Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 12 September 2012

Malam mencekam di kost




Malam itu bertepatan dengan malam kamis. Dimana saya sebagai mahasiswa tingkat ahir sedang disibukkan dengan tugas ahir alias sekripsi yang sedang rajin-rajinnya lembur sampai malam supaya dapat segera memulai penelitian dan sekripsi. Malam itu seperti biasa saya online di kampus hingga  malam bersama teman-teman satu tim penelitian. Sebenarnya saat bersama teman-teman itu saya sudah mempunyai rasa yang sangat tidak enak seperti ada udara dingin di kanan dan udara panas di kiri sisi tubuhku. Tapi karena terlalu asiknya berdiskusi membahas rencana penelitian saya tak begitu memperdulikannya.

Saat itu kami tidak selarut malam menyelesaikan pekerjaan kami karena semua sedang ada tugas lain. Kalau malam sebelum-sebelumnya kami bisa sampai jam 12 malam di kampus, malam itu hanya sampai jam 10 malam saja. Setelah masing-masing berpamitan lalu mereka pergi, begitu juga denganku. Tetapi dari semuanya sayalah yang terahir dalam meringkas barang-barang dan pergi meninggalkan fakultas.

Saat pulang mengendarai motor saya melihat sebuah kejanggalan, di depan fakultas saya melihat ada orang yang sedang berbicara sendiri tetapi seolah-olah orang yang dia ajak bicara itu berada tepat di samping dia. Tingkah lakunya seperti orang sedang yang sedang berpacaran berucap saying dan manja tetapi tak ada orang yang dia ajak bicara. Memang di depan fakultas saya menurut rumor memang sedikit mistis. Tapi saya tak menghiraukan orang yang berbicara sendiri itu karena saya ingin segera sampai kost.

Dalam perjalanan ke kost saya sempakan membeli rokok dan cemilan di toko depan gang masuk kost. Lagi-lagi saya melihat sebuah hal aneh. Kali ini saya melihat sebuah bayangan sepeda motor saya tetapi pada bayangan itu seperti ada bayangan lain yang sedang duduk di jok belakang sepeda motor saya dan saat saya amati tiba-tiba bayangan itu memudar lalu lenyap. Saya dapat melihat bayangan sepeda motor saya karena lampu dari toko tersebut yang sedikit menerangi jalan sehingga membuat bayangan benda  yang berdiri di depan toko tersebut. Tetapi saat saya keluar toko tersebut yang ada hanya sepeda motor saya dan saya sendiri, saya berada di depan sepedamotor dan sepeda motor saya berada di kanan saya jadi dalam bayangan di aspal saya berada di depan sepeda motor saya tetapi saya melihat bayangan lain yang berada di atas bayangan sepeda motor saya. Padaha pemilik toko sudah masuk kembali di dalam rumahnya.

Di kost saya melanjutkan kembali pekerjaan saya yaitu membuat proposal penelitian. Saat jam menunjukkan jam 10 malam saya mendengar ada orang marah-marah tetapi perkataanya tak begitu jelas masuk ke telinga saya. Yang jelas perkataanya membentak-bentak orang yang dia marahi. Karena penasaran saya keluar kamar tetapi bukanya makin jelas suaranya tetapi semakin jauh dari kamar suara itu makain tak terdengar. Lalu saya pun kembali ke kamar, anehnya di kamar suara itu benar-benar terdengar walau perkataanya masih tak jelas. Untuk mengurangi rasa penasaran saya keluar masuk kamar berulang-ulang kali tetapi tetap suara itu tidak terdengar di luar kamar saya tetapi di kamar suara itu sangat terdengar. Aku pun mencari sumber suara tersebut mungkin dari MP3 player, radio, laptop, HP maupun BB tetapi semuanya peralatan tersebut tidak mengeluarkan suara. Suara orang yang marah-marah itu seperti berada di tengah-tengah kamar kost saya tetapi saya tak bisa melihatnya. Hal itu ahirnya membuat kulitku merinding disko sejadi-jadinya. Saya bacakan sembarang doa yang saya bisa tetapi suara itu benar-benar belum menghilang.

Aku baru ingat aku belum sholah isak, sambil tetap berdoa sayapun langsung mengambil wudu lalu kembali ke kamar saya untuk sholat. Setelah solat bukannya suara itu menghilang tetapi malan sedikit lebih jelas, sekarang bukan Cuma satu orang yang berbicara tetapi dua orang satu yang marah-marah dan satunya yang membela diri karena di marahi. Hal itu membuat saya semakin bingung tak karuan. Takut dan cemas menambah tekanan batin pada diri saya. Ahirnya setelah sholat itu saya membaca surat yasin dan tahlil hingga selesai dan Alhamdulillah suara itu lalu menghilang.

Setelah kejadian itu saya pergi ke kamar teman saya yang ada di kost. Malam itu kebanyakan teman kost saya sedang beramin futsal dan tinggal saya dan satu anak kost baru yang tidak ikut. Saya ceritakan hal yang saya alami, tak lupa saya minta saran tetapi dia malah ikut takut mendengar cerita saya. Sehingga saya tak ceritakan hal mendetai hingga ahir yang saya alami.

Setelah sedikit tenang saya kembali ke kamar. Jam sudah menunjukkan jam 12 malam dan saya tak jadi meneruskan membuat proposal karena pikiran saya sudah tak mau berpikir lagi setelah kejadian itu. Kumatikan lampu dan kurebahkan tubuh di kasur. Tak berapa lama saya merasa mendengar suara langkah kali disertai suara bisik-bisik di depan kamar saya. Awalnya saya pikir teman-teman saya tetapi saya ingat-ingat lagi teman kost saya belum pulang dari futsal ditambah suara itu lebih mengara pada suara wanita. Saya menjadi penasaran lagi dan segera melangkah keluar.

Belum sempat membuka pintu dari jendela kaca yang terletak di samping pintu kamar, saya melihat ada sosok wanita yang sedang duduk di kursi. Rambutnya terkulai memanjang sebahu menghadap ke arah timur kalau dilihat dari kamar saya terlihat bagian samping dari kanan tubuhnya. Saya pikir-pikir lagi ceweknya siapa yang malam-malam bertamu ke kost ini. Saat itu saya belum melihat bagian tubuhnya karena terhalang tembok. Lalu saya ingat kalau saya yang pulang terahir dan mengunci pintu pagar dan pintu kost, pertanyaan lagi dari mana cewek itu datang? Sempat saya berpikir untuk menegurnya tetapi saat saya akan keluar kamar terlihatlah tubuhnya yang terbalut baju daster serba putih. Mungkin itu yang dinamakan mrs kunti atau yang lainya.

Sepontan bulukuduk saya berdiri semuanya, dengan hati-hali saya melangkah kembali ke atas kasur. Jangan sampai mrs kunti menyadarinya kalu saya meliriknya. Kubalikkan tubuh menghadap tembok. Hingga Saya sama sekali tak berani membalikkan tubuh saya. Kudengar mrs kunti tersebut bersenandung pelan. Entah lagu apa yang sedang ia senandungkan tetapi setiap mendengar senandungnya bulukuduk saya berdiri. Ingin sekali mengambil MP3 di bawah kasur tetapi saya sama sekali tak berani bergerak karena terlalu takut.

30 menit mendengar senandungnya terasa 30 tahun lamanya. Hingga terdengar suara pintu kost di buka disusul suara teman-teman kost ku yang sedang heboh setelah pulang dari futsal. Mendengar itu saya keluar kamar dan menceritakan yang saya alami barusan dan saya tunjukkan kursi yang di duduki mrs kunti tadi. Saya pun minta ijin untuk tidur di kamar salah seorang teman saya karena saya takut.

Sekitar jam 2 pagi (belum sampai 1 jam saya tidur) saya ingin buang hajat, karena sudah sampai ujung saya beranikan diri untuk ke toilet sendiri. sesudah itu karena terlalu ngantuknya saya lupa kalu saya tadi tidur di kamar teman, karena benar-benar lupa saya berjalan menuju kamat saya sendiri dan tidur di kamar saya sendiri. belum sampai 15 menit merebahkan diri di kasur kebanggaan saya lalu di luar saya mendengar suara orang menagis terisak-isak. Suaranya pelan tapi seirama, maksutnya dari awal hingga ahir di ulang ulang suaranya dan nadanya sama terus. Seperti suara orang menagis di rekam lalu di copi dan di putar berulang-ulang.

Barulah saya sadar kalau saya tadi tidur dikamar teman saya dan ketakutanpun bertambah karena saya sadar kalu kali ini saya benar-benar tolol untuk kembali ke kamar sendiri. Entah sampai berapa lama suara itu terdengar di luar kamar saya, karena saya tak berani mendengarnya. Kali ini saya masih sempat membawa HP sehingga sambil tidur saya menyalakan music untuk mengurangi suara tangis itu masuk telinga saya.

Mungkin karena antara benar-benar ngantuk dan sangat  takut membuat sebuh kebodohan. Kenapa saya tak menelefon teman saya? Padahal HP ada di tangan? Pulsa ada? Teman-temanpun sudah di kost semuanya. Tetapi kenapa saya tak melakukanya? Benar-benar bodoh.

Ahirnya pagi itu saya ketiduran sambil masih mendengarkan suara music dan suara tangisan tersebut hingga suara azan subuh berkumandang. Barulah suara tangis itu lenyap dari telinga saya setelah azan subuh berkumandang. Setelah itu sekitar 30 menit saya bisa tertidur dengan sangat nyenyak hingga alaram berdering. Setelah itu sayapun sholat subuh dan rencananya tidur kembali. Tetapi karena suatau hal ahirnya pagi itu saya tidak tidur lagi.

Sore harinya setelah kejadian di pagi itu saya ceritakan pada teman saya. Semuanya menanggapi macam-macam tetapi saya tak peduli lagi. Yang terpenting cukup satu malma yang mencekam di kost tidak untuk yang kedua kali atau yang ketiga kali. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut