Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 01 Mei 2012

PAHLAWAN KESANGAN




Pada saat aku tidur aku bermimpi, tapi mimpi itu seolah-olahnyata senyata-nyatanya hidup. Dalam mimpi itu aku juga bisa merasakan sakit saat di cubit maupun di tampar. Aku juga tak bisa bernafas saat ku tutup hidungku. Tapi anehnya aku sadar kalau itu bukan dan seberapapun aku berusaha bangun tapi seolah-olah ada yang menghalangiku untuk kedunia nyata yang ku inginkan.

Mungkin hampir satu jam lebih aku berusaha sadar dari mimpiku tersebut. Dengan baju entah dari mana ku pakai ini yang sangat ketat sehingga menunjukkan lekuk tubuhku aku meloncat, berlari dan berguling-guling untuk menyadarkanku dari mimpi. Tapi hasilnya nihil, aku masih berada di dunia mimpi. Baju biru itu seperti benar-benar menyatu dengan kulitku sehingga saat bererak baju itu ya tetap seperti semula, tetap seperti kulit yang sangat nyaman. Sehingga keringat yang seharusnya mengucur sama sekali tak ada.

Di dunia mimpi itu aku berada di ruangan yang sangat luas bahkan aku tak bisa melihat ujungnya karena terlalu luasnya. Ruanganya gelap tapi aku masih bisa melihat. Sedikit ada kabut putih di sana sini. Lantai tegelnya berwarna hitam dengan atap yang juga hitam. Tegelnya halus dan dingin seperti marmer. Mungkin kalau dipikir-pikir seperti berdiri di ruang angkasa yang tak ada bintang-bintang dan yang ada malah kabut putih.

Setelah capek aku berhenti dan tidur-tiduran di lantai yang dingin tersebut dan masih berpikir apa yang terjadi. Seperti mimpi biasa, kita tak tahu dari mana ujung awal muasal kita awal kita berada disini dan kapan kita kesiani dan tahu-tahu kita berada di sini. Mmpi tetap lah mimpi dan saat itu aku benar-benar sadar kalau ini hanya mimpi yang hidup. Pokoknya susah di jelaskan bentuk mimpi itu.

Dari arah kananku terdengar suara langkah seorang yang menggunakan sepatu fantofel. Aku tak tahu itu dari arah timur atau utara, selatan atau barat karena disana semua sudut terasa sama. Sura langkah sepatu itu makin mendekat tetapi akau masih belum bisa melihat siapa orang yang ada disana. Sambil menunggu langkah itu mendekat aku memejamkan mata. Aku berharap orang tersebut bisa menjelaskan semuanya.

Dalam mimpi itu aku dapat tertidur sangat nyenyak dan bangun saat aku melihat seorang kakek berjenggot putih dan berbaju putih di sampingku. Dia berdiri disampingku lalu mengucapkan salam, kubalas salamnya dan aku berdiri berhadapan denganya. Lalu seperti bisa seperti bertemu kawan lama kujabat tanganya. Tetapi saat ingin kulepas jabatan tangan tersebut sang kakak malam menjabat tangnku makin keras.

Di saat itu sang kakek berbicara padaku, “kutitipkan sebuah mata ketiga yang bisa melihat menembut baju, tembok bahkan bisa melihat sampai 3 km, gunakan baik-baik”.

Saat aku berusaha mencerna perkataan kakek tersebut aku terseret sebuat angin yang kencang yang mendorongku  ke belakang. Tanpa sempat bertanya ini itu pada sang kakek aku terbang melayang tak karuan mengikuti angin. Kulihat disana sini semuanya hitam dan gelap dan hanya sedikit kabut putih.  Dari kejahuan aku melihat sebuah lubang berwarana putih berbentuk seperti pusaran air yang bergerak. Sepertinya angin tersebut bersal dari pusaran tersebut. Lalau tubuhku masuk kedalam lubang putih yang seolah-olah menyeretku itu.

Setalah masuk kedalam lubang tersebut mataku terpejam dan saat ku buka mata aku sudah berada di dalam kamar kostku yang luasnya 3x2m. aku sadar tadi hanya mimpi dan aku sekarang sudah terbangun dari mimpi. Ku coba merenungi perkataan kakae yang ada di mimpiku itu tapi saat bangun aku sama sekali tak bisa mengingtanya.

Seperti biasanya pagi itu setelah sholat subuh aku tidur lagi dan baru bangun sekitar jam tujuh saat akan berangkat kuliah. Sehabis keluar kamar kuambil handuk yang tergantungan dan aku melangkah ke kamar mandi. Kulihat kamar madi sepertinya sedang di pakai. Dalam hati aku bertanya sapa orang yang sedang madi tersebut.

