Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 15 Maret 2012

Cerita anak kost


Di suatu bulan di sekitar kampus sedang banyak sekali even-even kegiatan menarik mulai pameran, bazar buku, seminar dan banyak lagi kegitan lainnya. Tentunya sebagi mahasiswa itu semua membuatku tertarik. Buku novel dan piskologi jadi tujuan utamaku, lalu peralatan computer , seminar dengan pembicara artis Jakarta dan seorang mentri dan juga  beberapa  jajanan setan yang enak, pedas, dan menggila menarik minatku.
Karna awal bulan jadi semuanya tak tersa.  Rasanya biasa saja, masih teringat di dompet dan ATM masih penuh. Rasanya senag-senag saja mendapat buku, flasdis, kartu modem yang murah dll. Setiap malam aku menghitung-hitung pengeluaranku dan perencanaan pengeluaran bulan ini.
Semuanya kuhitung-hitung, cukuplah sampai ahir bulan. Jadi santai saja hidup seperti bulan-bulan yang telah berlalu sebagai anak kost. Kadang lagi irit untuk beli makan enak dan kadang bisa makan enak dengan lauk ayam atau daging. Pokoknya awal bulan itu masih belum terasa.
Tepat pertengahan bulan hari kamis tanggal 16 uang di dopet habis tinggal 10.000. Kuliat tanda pengambilan dari ATM terahir yang terselip di antara karmas dan SIM. Kulihat masih ada Rp 205.500. dalam  hitunganku masih bisa di ambil Rp 150.000 karena yang Rp 50.000 tidak bisa di ambil. 150.000 cukuplah untuk 15 hari sampai tanggal  1 datang dan orang tuaku mengiriminya lagi.
Walaupun sebenarnya rumahku tak terlalu jauh dari sini hanya 2,5 jam naik motor dengan bensin 10.000 (bensin masih 4000/liter) tapi aku jarang seki pulang. Kalu orang tuaku tak menyuruhku pulang aku ya ga pulang atau pulang saat kakakku juga pulang kerumah. Habis teman-temanku di rumah juga sama-sama merantau keluar kota semuanya, kalupun pulang di rumah pasti ga punya teman. Teman-temanku tak bisa pulang sama-sama pada hari yang sama. Mereka merantaunya lebih jauh dariku dan semuanya berbeda tempat tujuan.

Ahirnya sorenya sehabis makan aku ke ATM di belakang kampus. Aku masuk ATM dan mulai memencet banyak tombol ini itu. Lalu di laryar keluar peringatan kalau saldo tak mencukupi. Lalu ku kurangi jumlah pengambilan 50.000 dan hasilnya sama, saldo tidak mencukupi. Panik dan bingung melanda. Bensin mau habis, pulasa tinggal 5000 dan uang ga bisa di ambil.
Aku coba lagi dengan nominal terendah yaitu 50.000 dan Alhamdulillah uang berwarna biru keluar selembar adari mesin ATM. Dengan rasa sukur ahirnya kusudahi pergi ke ATM tersebut dan kembali ke kost. Sesampai di kost kulihat tanda penarikan dari ATM dan di sana tertulis saldi tinggal 146.500. dalam pikirku 9000 hilang karena potongan bulanan, dan masih ada sisa 50000 lagi yang bisa ku ambil lain waktu.
Jam 11 aku mulai bersiap tidur, kumatikan lampu dan aku mulai berbaring di atas kasur yang sempit. Sebelum tidur seperti biasa pikiranku melayang-layang dahulu kedunia pikiran. Lalu terselip pikiran soal sisa uang di bulan ini yang tinggal 100.000 (50.000 di dompet dan 50.000 di ATM). 100.000 harus bisa mengirit pengeluaran pikirku. Lalu kumaulai berhitung ekonomi perusahaan ala kadarnya sambil memejamkan mata. Cukup itu hasil dari perhitunganku. Lalu tidur.
Ketika sebentar lagi akan terlelap teringat suat peristiwa  akan satpam bank dan pegawai bank (satu tempat) yang namanya sama dengan aku. Lalu teringatlah semuanya kenapa aku tadi tak bisa mengambil uangku. Alasanya karena mulai bulan ini uang minimal di bank minimal Rp 100.000 bukan Rp 50.000 lagi dan DOORRRR….. kaget akan yang terjadi.
Berarti uang sebulan ini tinggal 50.000 saja ga lebih dan ga kurang. Padahal bensin habis dan ini masih pertengahan bulan. Pikir-pikir mau pulang mau dan takut pada orang tua karena masaih pertengahan bulan kiriman sudah habis. Mau pinjam uang juga mau karena aku belum pernah meminjam uang pada teman. Otakku pun berpikir lebih keras lagi. Saptu dan minggu ini ada seminar dengan artis dan pak mentri  tak mungkin pulang Karen sudah membayar, pulangpun urung.
Dengan banyak berpikir hingga tengah malam lebih aku memutuskan akan pulang sabtu minggu depan dimana ahir bulan tinggal 5 hari lagi. Orangtuaku pasti tak marak jika uangku habis di hari tua seperti itu. Bagaimana dengan uang 50.000 bisa untuk makan, bensin, fotokopi dll selama  9 hari? Yang kjelas mengirit total terutama makan.
Minggu itu selama 8 hari aku yang basanya makan minimal Rp 4.000-5.000 sekali makan menjadi Rp 3.000 sekali makan. Makan yang biasanya 2-3 kali sehari menjadi 1-2 kali sehari. Tubuh yang sudah kurus semain mengering saja. Dalam pikirku yang penting hidup. Makan selam 16 X Rp 3.000= 48.000 sisa Rp 2.000 saja buat pulang. Dalam pikirku mana mungkin Rp 2.000 cukup bensin untuk pulang saja Rp 10.000. lalu kuingat hari saptu dan minggu ada seminar lumayan pasti dapat makan atu senek yang bisa mengganti untuk makan. Lalu ini dan itu di jumlah dibagi dikali dan dikurangi sisanya Cuma Rp 6.000. ahirnya pagi itu aku menyerah untuk memikirkanya, dan aku putuskan untuk pinjam teman saat pulang.
Hari berjan dengan rasa lapar. Ke kampus yang biasanya naik motor sendiri dan di tebeng teman sekarang malah aku yang cari tebengan untuk ke kampus agar uangku cukup untuk bensin pulang. Kuliah dan tugas yang seharusnya aku fotokopi berusaha tak kulakuakn karena tak punya uang. Dari seminar dapat makan siang 2X, lumayan untuk pengiritan. Senin siang galon air mineralku habis dan mau tak mau aku harus membelinya ini di luar rencana. Kupinjam motor teman dan kuisi air isi ulang yang murahan yang rasanya tak se segar yang aslinya, tapi takapa yang penting bisa mengirit biaya.
kerempeng ga keren
Makan yang direncanakan Rp 3.000 sekali makan menjadi Rp 2.500 sekali makan dengan membeli makan di belakang kost yang jaraknya 200m, sanyangnya ga secocok lidah ku karena rasanya mendaerah sini yang lebih kemanis-manisan masakanya dari pada ke asinan seperti daerah asalku. Lauk yang biasanya sekali makan minimal dengan dua gorengan dan satu kerupuk minggu itu hanya selalu dengan satu lauk kerupuk saja (kerupuk yang banyak isinya). Lumayan dari senin hingga kamis bisa mengirit Rp. 4.000 untuk menutupi biaya air mineral.
Ketika sudah hari Rabu ku pikir-pikir uangku nantinya tinggal Rp 5.000 saja. Kemungkinan besar pastilah aku harus pinjam uang pada teman, tapi rasanya takut sekali mau pinjam uang pada teman. Takut sekali, mau pinjam si ini atau si itu semuanya hanya takut di hati. Hari itu aku sholat tahajut jam 3 pagi karena perut kelaparan. Aku berdoa semoga ada seminar hasil (seminar hasil penelitian mahasisawa yang akan sekripsi, ikut seminar ini tidak membayar tetapi malah dapat makan) biasanya dari semiar itu ada makananya lumayan untuk menghemat entah nasi atu kue.
Kamis pagi jam 7.00 sudah ke kampus karena ada ujian. Aku tak makan pagi tetai membeli 5 potong kue untuk mengganti nasi yang harganya hanya Rp 500 (dimakan setiap 1,5 jam dari jam 7.00 dampai jam 14.30 kalu tahan). Sebelum ke kelas aku membaca di papan pengumuman, dari jauh kulihat sebuah pamflet tertempel disana. Hatikupun jelas senang karena pamflet itu berarti ada seminar hasil. Aku semakin mendekat dan kubaca ada seminar hasil dari kakak tingkat besok jumat jam  13.00, tepat pada waktu ada matakuliah pilihan yang tak aku ikuti (padahal mata kuliah itu matakuliah terfaforit karena dosenya enak mengasih nilai A). Aku ber ucap sukur Alhamdulillah karena ini bisa mengirit Rp2.500. lalu aku menuju kelas berusaha mencar teman yang membawa contekan yang terlengkap agar aku bisa ikut mencontek (kurang makan jadi kurang bisa konsentrasi belajar).
Kuliah berahir jam sebelas kurang. Di dalam kelas dengan santai aku makan kue-kue yang kubawa tanpa ragu. Ujian atupun kuliah biasa aku tetap tenag memakan kue yang kubawa karena lapar. Sebelum pulang teman yang ku tebengin pulang mengajak melihat pengumuman dan disana ada satu lagi pengumuman seminar hasil (jadi 2 pengumuman seminar hasil). Kubaca yang satunya yang belum kubaca sebelumnya, kuamati jam yang tertulis. Pupus harapanku karena tepat aku kuliah.
Di kost dengan menahan lapar aku berpikir untuk bolos kuliah demi nasi kotak yang ada di seminar hasil. Dan benar saja setan lapar dalam perutku mengajakku bolos kuliah dan lebih mengikuti seminar hasil. Alhasil untuk hari itu aku bisa makan 2X dengan lauk ayam goreng. Tetapi sebagai akibatnya aku ketinggalan satu materi kuliah. Tak aplah pikirku, itu bisa (biasanya membolos karena ada keperluan yang lebih penting).
Sore sehabis kuliah aku kembali ke kost. Kuambil sepeda motor dan kupansi (sudah seminggu sama sekali tak kuhidupkan).  Dengan uang Rp 10.000 kubelikan bensin. Alhamdulillah bensin bisa penuh sampai ubun-ubun.
Sebenarnya sih aku bisa pulang malam ini tapi yang bikin aku takut adalah jalanan malam. Jalan yang kulewati untuk pulang melewati sawah yang berhektar-hektar dan berbukit-bukit kebun. Sebenarnya ada jalan kota tetapi harus memutar, takutnya bensinku tak mencukupi untuk sampai rumah. Kuputuskan pulang saptu pagi.
Jam 3.00 pagi aku terbangun karena rasa lapar. Jam segitu ahirnya aku solat tahajut dan meminum air sebnayak-banyaknya agar tak lapar.  Aku pulang tanpa ada sepersenpun uang di saku maupun di dompet. Dalm doaku saat itu semoga tidak terjadi apa-apa denganku (ban bocor, accu rusak dll). Aku juga berdoa agar aku pulang dengan selamat. Setelah azan subuh aku segera sholat dan berangkat pagi-pagi. Ini kulakukan agar tidak bertemu dengan polisi yang biasanya ramai menunggu anak-anak SMA yang tak bawa motor dengan surat kendaraan yang tak lengkap. Walaupun surat-suratku lengkap aku tetap jaga-jaga biar ga bertemu dngan polisi Karen polisi itu sukanya membuat keterangan asal-salan agar dapat uang.
Jam 4.00 aku berangkat. Sepeda motor sudah di luar karena tak aku masukkan ke garasi. Untung saja sekitar kost ku ini tak pernah ada pencurian dibandingkan denga komplek kost yang lain yang tiap bulan selau ada pencurian. Sebelum berangkat aku berdoa kembali.
Perjalanan biasa saja seperti perjalanan pagi yang pernah aku lalui sebelumnya. Jarak yang biasanya 30 menit di lalui sekarang menjadi 20 menit saja. Ketika sampai di perkampungan sepi yang jarak rumah dengan rumah masih di selingi sawah yang tanpa lampu jalan, aku bertemu denga banyak orang yang berpaka putih berjalan di pinggir jalan. Jangan salah mereka adalah ibu-ibu dan bapak-bapak yang pulang dari sholat subuh.
Satu jam berjalan barulah aku bertemu pengendara sepeda motor lain yaitu penjula sayur keliling. Jalan itu memang jalan sepi saat pagi dan malam tapi ramai saat siang. Tapi jalan itu aman dari perampok ataupun penjambret. Mungkin karena jalan itu panjang tanpa lampu jalan dan di sisi kanan kiri sawah menjadikan pengendara malas lewat saat malam.
Aku sampai di rumah jam 06.30, karena terjebak macet di beberapa sekolahan. Ibuku kaget aku pulang tanpa bilang-bilang. Aku baru meminta uang pada ibu saat mau kembali pulang ke kost. Ya ibu dan bapak agak sedikit marah sih, tapi tak apalah. Yang penting dapat uang walau Cuma Rp 50.000 untuk 3 hari. Heheee….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut