Fish: kasih makan donk...!

Kamis, 04 Oktober 2012

Sapi Dwi Guna


Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Dengan posisinya yang berada di garis katulistiwa, matahari yang bersinar sepanjang tahun dan luas daratan 1.919.440 km² yang membentang pada 17.508 pulau kecil hingga besar, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati dan hewani. Bahkan banyak flora dan fauna tertentu yang hanya terdapat di wilayah Indonesia.
Bangsa- bangsa yang bertipe dwiguna (daging dan kerja) sebagai contohnya yakni sapi Bali dan Madura. Pengertian dari dwiguna yakni bahwa sapi ini apat dimanfaatkan dari segi tubuhnya yaitu daging dan dari segi sosial dapat dimanfaatkan untuk membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaannnya.
Sapi pedaging identik dengan tubuh yang besar, tangguh dan juga kuat. Kelebihan- kelebihan itu disebabkan karena dia memiliki daging yang banyak dan  daging yang dimilikinya berkualitas baik dan di pasarkan dengan harga yang tidak murah sehingga mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit pula. Tipe sapi ini memang benar- benar dimanfaatkan untuk diambil dagingnya.
Sapi kerja dalam hal ini sering dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan para petani atau pekerja contohnya untuk membajak sawah, ataupun tugas membawa gerobak di pedesaan. Ciri fisik dari sapi kerja yaitu badan tidak terlalu besar namun ada juga yang tipenya badan besar. Yang penting memiliki otot yang baik, kuat dan tangguh.
Sejatinya semua jenis ras sapi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang perlu diperhatikan adalah nilai-nilai praktis dan ekonomis dari jenis ras tersebut baik dari sisi kekuatan finansial peternak, peruntukannya, dan waktu tepat penjualannya. Untuk penambahan berat harian jenis sapi limosin mampu mencapai 1,3 – 2 Kg/hari. Namun, yang terpenting adalah penampakan fisik sapi terlihat bagus dan sehat. Berikut jenis-jenis sapi yang dapat diternakan sebagai penghasil daging.

Sapi Dwiguna dalam kehidupannya memiliki banyak manfaat dan kegunaan dalam kehidupan sehari- hari. Dalam hal ini sapi dwi guna dimanfaatkan dagingnya dan dimanfaatkan pula untuk kerja. Contoh dari sapi dwi guna adalah sapi Bali, Sapi Madura dan Sapi Shorthorn.
1.    Sapi Shorthorn
Bangsa sapi ini berasal dari Inggris, bangsa sapi tertua dan terbentuk di Inggris bagian timur laut di lembah Sungai Thames. Nenek moyang sapi ini adalah bos (Taurus) Typicus Premigenius. Sapi shorthorn merupakan jenis sapi dwi guna karena menghasilkan daging dan produksi susunya tinggi.
Tubuh dari shorthorn berwarna merah bata sampai putih atau dawuk merah (roan). Bangsa sapi ini ada yang bertanduk dan tidak bertanduk (polled shorthorn).
Ciri cirinya adalah:

 

  1. Kepalanya pendek dan lebar
  2. Tanduknya pendek mengarah ke samping dan ujungnya mengarah ke depan
  3. Lehernya pendek dan besar
  4. Bidang dada samping dan dada rata
  5. Bahunya lebar, berdaging tebal dan kuat, rusuknya melengkung lebar
  6. Garis punggungnya lurus dan sampai pangkal ekor, pinggang lebar
  7. Tubuhnya besar, badan samping rata
  8. arnanya merah tua sampai putih
  9.  Bobot badan ideal jantan 955 kg, berat pada saat lahir 34 kg
  10. Kadar lemak susunya 3,65%

  11. Produksi susunya 5.126 kg per laktasi
Tingkat kesuburannya tinggi dengan sifat keindukan yang bagus. Tempramennya baik dan memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat. Sapi shorthorn sanggup beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda-beda. Sapi jenis ini sering kali disilangkan dengan jenis sapi brahman dan  hereford.
2.      Sapi Bali
Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Ciri Fisik Sapi Bali:
Sapi Bali berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor. Karakteristik Sapi Bali yang lain yaitu : warna bulu pada waktu pedet berwarna sawo matang dan kemerahan, sedang pada sapi betina tidak berubah warnanya dan jantan dewasa menjadi berwarna hitam; berat badan untuk jantan 450 kg, sedang pada sapi betina 350 kg; bertanduk ;mempunyai bercak putih pada pantat (bentuk setengah lingkaran); bibir bawah tepi dan bagian dalam telinga serta keempat kakinya mulai dari tarsus dan carpus ke bawah sampai kuku berwarna putih dan pada pinggiran punggung terdapat garis hitam (Murtidjo, 1992)
Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam legam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri.
Sapi Bali merupakan sapi keturunan Bos sondaicus (Bos Banteng) yang berhasil dijinakkan dan mengalami perkembangan pesat di Pulau Bali. Sapi Bali asli mempunyai bentuk dan karakteristik sama dengan banteng. Sapi Bali termasuk sapi dwiguna (kerja dan potong).
Sapi Bali mempunyai banyak keunggulan seperti :
1.    Subur (cepat berkembang biak/ fertilitas tinggi)
2.    Mudah beradaptasi dengan lingkungannya,
3.    Dapat hidup di lahan kritis.
4.    Mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan.
5.    Persentase karkas yang tinggi.
6.    Harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat.
7.    Khusus sapi bali Nusa Penida, selain bebas empat macam penyakit, yaitu jembrana, penyakit mulut dan kuku, antraks, serta MCF (Malignant Catarrhal Fever). Sapi Nusa Penida juga dapat menghasilkan vaksin penyakit jembrana.
8.    Kandungan lemak karkas rendah.
9.    Keempukan daging tidak kalah dengan daging impor.
Dari berbagai kelebihan tersebut, Sapi Bali juga memiliki  beberapa kelemahan, diantaranya :
  • Mudah terserang virus Jembrana yang menyebar melalui media “lalat”.
  • Rentan terhadap Malignant Catarrhal Fever ,jika berdekatan dengan domba.
Untuk menuju ke kantor Proyek Pengembangan dan Pembibitan Sapi Bali, kami harus berjalan kaki sejauh satu setengah kilo melewati sebuah padang rumput tempat sapi Bali dilepaskan secara bebas. Jalan setapak tersebut masih berupa batu-batuan yang tidak rata sehingga tidak memungkinkan kendaraan biasa dapat melewati jalan seperti itu kecuali kendaraan off road. Namun perjalanan ini merupakan suatu keunikannya, kita dapat memandang hamparan tanah yang luas yang berisikan plasma nutfah Sapi Bali.
Sapi Bali mempunyai sapi yang memiliki banyak sifat unggul diantaranya reproduksi sangat baik, cepat beranak, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, tahan terhadap penyakit, dapat hidup di lahan kritis, memiliki daya cerna yang baik terhadap pakan dan persentase karkas yang tinggi. Tidak heran bila Sapi Bali merupakan jenis sapi terbaik diantara sapi-sapi yang ada di dunia. Antara sapi jantan dengan sapi betina terdapat perbedaan yang cukup mencolok, salah satunya adalah warna kulit. Inilah salah satu keunikan yang dimiliki Sapi Bali daripada sapi komersial yang dijual di pasar hewan.
Sapi Bali dalam Kehidupan Petani Bali
Sapi Bali merupakan hewan ternak yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat petani di Bali.
a.       Sapi Bali sebagai tenaga kerja pertanian
Sapi Bali sudah dipelihara secara turun menurun oleh masyarakat petani Bali sejak zaman dahulu. Petani memeliharanya untuk membajak sawah dan tegalan, untuk menghasilkan pupuk kandang yang berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian.
b.      Sapi Bali sebagai sumber pendapatan
Sapi Bali mempunyai sifat subur, cepat beranak, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, dapat hidup di lahan kritis, dan mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan. Keunggulan lain yang sudah dikenal masyarakat adalah persentase karkas yang tinggi, juga mempunyai harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat membuat sapi Bali menjadi sumber pendapatan yang diandalkan oleh petani.
c.       Sapi Bali sebagai sarana upacara keagamaan
Dalam agama Hindu, sapi dipakai dalam upacara butha yadnya sebagai caru, yaitu hewan korban yang mengandung makna pembersihan. Demikian juga umat Muslim juga membutuhkan sapi untuk hewan Qurban pada hari raya Idhul Adha.
d.      Sapi bali sebagai hiburan dan obyek pariwisata
Sapi Bali juga dapat dipakai dalam sebuah atraksi yang unik dan menarik. Atraksi tersebut bahkan mampu menarik minat wisatawan manca negara untuk menonton. Atraksi tersebut adalah megembeng ( di kabupaten Jembrana) dan gerumbungan (di kabupaten Buleleng).
3.      Sapi Madura
Sapi Madura adalah bangsa sapi potong lokal asli Indonesia yang terbentuk dari persilangan antara banteng dengan Bos indicus atau sapi Zebu (Hardjosubroto dan Astuti, 1994), yang secara genetik memiliki sifat toleran terhadap iklim panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak (Anonimus, 1987). Sapi Madura sebagai salah satu sapi lokal Indonesia mempunyai potensi sangat besar untuk dapat dikembangkan, namun sangat rawan pula terajadi kepunahan. Beberapa keunggulan juga dimiliki, seperti daya tahan tinggi terhadap stress lingkungan dan penyakit, tingkat kesuburan tinggi, kemampuan adaptasi tinggi terhadap kualitas pakan yang rendah, serta kebutuhan pakan yang lebih sedikit dibandingkan dengan sapi impor.
Karakteristik sapi Madura sudah sangat seragam, yaitu bentuk tubuhnya kecil, kaki pendek dan kuat, bulu berwarna merah bata agak kekuningan tetapi bagian perut dan paha sebelah dalam berwarna putih dengan peralihan yang kurang jelas ; bertanduk khas dan jantannya bergumba.
Ciri-ciri umum fisik Sapi Madura adalah sbb: :
  • Baik jantan ataupun betina sama-sama berwarna merah bata.
  • Paha belakang berwarna putih.
  • Kaki depan berwarna merah muda.
  • Tanduk pendek beragam. Pada betina kecil dan pendek berukuran 10 cm, sedangkanpada jantannya berukuran 15-20 cm.
  • Panjang badan mirip Sapi Bali tetapi memiliki punuk walaupun berukuran kecil.
Secara umum, Sapi Madura memiliki beberapa keunggulan seperti :
·         Mudah dipelihara.
  • Mudah berbiak dimana saja.
  • Tahan terhadap berbagai penyakit.
  • Tahan terhadap pakan kualitas rendah.
Dengan kelebihan-kelebihan  tersebut, Sapi Madura banyak diminati oleh  para peternak bahkan para peneliti dari Negara lain.  Sudah banyak Sapi Madura dikirim ke daerah lain, apabila tidak diperhitungkan dengan baik, bisa jadi populasi Sapi Madura di pulau Madura akan terkuras serta mengancam kemurnian ras-nya.
Sapi dalam kehidupan masyarakat Madura, memang mempunyai tempat yang khusus. Jasanya terhadap para petani tidak dapat dipandang sebelah mata. Tanah pertanian yang tandus tetap dapat ditanami dengan bantuan Sapi. Alat transportasi yang sulit didapat dipedalaman Madura juga dapat teratasi dengan tenaga sapi yang di padukan dengan pedati, yang di sebut dengan “Sapi Pajikaran”.
Bukan hanya mempunyai tempat khusus di kehidupan para petani di Madura, Sapi Madura juga membawa pengaruh terhadap tradisi budaya yang memberikan efek positip terhadap kelestarian Sapi Madura ini.  Sapi Madura berjenis kelamin jantan, dimanfaatkan sebagai  “Sapi Kerapan”, sebagai bagian dari budaya tradisi pertanian ,yang  nantinya menjadi salah satu aset pariwisata yang penting di tanah Madura.
Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang, Prof Dr Ir Hartutuik MP di Kantor Balitbang Jatim, Rabu (15/7) menjelaskan, sapi Madura memang berpotensi baik dan sangat memungkinkan untuk dikembangkan, seperti instruksi Gubernur Jatim, Dr H Soekarwo beberapa saat lalu.
Namun, dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan pihaknya dapat disimpulkan bahwa ada kecenderungan terjadi penurunan genetik sapi lokal Indonesia. Selain itu, populasi pertumbuhan sapi juga mengalami penurunan (populasi negatif) kurang lebih 12,3 persen. Penurunan kualitas bibit yang meliputi penurunan sifat produksi dan reproduksi tersebut juga terjadi pada sapi Madura.“Penyebab dasar atas penurunan tersebut bisa diakibatkan karena rendahnya mutu bibit, adanya tren penurunan pertumbuhan sapi potong disinyalir akan dapat mengakibatkan kepunahan apabila fenomena ini terus berlangsung,” ungkapnya.
Menurutnya, atas kebijakan gubernur untuk menetapkan Pulau Madura sebagai sentra ternak sapi, diharapkan mampu menyentuh persoalan mutu bibit sapi Madura dan untuk menjaga kemurnian plasma nutfah Indonesia.Ia menuturkan, beberapa faktor pendorong dan hambatan keberhasilan program tersebut perlu dikaji secara mendalam. Sehingga, peningkatan mutu genetic sapi Madura yang meliputi peningkatan produktivitas dan populasi sapi Madura dapat terwujud.Dari data Dinas Peternakan Jatim pada 2008 diketahui, populasi sapi Madura di empat kabupaten di Madura sebanyak 601.795 ekor yang tersebar di empat kabupaten. Seperti d Bangkalan terdapat 142.567 ekor, Sampang 123.438 ekor, Pamekasan 97.899 ekor, dan Sumenep 237.891 ekor. Dari total tersebut, sapi Madura memberikan kontribusi sebesar 20 persen pada terhadap sapi potong di Jatim.Ketua Dewan pakar Jatim, Daniel Rosyid menambahkan,  pengembangan peternakan sapi di Madura cukup potensial. Namun, ia lebih berharap pengembangannya nanti dapat dikembangkan pada sektor pariwisata.“Sapi Madura merupakan aset plasma nutfah asli yang harus tetap dilestarikan.
Untuk itu, jangan sampai nanti jika peternakannya dikembangkan melalui persilangan dengan sapi impor dapat menghilangkan identitas sapi Madura,” ungkapnya.Ia menuturkan, jika saat ini populasinya berkurang, maka memang perlu dibudidayakan lebih intensif. Sehingga, melalui bentuk sapi Madura yang memilki khas bentuk dan ukuran dapat menjadi ikon. Bentuknya yang tidak terlalu gemuk jangan dipaksakan untuk digemukkan, karena itu adalah bentuk asli yang harusnya dipertahankan. “Melalui ikon tersebut, pengembangan pariwisatanya dapat dilakukan, misalnya melalui pertunjukan tradisi karapan sapi, hingga sajian kuliner khas daging sapi Madura yang dapat dinikmati wisatawan yang datang ke Madura,” tuturnya.Ia pun memprediksi, jika proses pengembangan kawasan peternakan sapi dengan mempertahankan genetik asli sapi Madura, dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan dapat menjadi aset baru untuk meningklatkan taraf hidup masyarakat Madura.
Bangsa sapi Shorthorn merupakan jenis sapi dwi guna karena menghasilkan daging dan produksi susunya tinggi. Tubuh dari shorthorn berwarna merah bata sampai putih atau dawuk merah (roan). Bangsa sapi ini ada yang bertanduk dan tidak bertanduk (polled shorthorn). Ciri cirinya adalah: Kepalanya pendek dan lebar, Tanduknya pendek mengarah ke samping dan ujungnya mengarah ke depan, Lehernya pendek dan besar, Bidang dada samping dan dada rata, Bahunya lebar, berdaging tebal dan kuat, rusuknya melengkung lebar, Garis punggungnya lurus dan sampai pangkal ekor, pinggang lebar, Tubuhnya besar, badan samping rata, Warnanya merah tua sampai putih, Bobot badan ideal jantan 955 kg, berat pada saat lahir 34 kg , Kadar lemak susunya 3,65%, Produksi susunya 5.126 kg per laktasi.
Sapi Bali berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
Sapi Madura karakteristiknya sudah sangat seragam, yaitu bentuk tubuhnya kecil, kaki pendek dan kuat, bulu berwarna merah bata agak kekuningan tetapi bagian perut dan paha sebelah dalam berwarna putih dengan peralihan yang kurang jelas ; bertanduk khas dan jantannya bergumba. Ciri-ciri umum fisik Sapi Madura adalah sbb: Baik jantan ataupun betina sama-sama berwarna merah bata, Paha belakang berwarna putih, Kaki depan berwarna merah muda, Tanduk pendek beragam pada betina kecil dan pendek berukuran 10 cm, sedangkanpada jantannya berukuran 15-20 cm, Panjang badan mirip Sapi Bali tetapi memiliki punuk walaupun berukuran kecil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut