Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 18 Oktober 2011

Kisah Achmad Ubaidilah Menantu Sang Raja Jogja



Pada tanggal 18 Oktober 2011 Sri Sultan Hamengkubuwono X menikahkan putri bungsunya Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurastuti Wijareni. Menantu Sri Sultan Hamengkubuwono X kali ini mungkin belum banyak dikenal. Pria bernama Achmad Ubaidilah tersebut yang telah menikahi putri bungsu Sri Sultan, Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurastuti Wijareni. Sebelum menikahi putri sultan Ubai panggilan Ubaidillah telah resmi menjadi bangsawan Keraton Jogjakarta Hadiningrat dengan gelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara pada bulan Juli 2011.
 Ubai adalah pemuda biasa, lahir di Jakarta pada 26 Oktober 1981, saat ini bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres). Sejak bulan Maret yang lalu, ia diangkat sebagai Kasubid Komunikasi Politik Bidang Media Cetak. 
“Saya jadi Kasubid Komunikasi Politik Bidang Media Cetak. Mengurusi wartawan juga. Di sini dibagi, saya Kasubid cetak, ada juga yang elektronik, yaitu Pak Supri,” kata Ubai saat berbincang dengan para wartawan media di Keraton Kilen setelah acara Wisuda Calon Menantu Dalem, Minggu (3/7/2011).Sebelum menduduki jabatan itu, pria lulusan S2 Ilmu Pemerintahan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP), Cilandak, Jakarta Selatan, tersebut, adalah ajudan mantan Sekretaris Wapres, Tursandi Alwi. Ubai mengaku bekerja bersama Tursandi sejak tahun 2003 saat ia baru saja meniti karir sebagai PNS saat dirinya baru lulus dari STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) dan Tursandi masih menjadi gubernur Lampung.Tahu kalau keluarganya berasal dari Lampung, Tursandi, yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur Lampung, menawari Ubai untuk menjadi ajudan. 3 Tahun kemudian, Ubai memutuskan untuk mengambil gelar master di IIP. Setelah menamatkan kuliah, ia kembali bekerja dengan Tursandi, yang sudah berganti jabatan sebagai Seswapres.“Saya dekat sekali dengan Pak Tursandi, jadi saya anggap orang tua,” kata Ubai.Ubai mengungkapkan, sejak kecil dirinya menjalani hidup apa adanya dan tidak pernah bermimpi muluk-muluk. Apalagi ingin memiliki istri seorang putri raja. Maklum, dia tidak berasal dari keluarga pejabat tinggi atau pengusaha, apalagi ningrat.
Sama dengan istrinya yang merupakan putri bungsu Sri Sultan, Ubai adalah putra bungsu dari enam bersaudara. Ia memang lahir dan besar di keluarga PNS.Orang tuanya yang asal Lampung adalah orang biasa. Almarhum ayahnya, H. Jusami Ali Akbar, adalah pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN). Ibunya, Hj. Nurbaiti Helmi, merupakan pensiunan Kantor Kementerian Agama.

“Orang tua saya saja yang Lampung, saya lahir di Jakarta. Keluarga saya anaknya lahir di Jakarta semua, karena bapak dan ibu saya merantau. Jadi anak-anaknya nggak ada di Lampung,” kata penggemar olah raga bersepeda ini.Pada awalnya, lanjut Ubai, keluarga besarnya tinggal di Galur, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Kini ia tinggal bersama ibunya di sebuah rumah di belakang Rumah Sakit Budi Asih, Jl Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur. Keluarganya pindah ke rumah baru itu pada saat waktu ia baru lahir.Menurut pria berperawakan tinggi ini, ibu dan kelima kakaknya mendukung penuh pernikahannya dengan keluarga Keraton Yogyakarta. Hanya saja, ibunya sempat tidak percaya kalau perempuan yang akan dipersuntingnya adalah keturunan dari Sri Sultan.“Ibu saya sempat bertanya berkali-kali. ‘Bener ini besan saya Pak Sultan?’ katanya. Beliau nggak percaya, bener nggak ini anaknya mau ngawinin putri raja? Saya pikir itu logis saja, ya. Akhirnya saya meyakinkan beliau. Saya cinta dan suka dengan Reni,” tutur Ubai.

Perkenalan Ubai dengan Jeng Reni –panggilan akrab GRAj Nurastuti Wijareni– terjadi pada Januari 2007. Saat itu, dia diajak temannya menemui anak tertua Sultan, Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurmalita Sari, di salah satu mal di Jakarta. Saat itu, Nurmalita membawa serta adik-adiknya. Yakni GRAj Nurkamnari Dewi, GRAj Nurabra Juwita, dan GRAj Nurastuti Wijareni. ’’Pertemuan pertama itu, saya langsung tertarik sama Reni karena orangnya diam sambil makan,’’ tuturnya.
Malamnya, Ubai mencoba meminta nomor ponsel Reni dari kakaknya, tetapi tidak diberi. Beruntung, beberapa hari kemudian, ada pertemuan kedua yang kembali mempertemukan dirinya dengan Reni. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Ubai langsung meminta nomor telepon Reni. ’’Setelah itu, ya kami intens SMS-an, telepon-teleponan,’’ ceritanya.
Ubai sempat cemas. Sebab, Reni hanya memiliki waktu beberapa bulan di Jakarta karena harus kembali melanjutkan kuliah di Swiss. Saat itu, finalis Miss Indonesia 2009 tersebut sedang memanfaatkan waktu libur untuk penelitian skripsi tentang transportasi massal, busway, di Jakarta.
Tak mau berlama-lama, saat menonton Java Jazz pada Maret, Ubai mengungkapkan isi hatinya. ’’Tetapi, saya bilang lagi cari istri. Kalau mau, ayo,’’ ungkap Ubai kepada Reni.
Namun, Reni tidak langsung menerima permintaan menikah dari orang yang baru beberapa bulan dikenalnya itu. Seperti halnya orang Jawa, dia tidak mau mengatakan secara tegas sikapnya. Reni hanya menjawab secara diplomatis. ’’Katanya, jalani saja dulu. Tetapi, menurut saya, itu pun sudah cukup menjawab bahwa dia bersedia menikah sama saya,’’ tegasnya.
Alhamdulillah, kata Ubai, hari demi hari, hubungan mereka semakin serius. Meski Reni telah kembali ke Swiss, hubungan mereka tetap terjaga. Ubai memanfaatkan teknologi internet untuk tetap bisa berkomunikasi dengan kekasihnya tersebut. ’’Kan ada YM (Yahoo Messenger) dan Skype, meski saya harus tidur larut malam menunggu online,’’ tuturnya.
Saat itu, Ubai masih menjadi staf pribadi Seswapres Tursandi. Kesibukannya sering membuat dirinya pulang pukul 20.00 hingga 22.00. Meski capek, Ubai tidak lantas tidur. Dia memilih menghubungi kekasihnya yang sedang pulang kuliah. ’’Iya. Sebab, kalau di sini pukul 11 malam, di sana (Swiss, Red) pukul 6 sore, pas Reni pulang kuliah. Tetapi, saya ya harus tahan ngantuk dulu,’’ paparnya.
Setelah menjalani hubungan sekitar empat tahun, Ubai lantas melangkah ke jenjang yang makin serius, yaitu melamar Reni. Dia meminta Seswapres Tursandi menjadi wakil keluarga untuk menemui ayah Reni, Sultan HB X. Seperti lelaki pada umumnya, dia sempat grogi menemui Sultan. ’’Tetapi, tekad saya sudah bulat. Saya cinta sama Reni,’’ ujarnya.
Ubai memandang, kedudukan Sultan sebagai raja hanya nilai plus Reni. Tanpa dia sebagai anak raja pun, Ubai menegaskan akan tetap menikahi Reni. Sebab, dirinya mengaku sudah cocok dari segala hal dengan anak bungsu Sultan itu.
 ’’Saya merasa sudah siap menemui Sultan. Untungnya, orangnya baik. Ibu Kanjeng Ratu Hemas juga baik,’’ katanya memuji calon mertuanya.
Sebenarnya, itu bukan pertemuan pertama dengan Ngarso Dalem (sebutan rakyat Jogja untuk Sultan). Beberapa saat setelah berkenalan pada 2007, Reni berani membawa Ubai menemui keluarga besarnya. Tepatnya saat Sultan berulang tahun pada 2 Maret. ’’Alhamdulillah, Sultan orangnya baik. Tetapi, saya ditanya kerjanya di mana, tinggalnya di mana,’’ kenangnya.
     Setelah lamaran selesai, Ubai mulai lebih banyak berbincang dengan calon mertuanya itu. Meski bukan orang Jawa dan sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa, dia yakin bisa bergaul dengan kalangan bangsawan dengan sopan. Sultan tidak mempermasalahkan dirinya yang bukan keturunan Jawa.  ’’Sultan bilang, banyak kok saudara saya yang menikah dengan orang Kalimantan dan Sumatera,’’ ungkapnya.
Anak bungsu di antara enam bersaudara tersebut menegaskan sangat mencintai strinya itu. Sebab, meski merupakan putri raja, sikap Reni tidak manja dan sombong. ’’Reni memang lemah lembut, ayu, dan berpandangan luas. Tetapi kalau ada yang berpikir anak raja itu kolot atau sombong, sampai sekarang nggak ada itu. Reni orangnya sederhana,’’ lanjut dia.
Bahkan, Reni tidak menolak ditraktir makan di tempat yang biasa saja. Tempat makan pinggir jalan favorit mereka adalah soto ceker Apjay (Apotik Jaya, Red) di Blok M. ’’Biasanya, habis futsal, saya ajak Reni makan di situ bersama teman-teman. Saya seminggu tiga kali futsal. Rabu di hanggar, Jumat di Baruna sama teman-teman kantor, Minggu di Pasar Minggu,’’ ungkapnya.
Sebelum sah menjadi keluarga keraton seusai pesta megah yang digelar di Jogja pada 16-19 Oktober nanti, Ubai mulai belajar bahasa Jawa dari calon istrinya. ’’Contohnya, mau pamit, nuwun sewu. Tetapi, susah ya kalimat Jawa itu. Saya sering diketawain kalau salah ngomong,’’ katanya lantas tersenyum.
Mendekati hari H pernikahan, Ubai semakin deg-degan. Undangan telah dicetak dengan dua versi, bahasa Indonesia dan Inggris. Tapi, dia malah bingung saat disebut ada juga undangan yang berbahasa Jawa yang dipersiapkan Reni. Untuk suvenir, mereka berdua yang menyiapkan.  ’’Suvenirnya buku notes yang ada nama kami di dalamnya. Sampulnya dari batik. Kami sudah pesan untuk 4.300 tamu,’’ ungkapnya.
     Undangan yang disebar, kata Ubai, paling banyak untuk tamu Sultan. Sebab, keluarganya sudah menyiapkan acara ngunduh mantu pada 27 November di Gedung Sampoerna Strategic, Jakarta, dengan memakai adat Lampung.  ’’Jadi, kalau di Jogja itu, kami ikut aturan keluarga Reni. Tapi, kalau di Jakarta, nanti ya pakai adat Lampung, pakai baju Tapis,’’ tegasnya.
     Ubai juga sudah mempersiapkan cuti kerja mulai 13 Oktober nanti. Undangan untuk Seswapres sudah dia serahkan sendiri. Sementara itu, untuk undangan bagi wakil presiden, pihak keraton yang akan menyerahkan langsung kepada Boediono.  ’’Setelah nikah nanti, Reni tinggal di Jakarta karena dia punya bisnis di Blok M Square. Jual pernak-pernik Jogja. Namanya Baticoo,’’ jelasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut