelompok tersebut berkata, ‘Kemarilah, shalatlah sebagai imam kami!’ Maka Isa menjawab, “Tidak, sesungguhnya Allah telah menunjuk pemimpin lain (yaitu Imam Mahdi phase I) sebagai imam kalian. Aku bukanlah pemimpin umat ini.” Disini ia menyatakan bahwa ia bukan muslim tapi tetap menerima dijadikan Imam Mahdi, dimasa inilah terjadinya perang melawan Gog dan Magog.

    BalasHapus

Pengikut