Kutatap beberapa detik pintu kamar mandi lalu tiba-tiba sereetttt….. seolah-olah kamat mandi itu kehilangan tembok dan pintunya sehingga aku bisa melihat si Toni sedang mandi. Toni yang berbadan gemuk itu sedang memaki sabun mandi dan menggosok perutnya yang seperti agar-agar. Lalu kulihat di bawah perutnya, masaalloh…… kulihat bulu-bulu disekitar pahnya dan mr.p nya. Sehabis itu kupejamkan mata sedentara lalu sreetttt….. kamar mandi itu kembali memiliki pintu dan dinding lagi sehingga aku tak melihat tubuh Toni yang bugil lagi.

Dari situ aku sadar aku memiliki sebuah kemampuan melihat benda-benda yang berada di suatau benda lain yang seharusnya tak terlihat oleh mata menjadi bisa terlihat oleh mata. Saat itu aku benar-benar bersukur akan kemempuan baruku ini. Aku berjanji akan menggunakan sebaik-baiknya.

Tiba di kampus aku bertemu dengan teman-temanku, kusapa mereka tetapi aku tak memberitahu apa yang telah terjadi padaku pada teman-temanku. Tak satupun yang tahu selain aku, itu janjiku. Pada saat perkulihanan pak Tora yang yang membosankan aku mencoba kemampuanku sejah apa. Ruang perkulihan yang berderet-deret seperti kereta tersebut bisa kulitat satu-persatu kegitanyanya tanpa aku harus melangkah. Mulai ruangan samping ruanganku yang sedang di ajar bu Warna, ujian di ruang berikutnya, lalu ruang yang dipakai jurusan lain hingga sampai ujung ruangan yang berupa kantin dapat kulihat. Padalah berpuluh-puluh tembok penghalanya tetapi aku masih bisa melihatnya.

Setelah perkulihan selesai aku menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku. Dari rak-rak buku yang ada di perpustakaaan tersebut aku bisa melihat kegitan-kegiatan di balik masing-masing rak buku. Mulai mahasiswa yang membaca, mengobrol hingga di rak paling ujung yang berisi buku ber bahasa asing yang jarang di kunjungi mahasiswa kulihat si Ani dan si Jono yang sedang berciuman dengan meranya. Setelah selesai mengembalikan buku aku menuju tempat mereka berdua. Adegan ciuman tersebut masih berlangsung.

Sambil melangkah pelan aku mendekati mereka. Dan “DARRR….!!!” Ku kagetkan mereka berdua dengan teriakanku. Si jono yang kelihatan alim itu tertunduk maliu melihat kelakuannya kepergok olehku. Setelah itu mereka ngajir keluar tanpa permisi padaku. Tak kusangka si Jono yang super duper alim tersebut mau melakukan hal seperti itu di tempat umum.

Setelah puas mengerjai mereka berdua aku pulang ke kost. Jam satu siang memang sangat panas dan enakan di kost menyalakan kipas angin, copot baju dan tidur. Saat sampai di kost kulihat karar-kamar kost tertutup entah penghuninya pergi atau sedang mengurung diri di kamar. Dengan kemapuanku kulihat masing masing kamar. Kulihat hampir semua kamar kosong tanpa penduduk dengan meninggalkan berbagai buku, baju, tas dan gitar berserakan di dalam kamar.

Hanya satu kamar yang berhuni yaitu milik si Ari. Kulihat Ari sedang melihat sebuah film dari leptopnya sambil tiduran. Tetapi aku sama sekali tak bisa melihat film yang di tontonya karena berada membelakangi pandanganku. Lalu aku masuk kamar dan siap-siap tidur siang. Kulirik lagi melewati tembok-tembok ke kamr Ari, kali ini layar leptop Ari menghadap ke arahku dan ari yang menghadap membelakangiku. Dari situ kulihat Ari melihat film biru. Masaalloh…. Apa yang dilakukan temnku satu ini? Ternyata dia mempunyai film seperti itu di leptonya.

Terpikir lagi untuk mengerjai temanku tersebut, ku berjalan ke kamarnya dari kemampuanku kulihat pintu kamarnya tak terkunci hanya tertutup saja. Kuambil kesempatan yang akan membuatnya malu seumur hidup, dengan sabar kutunggu kesempatan tersebut. Pada saat Ari menurunkan tangannya dan mulai bermin dengan denga senjatanya yang telah menegang dan di keluarkan sedikit diluar celana. Kubuka kamarnya. Selebar-lebarnya malahan.

Ekpresinya sangtalah kaget, wajahnya pucat, bingung, malu dan entah apa yang dipikirkannya. Senjatanya segera di masukkan sarang, leptopnya di tutup tanpa di matikan lebih dulu. Lalu aku mendekat kepadanya yang sedang tidur dengan ekpresi pucat tanpa mengatakan apa-apa.
Aku : ada apa Ar? Koq kelihatnya kaget. Tanyaku seolah-olah tak tahu yang terjadi.
Ari : ga, ga, ga apa-apa koq. Cuma kaget. Sambil berusaha duduk dari tidur-tiduranya.
Ku dekati dia tanpa ba bi bu be bo tangan kananku berlari menujunselangkangnya dan kuremas senjatanya. “Hahhaaaa….” Aku tertawa melihatnya kaget. Dan kubilang lanjutkan ga usah malu. Entah setan apa yang  masuk ragaku tapi aku ikut ari melihat film tersebut. Hingga aku kepengen kencing dan kencing duluan dari pada Ari.

Beberapa hari setalah itu yang kulakauan hanya sebatas itu saja tak lebih. Lalau muncul sebuah kebosanan yang sangat mendalam. Aku hanus akan kemampuanku, aku ingin bisa melihat lebih dan lebih. Hinga di suatu siang saat pelajaran pak Ihasn.

Saat itu aku duduk di bangku agak belakang. Depanku duduk seorang cewek bernama Nelsa entah sengaja atu tidak karena mamakai baju yang minim sebagian punggung bawah yang bersinggungan dengan celanya sedikit terbuka. Sehingga dapat terlihat celana dalamnya yang berwarana merah. Sontak saja kami kaum adam yang di belakangnya langsung berpikir yang melayang-layang kemana-mana (normal).

Entah karena apa waktu itu aku langsung melihat menembus bajunya. Kulihat selurauh tubuhnya tanpa sehelai benang dan itu semua membuatku sangat terangsang hingga aku tak bisa menahanya. Gara-gara itu aku sama sekali tak bisa konsen pada perkulihan dan malah aku merasa gerah di kelas. Dengan berpikir panjang ahirnya kuputuskan untuk pergi kebelakang.

Di kamar mandi kulakukan sewajarnya laki-laki sambil berdiri. Kulihat menembus tembok si Salim yang  tadi duduk di sampingku juga ikut menyusul kekamar mandi. Tetapi dia beneran kencing tak seperti ku. Saat dia memanggilku kujawab saja aku sedang boker. Entak kenapa lama sekali keluarnya, mungkin karena bukan tempat yang begitu nyaman sehingga sangat lama keluarnya.

Setelah selesai aku kembali ke ruang kuliah dan saat di tanya sama teman dan dosen kubilang sakit perut. Setelah itu aku mulai bisa konsentrasi dan berusaha mengndalikan penglihatan menemus tembokku itu. Aku berusaha untuk menahannya agar tak melewati batas wajar seperti tadi.

Tetapi hari esoknya malah lebih parah lagi. Aku melihat beberapa teman berlainan jenis dengan kemampuanku sehingga mebuatku tak tahan untuk menyalurkannya. Ahirnya aku seperti orang yang ketagihan. Aku melihat semua orang seperti suku pedalaman yang tak pernah memaki baju. Entah itu cewek ataupun cowok yang jelas semua terlihat telanjang bebas di mataku.

Entah di kamar, kampus bahkan di tempat-tempat umum aku menyalurkan hasrat yang benar-benar menggebu. Kuliahku mapir terceceran gara-gara hal itu semua, pikirkanku melayang-layang kesan kemari tetapi tak berani menyalurkan secara nyata karena takut akan dosa yang lebih besar.  Teman-temanku pun mulai heran akan keanehan ku yang sering izin ke kamar mandi. Semua menasehati ku ini itu agar aku tak diare lagi, padahal aku tak sakit perut.

Ahirnya aku sangat frustasi akan kemampuanku ini. Rasanya aku sudah tak tahan untuk melepaskan kemampuanku ini. Aku ingin bebas dan lepas dari hasrat yang kumiliki. Tapi aku tak tahu caranya.

Jam terus berputar. Hari masih terus berganti. Bulan-menjadi bulan.  Tahun telah beberapa kali berganti. Aku lulus pada semester 10, tiga semester mundur dari jatwal. Itu semua karena kemampuanku. Sekarang aku sudah bekerja di sebuah perusahaan besar, jabatanku sudahtak tanggung-tanggung lagi dengan gaji yang melebihi dari mimpiku dulu.

Orang tuakau hampir setiap hari bertnya kapan kawan, kapan nikah, sekarang sedang dekat dengan sapa bahkan sampai aku di bilang orang Homo. Sebenarnya aku masih normal tetapi ketika melihat tubuh wanita aku sudah tak terangsang sama sekali. Melihat tubuh telanjang wanita itu seolah-olah itu hal yang biasa saja. Seperti melihat sapi atau kuda yang bugil saja. Tak terangsang sa sekai.

Dugaanku ini karena aku sudah terlalu lama menikmati setiap lekuk tubuh wanita kapanpun dan dimanapun walaupun tak menyentuh tubuhnya sama sekali. Ini akibat kemampuanku yang sangat tidak aku inginkan. Seharusnya aku dengan kemampuanku itu bisa menjadi pahlawan tetapi malah aku yang terjebak dam kenistaan.

Aku adalah pahlawan yang kesiangan. Yang tak bisa menolong tetapi perlu pertolongan. Orang yang di beri ilham berupa kemampuan lebih tetapi malah minta bantuan kepada manusia normal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut