Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 02 Juli 2012

BEKANTAN


Jakarta (ANTARA News) - Bekantan (Nasalis larvatus) adalah sejenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal monyet Nasalis.

Ciri utama yang membedakan Bekantan dari monyet lainnya adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan.

Fungsi dari hidung besar pada bekantan jantan masih tidak jelas, namun ini mungkin disebabkan oleh seleksi alam. Monyet betina lebih memilih jantan dengan hidung besar sebagai pasangannya. Karena hidungnya inilah, bekantan dikenal juga sebagai monyet Belanda. Dalam bahasa Brunei (kxd) disebutBangkatan.

Bekantan jantan berukuran lebih besar dari betina. Ukurannya dapat mencapai 75cm dengan berat mencapai 24kg.

Monyet betina berukuran 60cm dengan berat 12kg. Spesies ini juga memiliki perut yang besar, sebagai hasil dari kebiasaan mengonsumsi makanannya.

Selain buah-buahan dan biji-bijian, bekantan memakan aneka daun-daunan, yang menghasilkan banyak gas pada waktu dicerna. Ini mengakibatkan efek samping yang membuat perut Bekantan jadi membuncit.

Bekantan tersebar dan endemik di hutan bakau, rawa dan hutan pantai di pulau Borneo (Kalimantan, Sabah, Serawak dan Brunai).
Satwa langka monyet berhidung panjang atau Bekantan (Nasalis larvatus) keberadaanya di Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, kini mulai terancam punah seiring aktivitas perusahaan tambang di pulau tersebut.

Seorang pemerhati lingkungan Akhyat Fauzan, Jumat, mengatakan, secara tidak langsung aktivitas pertambangan di Pulau Sebuku lambat mengancam berkurangnya populasi satwa langka Bekantan. 

Aktivitas pertambangan yang tidak mempertimbangan pelestarian lingkungan menyebabkan populasi Bekantan dan Monyet semakin menyusut, ujar Akhyat tanpa menyebutkan jumlah populasinya dengan detail.

Menurut dia, ada perusahaan yang tidak peduli terhadap kehidupan Bekantan dan Monyet yang mengandalkan kawasan hutan tersebut. Akhyat khawatir, apabila kawasan hutan di Pulau Sebuku habis akibat aktivitas perusahaan tambang, lantas bagaimana nasib Bekantan yang jumlahnya kini terus berkurang itu.

Sungguh ironi, Bekantan dan Monyet yang dulu bisa hidup bebas di alam terbuka itu kini mulai tersisih karena alamnya kini dijadikan tempat beraktivitas perusahaan. Semestinya, hewan ini bisa bergelantungan di dahan dan pada jarak jauh, dengan itu sisi kehidupan mereka akan semakin sempit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut