"Akan Aku Bagikan Ilmu Yang Kudapatkan Padamu dan Bagikan Ilmu Yang Kau Dapat Pada Orang Yang Kau Temui"
Tampilkan postingan dengan label misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label misteri. Tampilkan semua postingan
Senin, 01 Juli 2013
7 Orang yang Mati Karena Ingin Membuktikan Hal yang Gak Penting
Sejarah mencatat banyak juga orang-orang yang mempertaruhkan diri mereka untuk membuktikan sesuatu yang mereka percayai. Apa yang sejarah tidak ceritakan adalah bahwa ada beberapa orang yang mencoba mempertaruhkan nyawa mereka hanya untuk membuktikan sesuatu yang tidak berarti bagi siapa-siapa kecuali bagi diri mereka sendiri.
1. Franz Reichelt (1912) Seorang penjahit dari Perancis, dia mencoba membuktikan kalau dengan menggunakan pakaian buatan dirinya, semua orang bisa terjun dengan selamat dari ketinggian manapun. Lalu dia mencari tempat yang tinggi untuk membuktikan hal tersebut. Karena waktu itu menara eiffel adalah tempat yang paling tinggi, jadi dia memtuskan untuk lompat dari situ. Namun sayang, apa yang dia pikir akan menjadi percobaan terhebat, justru membuat dia sukses menghantam tanah dan mati seketika.
2. Bando Mitsugoro VIII (1975) Seorang aktor pemeran kabuki di Jepang yang terkenal pada tahun 1975. Waktu itu dia bersama temannya mampir ke sebuah restoran untuk memesan 4 porsi liver ikan fugu. Dirinya ingin membuktikan bahwa dia bisa makan ikan tersebut dan tetap hidup. Ikan fugu termasuk makanan yang paling beracun jika disajikan sembarangan. Jangankan empat, makan satu porsi saja bisa membuat Anda mati keracunan. Setelah 7 jam, Mitsugoro ditemukan tewas, menurut data forensik, Mitsugoro tetap sadar meskipun dalam keadaan sekarat ketika keracunan, dia benar-benar lumpuh sampai akhirnya mati perlahan karena kehabisan nafas.
3. Garry Hoy (1993) Seorang pengacara terkenal di Kanada. Dia memiliki kantor di lantai atas sebuah gedung. Nah yang ingin dia buktikan adalah kalau kaca di kantornya itu anti pecah walaupun dihajar dengan apapun. Dia pun mencoba usaha pertamanya dengan berlari menghantam kaca. Hasilnya, kacanya tidak pecah! Tapi entah apa yang ada dipikirannya. Dia justru jadi tertantang untuk memecahkan kaca tersebut. Setelah mundur beberapa langkah, Garry lalu berlari sekencang-kencangnya dan prankk?!! Kaca itu akhirnya pecah! Garry pun dengan bangga membuktikan klo kaca itu ternyata bisa pecah. Namun sayangnya dia baru sadar klo keberhasilannya itu justru membuat dia kini terjun bebas kebawah dan akhirnya tewas.
4 dan 5 ..Jeff Dailey dan Peter Burkowski (1981) Dua sohib ini adalah maniak game arcade Berzerk. Berzek adalah game arcade atau yang lebih kita kenal dengan sebutan dindong ini sempet jadi hit ditahun 1980an. Jeff dan Peter berlomba untuk mencapai skor tertinggi sampai akhirnya . . . . Jeff ditemukan meninggal karena serangan jantung setelah mendapatkan skor tertinggi 16.660. Peter tidak menyadari apabila tubuh dalam keadaan lemah, video game bisa jadi hal yang sangat ekstrim, dan serangan jantung yang menewaskan Jeff itulah salah satu buktinya. Setelah 2 tahun kemudian Peter berhasil mengalahkan skor Jeff, namun akibatnya fatal. Karena kelelahan Peter terkena serangan jantung, sama seperti apa yang dialami Jeff. Dan dia pun meninggal.
6. Jennifer Strange (2007), sebuah stasiun radio KDND 107.9 di California mengadakan sebuah kontes bertajuk "Hold Your Wee For a Wii". Jadi prinsip dasarnya, Anda harus menahan pipis / kencing selama mungkin setelah minum beberapa botol air. Dan sebagai hadiahnya tidak lain adalah konsol Nintendo Wii. Mainan yang lagi menjadi tren pada waktu itu. Kontes ini menarik perhatian Jennifer, apalagi sebagai seorang ibu yang mempunyai anak. Dirinya berharap, apabila menang Nintendo nya bisa jadi hadiah terbaik buat anaknya. Dia pun mengikuti kontes itu, tapi apa yang terjadi? Jennifer meninggal karena apa yang disebut dengan "Water Intoxication" atau keracunan air. Jadi karena terlalu banyak air yang masuk kedalam tubuh terjadi ketidak seimbangan elektrolit yang akut di dalam otak. Dan pada akhirnya Jennifer tidak memenangkan kontes itu, dan semua pihak di radio yang terlibat dari awal, saat itu juga langsung dipecat.
7. Christopher Mccandless (1992) Bagi kalian yang sudah pernah nonton film "Into The Wild" pasti tahu jalan ceritanya. Ada beberapa orang yang punya motivasi untuk hidup di alam bebas, jauh dari peradaban. Dan Chris adalah salah satu orang itu. Sebenarnya dia orang yang pintar dan bahkan waktu itu dia dapet beasiswa sampai puluhan ribu dollar Tapi entah apa yang ada dipikirannya waktu itu, dia memutuskan untuk membuang hal itu dan mulai menjalani hidup baru di alam bebas tanpa bantuan siapapun. Meninggalkan pendidikan, teman-teman dan bahkan keluarganya sendiri. Mencoba sesuatu itu boleh, tapi tanpa persiapan yang matang semua itu bisa jadi bencana. Inilah yang terjadi dengan Chris, karena tidak punya pengalaman sama sekali dan juga minimnya peralatan yang dibawa lambat laun dia terdesak dan mulai kelaparan. Setelah hampir 4 bulan bertahan hidup dengan hanya memakan biji-bijian dari tumbuhan, Chris pun akhirnya tewas karena kelaparan. Dua minggu setelah itu mayatnya ditemukan masih terbungkus selimut tidur oleh 2 orang pemburu yang kebetulan lewat.
Kamis, 16 Mei 2013
kuntilanak
aku menulis ini karena beberapa waktu yang lalu aku sempat melihat kulinanak saat sedang penelitian S1 saya.
Kuntilanak (bahasa Malaysia: Pontianak atau Puntianak, atau sering disingkat kunti) adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia atau wanita yang meninggal karena melahirkan dan anak tersebut belum sempat lahir. Nama "puntianak" merupakan singkatan dari "perempuan mati beranak". Mitos ini mirip dengan mitos hantu langsuir yang dikenal di Asia Tenggara, terutama di nusantara Indonesia. Mitos hantukuntilanak sejak dahulu juga telah menjadi mitos yang umum di Malaysia setelah dibawa oleh imigran-imigran dari nusantara.
Kota Pontianak mendapat namanya karena konon Abdurrahman Alkadrie, pendiriKesultanan Pontianak, diganggu hantu ini ketika akan menentukan tempat pendirian istana.
Mitos hantu kuntilanak sejak dahulu juga telah menjadi mitos yang umum di Malaysia setelah dibawa oleh imigran-imigran dari nusantara.
Dalam cerita rakyat Melayu, sosok kuntilanak digambarkan dalam bentuk wanita cantik. Kuntilanak digambarkan senang meneror penduduk kampung untuk menuntut balas. Kuntilanak sewaktu muncul selalu diiringi harum bunga kemboja. Konon laki-laki yang tidak berhati-hati bisa dibunuh sesudah kuntilanak berubah wujud menjadi penghisap darah. Kuntilanak dikatakan sering menjelma sebagai wanita cantik yang berjalan seorang diri dijalan yang sunyi.
Oleh karena itu, cerita ini kemungkinan dibuat untuk menghindari wanita diganggu oleh pemuda-pemuda yang takut akan Kuntilanak ketika berjalan seorang diri di jalan yang sunyi. Dalam cerita seram dan film horor di televisi Malaysia, kuntilanak digambarkan membunuh mangsa dengan cara menghisap darah di bagian tengkuk, seperti vampir.
Kuntilanak Dalam Legenda Sunda
Agak berbeda dengan gambaran menurut tradisi Melayu, kuntilanak menurut tradisi Sunda tidak memiliki lubang di punggung dan hanya mengganggu dengan penampakan saja. Jenis yang memiliki lubang di punggung sebagaimana deskripsi di atas disebut sundel bolong. Kuntilanak konon juga menyukai pohon tertentu sebagai tempat “bersemayam”, misalnya waru yang tumbuh condong ke samping (populer disebut “waru doyong”).
Ciri – ciri kuntilanak versi Sunda;
1. tertawa melengking
2. menangis
3. suka puing2 bangunan ato yg setengah jadi
4. sering bertempat di muara sungai ato pinggiran danau ato kolam
5. menyukai daging anak2 (makanya sering dibilang mereka suka menculik bayi)
Kepercayaan penangakalan
Berdasarkan kepercayaan dan tradisi masyarakat Jawa, kuntilanak tidak akan mengganggu wanita hamil bila wanita tersebut selalu membawa paku, pisau, dan gunting bila bepergian ke mana saja. Hal ini menyebabkan seringnya ditemui kebiasaan meletakkan gunting, jarum dan pisau di dekat tempat tidur bayi.
Menurut kepercayaan masyarakat Melayu, benda tajam seperti paku bisa menangkal serangan kuntilanak. Ketika kuntilanak menyerang, paku ditancapkan di lubang yang ada di belakang leher kuntilanak. Sementara dalam kepercayaan masyarakat Indonesia lainnya, lokasi untuk menancapkan paku bisa bergeser ke bagian atas ubun-ubun kuntilanak.
Adapun lagu untuk memanggil arwah/setan kuntilanak tersebut, yaitu dengan menyanyikan lagu tembang jawa tempo dulu yaitu “Lingsir Wengi” sebagai berikut;
” Lingsir wengi sliramu tumeking sirno…
Ojo tangi nggonmu guling…Awas jo ngetoro…
Aku lagi bang wingo wingo…
jin setan kang tak utusi…jin setan kang tak utusi…
dadyo sebarang…waja lelayu sebet… “
Artinya :
Menjelang malam dirimu(bayangmu) mulai sirna
jangan terbangun dari tidurmu
Awas jangan terlihat (memperlihatkan diri)..
Aku sedang gelisah…
Jin setan ku perintahkan…. Jin setan ku perintahkan..
Jadilah apapun juga …
namun jangan membuat maut(celaka)..
Dan…kesimpulanku ini Lingsir Wengi hanyalah sebuah Durma, macapat, kidung atau tembang jawa yang memang sudah terkenal sejak jaman dulu. Tembang menjelang larut malam. Banyak yang menyangkal bahwa itu adalah tembang untuk memanggil kuntilanak. Tapi banyak juga yang mengaku mengalami hal yg menyeramkan setelah mendengarkan lagu itu.
Lirik yang terakhir “ wojo lelayu sebet “ bahkan ada yang salah mengartikan (entah disengaja untuk menakut-nakuti, atau memang salah mengartikan), ” menjadi perantara untuk mencabut nyawamu…”
Rabu, 13 Maret 2013
MEMBUKA TABIR SATRIO PININGIT > Jagad Satrio Wibowo
Misteri Satrio Piningit tak pernah pupus dari benak dan relung hati anak cucu leluhur nusantara. Fenomena sejak masa kewalian, pasca kehancuran Majapahit, ini sangat lekat terutama bagi a
nak cucu Jawa – Bali Dwipa.
Menurut kitab Musarar Jayabaya era sekarang masuk jaman Kalabendu (jaman sengsara), disebut kalabendu (kutukan bumi) disebabkan dari pengaruh hawa kutukan bumi, biasnya perilaku manusia menjadi edan (gila) dan hidupnya sengsara “hidup di jaman edan kalau tidak edan tidak kebagian”.
Pada masa-masa sulit di jaman edan (jaman kalabendu) ini, masyarakat nusantara mendambakan datangnya jaman kalisuba (jaman kemakmuran) yang ditandai datangnya sosok Satrio Piningit dan Ratu Adil sebagaimana yang ditulis pada bait-bait syair terakhir kitab Musarar Jayabaya, Uga Wangsit Siliwangi dan Ramalan Ronggowarsito.
Karya-karya leluhur nusantara antara satu dengan lainnya walaupun berbeda masa/periode yang jauh berselang, namun di dalam perlambangnya memiliki saling keterkaitan. Suatu perlambang dalam suatu karya menunjuk kepada perlambang atau karakter yang lain di dalam karya leluhur yang berbeda.
Masing-masing orang bisa saja menafsirkan yang berbeda-beda, tidak ada yang melarang. Bebas-bebas saja. Benar tidaknya kembali kepada diri kita masing-masing. Inilah tabir misteri menurut saya.
Wangsit Siliwangi :
“Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. tapi memang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hese apes ku rogahala”
(“Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan raja dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata, karena jelas keturunan raja penguasa baru susah dianiaya”).
Inilah Soekarno, Presiden pertama NKRI, ibunda Soekarno adalah Ida Ayu Nyoman Rai seorang putri bangsawan Bali. Ayahnya seorang guru bernama Raden Soekeni Sosrodihardjo. Namun dari penelusuran secara spiritual, ayahanda Soekarno sebenarnya adalah Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X. Nama kecil Soekarno adalah Raden Mas Malikul Koesno. Beliau termasuk “anak ciritan” dalam lingkaran kraton Solo.
Kitab Musarar Jayabaya, dalam Sinom bait 18 :
“Dene jejuluke nata, Lung gadung rara nglikasi, Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki, Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhing bebendu, Kerem negaranira, Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa”
(“Nama rajanya Lung Gadung Rara Nglikasi kemudian berganti Gajah Meta Semune Tengu Lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajak rakyat adalah …..”)
Lung Gadung Rara Nglikasi memiliki makna yaitu pemimpin yang penuh inisiatif (cerdas) namun memiliki kelemahan mudah tergoda wanita. Perlambang ini menunjuk kepada Presiden pertama RI, Soekarno. Sedangkan Gajah Meta Semune Tengu Lelaki bermakna pemimpin yang kuat karena disegani atau ditakuti, namun akhirnya terhina atau nista. Perlambang ini menunjuk kepada presiden kedua RI, Soeharto. Dalam bait ini juga dikatakan bahwa Negara selama 60 tahun menerima kutukan sehingga tidak ada kepastian hukum.
Dalam bait 20 dikatakan :
“Bejade ingkang Negara, Narendra pisah lan abdi. Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram”
(“Negara rusak, Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram”)
Bait ini menggambarkan situasi Negara yang kacau. Pemimpin jauh dari rakyat, dan dimulainya era baru dengan apa yang dinamakan otonomi daerah sebagai implikasi bergulirnya reformasi (Jaman Kutila). Karakter pemimpinnya saling jegal untuk saling menjatuhkan (Raja Kara Murka). Perlambang Panji Loro Semune Pajang – Mataram bermakna ada dua kekuatan pimpinan yang berseteru, yang satu dilambangkan dari trah Pajang (Joko Tingkir), dan yang lain dilambangkan dari trah Mataram (Pakubuwono), hal ini menunjuk kepada era Gus Dur dan Megawati.
Pada bait 22, dikatakan :
“Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih,Lajengipun sinung lambang, Dene Maolana Ngali, Samsujen Sang-a Yogi, Tekane Sang Kala Bendu, Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngrawuhi, Sasmitane lambang kang kocap punika”
(“Tan Kober Paes Sarira, Sinjang Kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu, Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut”)
Perlambang Tan Kober Paes Sarira, Sinjang Kemben tan Tinolih bermakna pemimpin yang tidak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah, ini menunjuk kepada Presiden RI keenam saat ini yaitu Susilo Bambang Yudhoyono.
Perlambang Semarang-Tembayat merupakan tempat dimana seseorang memahami dan mengetahui solusi dari apa yang terjadi. Jawaban & solusi mengatasi carut marut keadaan bangsa ini ada di “Semarang Tembayat” yang telah diungkap oleh Prabu Jayabaya guna membantu memecahkan misteri ini.
Kemudian bait 27 berbunyi :
“Dene besuk nuli ana, Tekane kang Tunjung Putih, Semune Pudhak Kasungsang, Bumi Mekah dennya lair, Iku kang angratoni, Jagad kabeh ingkang mengku. Juluk Ratu Amisan. Sirep musibating bumi, Wong nakoda milu manjing ing samuwan”
(“Kemudian kelak akan datang Tanjung Putih Semune Pudak Kasungsang. Lahir di bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan”)
Perlambang Tanjung Putih Semune Pudak Kasungsang memiliki makna seorang pemimpin yang masih tersembunyi berhati suci dan bersih. Inilah seorang pemimpin yang dikenal banyak orang dengan nama Ratu Adil sebagai pemimpin yang membawa amanat untuk membenahi kerusakan dahsyat bumi nusantara akibat bencana kemanusiaan dan bencana alam. Lahir di bumi Mekah merupakan perlambang bahwa pemimpin tersebut adalah seorang Islam sejati yang memiliki tingkat ketauhidan yang sangat tinggi.
Bait 28 tertulis :
“Prabu tusing Waliyullah, Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki, Perak lan Gunung Perahu, Sakulone tempuran, Balane samya jrih asih, Iya iku ratu rinenggeng sajagad”
(“Raja utusan waliyullah. berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan Gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia”)
Prediksi saya tentang bait tersebut, yang dimaksud dengan hasil didikan/tempaan seorang waliyullah (aulia) yang juga selalu tersembunyi berkedaton di Mekah dan Tanah Jawa adalah 2 (dua) waliyullah tersembunyi (menitis) di dalam dirinya (“sawiji”); yang satu seorang aulia dari Mekah dan yang satunya lagi seorang raja Jawa. Orang yang dimaksud merupakan Islam sejati, sudah makom Ma’rifat Mukasyafah, serta berciri khusus terdapat andheng-andheng (tahi lalat) segi tiga yang jelas sangat kelihatan (“dingklik”) “sanalika iku wong Jawa akeh kang tesmak bathok, senajan mlorok ora ndelok, andheng-andheng dingklik”. Pemimpin tersebut akan mampu memimpin nusantara ini dengan baik, adil dan membawa kepada kesejahteraan rakyat, serta menjadikan nusantara sebagai “barometer dunia” (istilah Bung Karno : “Negara mercusuar”).
Saya mencoba menelusuri alat-alatnya yang menandai datangnya Sang Ratu Adil pada serat Jangka Jayabaya/catursabda, Pethikan Seratan Tangan Kangge Sambetan Jangka Triwikrama :
”.. Kulup ingsun mangsit marang sira ... sanalika iku wong Jawa akeh kang tesmak bathok, senajan mlorok ora ndelok, andheng-andheng dingklik. Lah ing kono kulup, ora suwe bakal katon alat-alate kang minangka dadi cacaloning Sang Ratu Adil Panetep Panata Agama Kalipatullah”
”.... mung gegamane bae golekana kongsi katemu ”.
Kemudian kita simak serat Paweling (Peringatan), sebagai berikut :
”Nanging piweling ingsun, diawas dieling, jejegna imanira, turuten gustinira ratu adil panetep panata gama. Golekana gegamane sing nganti ketemu, turuten dalane, ngetutburia saparane..”,
Pada syair tersebut, Jangka Jayabaya memberikan pesan/paweling, agar kita selalu waspada dan ingat kepada Tuhannya, tegakan iman, jadilah pengikut Ratu Adil Panetep Panata gama, dan kita diminta untuk mencari ”senjatanya” sampai ketemu.
Kitab Musarar Jayabaya, Bait 159
“Se lelet-lelete yen mbesuk ngancik tutup tahun sinungkalan dewa wolu, ngasto manggalaning ratu, bakal ana dewa ngejawantah apengawak manungsa, apasuryan padha Bethara Kresna, awewatak Baladewa, agegaman Trisula Wedha. Jinejer wolak-waliking jaman, wong nyilih mbalekake, wong utang mbayar, utang nyawa bayar nyawa, utang wirang nyaur wirang”
(Selambat-lambatnya kelak menjelang tutup “sinungkalan dewa wolu, ngasto manggalaning ratu”, akan ada dewa tampil berbadan manusia, berparas seperti Bathara Kresna berwatak seperti Baladewa, bersenjatakan trisula wedha, tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam mengembalikan, orang berhutang membayar, hutang nyawa bayar nyawa, hutang malu dibayar malu)
Bait 160
“Sadurunge ana tetenger lintang kemukus lawa ngalu-alu tumanja ana kidul wetan bener lawase pitung bengi, perak esuk bener ilange Bathara Surya njumedhul …… iku tandane putra Bathara Indra wus katon tumeka ing arcapada …. “
(Sebelumnya ada pertanda Lintang Kemukus panjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timur lamanya tujuh malam, hilangnya menjelang pagi sekali bersama munculnya Batara Surya bebarengan dengan hilangnya kesengsaraan manusia yang berlarut-karut)
Bait 161
“Dununge ana sikile redi Lawu sisih Wetan, Wetane bengawan banyu, andhedukuh pindha Raden Gatotkaca, arupa pagupon Dara tundha tiga, kaya manungsa angleledha”.
(Asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur, sebelah Timurnya bengawan, berumah seperti Raden Gatutkaca, berupa rumah merpati susun tiga, seperti manusia yang menggoda)
Memahami bait 159 s/d 161: sinungkalan dewa wolu (8), ngasta (2) manggalaning (9) ratu (1) mungkin maksudnya tahun Jawa 1928 atau 2006 Masehi (dalam perkiraan yang tepat 2008) akan dewa tampil berbadan manusia berparas seperti Bhatara Kresna berwatak bagaikan Baladewa bersenjata Trisula Wedha, adalah tanda-tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam harus mengembalikan orang berhutang wajib membayar.
Prediksi saya tahun 2008 telah hadir ngejawantah di bumi nusantara berupa senjata Trisula Wedha atau Dewa/Putra Bathara Indra, munculnya di daerah Banyuwangi, sesuai dengan bait 161 “ bengawan banyu”). Tempat munculnya di Banyuwangi bukan secara kebetulan, karena daerah tsb dahulu adalah tempat pertemuan & perpisahan Prabu Brawijaya V (Sunan Lawu) dgn Sabdopalon & Noyogenggong, disaksikan Sunan Kalijaga (mengacu pada naskah Darmogandul).
Darmogandhul (Jawa) :
“Sang Prabu karsane arep ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna.
Sang Prabu ngungun serta nenggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk Negara Blambangan salina jenenge Negara Banyuwangi, dadiya tenger Sabdapalon enggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane”.
Berdasarkan kutipan serat Dharmogandul, tempat tersebut (Banyuwangi) menjadikan tanda Sabdopalon & Noyogenggong akan datang lagi ke tanah Jawa “nanti jika ada orang Jawa bersenjatakan kaweruh, yaitu yang akan diasuh Sabdopalon, orang Jawan akan diberi petunjuk tentang bener salah”. Sebagai tanda tempat tsb, oleh sang Prabu Brawijaya dgn disaksikan Sunan Kalijaga, daerah Blambangan dirubah namanya menjadi Banyuwangi menjadikan tanda Sabdopalon & Noyogenggong pulang kembali ke tanah Jawa membawa momongannya.
Seperti apakah wujud Trisula Wedha atau Dewa/Putra Bathara Indra yang dimaksud oleh kitab Musarar Jayabaya? Untuk memecahkan misteri ini, bait 161 telah memberikan kata kunci “rumahnya seperti Raden Gatotkaca” (bait 161 “andhedukuh pindha Raden Gatotkaca”). Artinya kita, diminta untuk berpikir dan menelusuri, siapakah sosok Raden Gatotkaca sehingga dikatakan sebagai rumah?
Untuk menjawab teka-teki tersebut, agar menyimak cerita wayang tentang masa kecil dan gugurnya Raden Gatotkaca. Diceritakan sewaktu Raden Gatutkaca masih bayi, pusernya tidak mempan dipotong dengan senjata apapun, maka Raden Arjuna diminta untuk pinjam pusaka Kunta kepada Dewa, tetapi hanya mendapatkan warangka/sarungnya pusaka saja, karena bilah pusaka telah terlebih dahulu diambil oleh Adipati Karna. Akhirnya pusernya Raden Gatutkaca dapat dipotong menggunakan warangka, tetapi naas warangkanya masuk kedalam puser. Kemudian pada waktu terjadinya perang Barathayuda antara Astina dengan Pandawa, Raden Gatutkaca mendapatkan lawan tangguh yaitu Adipati Karna. Diceritakan, senjata Kunta milik Adipati Karna digunakan untuk melawan Raden Gatotkaca, walaupun Raden Gatutkaca terbang menghindar dari kejaran senjata Kunta, bahkan sampai lapis langit ketujuh, tetap saja senjata Kunta mengejarnya!, dan Raden Gatotkaca tidak bisa menghindar. Hal ini disebabkan Raden Gatutkaca adalah rumah/sarangnya senjata tersebut (di pusernya bersemayam warangka/sarungnya).
Diperoleh jawaban sementara misteri teka-teki ini, bahwa Dewa/Putra Bathara Indra itu rumahnya seperti Raden Gatutkaca, dimaksud adalah Warangka.
Gambaran sementara, yang dimaksud sbg Dewa/Putra Bathara Indra yang sudah ngejawantah atau di temukan di Banyuwangi sebagai pasangan dari Warangka tersebut adalah bilah Keris.?!
Sepertinya indikasi Satrio Piningit lebih mengarah kepada gegaman/pusaka, kita simak :
Bait 164
”Putra kinasih swargi Sunan Lawu, ya Kyai Brajamusthi ya Kresna ya Herumurti, mumpuni sakehing laku, nugel tanah Jawa kaping pindho, ngerahake jin, setan, kumara, prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen abebantu manungso Jawa, padha asenjata Trisula Weda, landhepe triniji suci, bener, jejeg, jujur didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong”
(Putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu, yaitu Kyai Brajamusthi, ya Kresna, ya Herumurti, menguasai seluruh ajaran (ngelmu), memotong tanah Jawa kedua kali, mengerahkan jin dan setan seluruh makluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula wedha, tajamnya tritunggal nan suci benar, lurus, jujur didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong).
Bait 168
”Mula den udia satriya iki, wus tan abapa, tan bibi, lola wus aputus wedha Jawa,
mula ngandelake Trisula Wedha, landepe Trisula pucuk arupa gegawe sirik agawe pati utawa utang nyawa. Sing tengah sirik agawe kapitunaning liyan, sing pinggir-pinggir tulak tolak colong jupuk winaleran”
(Oleh sebab itu carilah satria itu yatim piatu, tak beranak saudara sudah lulus weda Jawa hanya berpedoman trisula, tajamnya trisula pucuk sangat tajam membawa maut atau utang nyawa, yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain, yang kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan).
Prediksi saya pada bait 164 dan 168 menggambarkan bahwa gaman/pusaka yang sebelum ditemukan memang yatim piatu, pusaka tersebut memang merupakan gaman/pusaka klangenan/ageman/putra kesayangan almarhum Sunan Lawu. Keistimewaan pusaka tersebut bersemayam 3 nur/dewa yaitu Kyai Brajamusthi, Kresna, Herumurti (asal kata Dewa adalah dari kata Div yang artinya cahaya), mampu mengerahkan jin, setan, kumara, prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo membantu orang Jawa/bangsa Indonesia.
Ciri-ciri fisik, pucuknya sangat tajam membawa maut, tengahnya pantang merugikan orang lain, dan pinggir-pinggirnya menolak pencurian dan kejahatan; Tajamnya tri tunggal nan suci; benar, lurus, jujur dan didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong (di pangkal pusaka tersebut terdapat 2 bocah kembar yang digambarkan diiringi Sambdopalon dan Noyogenggong. 2 bocah kembar ini lahir di bawah pohon beringin (lambang/pamor pohon beringin).
Untuk membuka misteri tentang gaman/pusaka tersebut telah kroscek dengan melakukan dialog batin dengan Sunan Lawu. Diakui oleh beliau bahwa pusaka tersebut memang merupakan putra kinasih (klangenan) beliau, bait 159 disebutkan seperti manusia, “ana dewa ngejawantah apengawak manungsa”) bukankah di diri masing-masing manusia terdapat 4 nur hitam, merah, kuning dan putih yang merupakan nafsu-nafsunya manusia.
Hasil deteksi, ciri-ciri pusaka terssbut telah sesuai sebagaimana digambarkan dalam kitab Musarar Jayabaya yakni bersemayam didalam pusaka 3 warna nur/cahaya yaitu Merah, Biru dan Hijau, yaitu Kyai Brajamusthi, Kresna dan Herumurthi (bait 164 ”Putra kinasih swargi Sunan Lawu, ya Kyai Brajamusthi ya Kresna ya Herumurti”), mempunyai sifat yang suci, bener, jejeg/lurus, jujur (“landhepe triniji suci, bener, jejeg, jujur”).
Spesifikasi yang lain diterangkan pada bait 164, di pangkal pusaka, tepatnya dibawah gambar pohon Beringin, terdapat 2 (dua) bocah kembar sebagai Sabdopalon & Noyogenggong (bait 164 “didampingi Sabdopalon & Noyogenggong”), dipisahkan oleh pamor/gambar, seperti rumah Merpati susun tiga (bait 161 “arupa pagupon Dara tundha tiga”).
Jika melihat ciri-ciri spesifikasi mengenai pusaka keris tersebut mengarah kepada jenis pusaka Oumyang Jembe. Jumlah jenis pusaka ini hasil dialog dgn Pangeran Diponegoro ada 27 buah (1 peti), tetapi hanya satu ini yang telah muncul dan terdapat 3 (tiga) nur dan yang dicari-cari oleh orang yang mengerti sejarah pusaka ini yang juga pusaka andalan kerajaan besar yang mempunyai wilayah terluas Sriwijaya & Majapahit, gaman ini yang disebut sebagai Satrio Piningit.
Salah satu faktor pada bait 164 gaman ini dikatakan sebagai pusaka (putra) kesayangan (kinasih) Sunan Lawu karena pusaka ini mengandung makna filosofis, sejarah & daya tuah yang luar biasa serta dipahat dalam lambang-lambang/pamor timbul. Lambang pohon Beringin yang terdapat pada pusaka tersebut menggambarkan menanam pohon bersama (Majapahit & Pajajaran yang diibaratkan sebagai satu pohon) yang akhirnya berpisah. Sedangkan Majapahit & Pajajaran dipahatkan dengan lambang 2 (dua) bocah kembar terletak di kiri–kanan, kitab Musarar Jayabaya menyebutnya sebagai diiringi Sabdopalon &Noyogenggong atau 2 (dua) bocah kembar yang lahir di bawah pohon cemara.
Sabdopalon sebagai sebuah petuah orang tua kepada anak keturunannya Raden Wijaya pendiri Majapahit (yang juga keturunan darah Sunda) mendapat wejangan dan disumpah, kelak jika nanti negaranya menjadi negara besar & luas wilayahnya, janganlah sekali-sekali menyerang Sunda/Pajajaran karena masih saudara sendiri. Dan janji /sumpah tersebut telah dipenuhi oleh Raden Wijaya.
Waktu pun terus berjalan, Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk mencapai puncak jaman keemasan dengan wilayah jangkauan kekuasaan Majapahit sangat luas. Didorong oleh ambisi Maha Patih Gajahmada mepersatukan nusantara, menganggap belum lengkap jika Sunda belum ditaklukan, maka terjadilah peristiwa perang Bubad. Atas peristiwa tersebut berarti Raden Wijaya dan keturunannya telah melanggar sumpah dan nasehat kakeknya.
Akibat pelanggaran tersebut, setelah wafatnya raja Hayam Wuruk, sinar kejayaan Majapahit berangsur-angsur memudar, sampai pada generasi Prabu Brawijaya V kerajaan Majapahit sirna ditelan bumi. Begitu juga (berdasarkan babad sunda) kerajaan Pajajaran/sunda juga sama sirna ditelan bumi, tidak berbekas (tan kasat mata). Sejak peristiwa tersebut jaman Kalajaya (jaman hunggul) telah berubah menjadi jaman kalabendu (jaman sengsara dan angkara murka), fitrah manusia sejati yang mengedepankan budi pakartai akhlak mulia/luhur (bener, lurus/eling dan jujur) telah luntur/rusak akibat pengaruh prabawa kutukan bumi jawa (kalabendu jawa).
Gejalanya dimulai jaman Kalabendu ini, menurut Serat Darmogandul ditandai datangnya orang-orang sebrang seperti dari Arab, kerbau bulai (eropa) ke bumi nusantara dan sejak saat itu burung kuntul ada kuncirnya. Dahulu sebelum jaman Kalabendu jawa terjadi belum tumbuh kuncirnya. Maknanya, melambangkan manusia jawa telah berubah sifat-sifat asli sebagai orang jawa yang sejati, seperti, hilangnya budi pakarti manusia jawa yang luhur, tidak tahu balas budi baik orang lain, jika ditolong ia membalas kejelekan dari belakang ia menohok, suka berbohong, suka memfitnah. Menghalalkan segala cara.
Diceritakan sejak Wafatnya Raden Hayam Wuruk, maka sinar kejayaan Majapahit mulai memudar. Pusaka tersebut oleh Mpu pembuatnya yaitu Mpu Gedeng Supo nama lain dari Mpu Tantular/Dang Hyang Angsokanatha di larung ke laut. Dengan harapan kelak akan ditemukan kembali dan dipegang oleh orang yang ditakdirkan untuk memegang pusaka ini. Dengan diketemukan kembali pusaka ini itulah tanda jaman kalabendu akan segera berakhir dan menuju jaman kalisuba (jaman kemakmuran). Sunda/Pajajaran memaafkan, Majapahit dan Pajajaran bersatu kembali, nusa jaya lagi.
Sebagaimana kita ketahui Mpu Tantular/Dang Hyang Angsokanatha adalah penyusun Kakawin Sutasoma yang didalamnya tercantum Bhineka Tunggal Ika adalah salah satu penasehat Raja Hayam Wuruk, sedangkan cucunya yaitu Mpu Dwijendra/Dang Hyang Nirartha/Penanda Sakti Wuwu Rawuh/Tuan Semeru adalah salah satu penasehat Prabu Brawijaya V atau Sunan Lawu. Keduanya mempunyai keterkaitan dengan masalah rahasia pusaka tersebut.
Pusaka pengayom nusantara yang dilarung ke laut tersebut oleh Mpu pembuatnya, oleh orang yang mengerti rahasia, pusaka ini dicari-cari dan bahkan konon PB X juga ikut mencari pusaka ini dengan mengadakan sayembara, barang siapa menemukan pusaka ini akan diberi hadiah serta dijadikan abdi dalem kraton, karena beliau merasa tidak kuat ketempatan pusaka ini akibat gawatnya prabawa pusaka. Pernah ada seorang nelayan yang menemukan pusaka ini tetapi nelayan tersebut dicari-cari tidak ditemukan menghilang di laut.
Sebagaimana harapan Mpu Tantular, kelak pusaka ini ditemukan dan orang yang ketempatan pusaka ini tentunya pasti seorang yang waskita dalam pandangan spiritual dan tajam mata bhatinnya serta mampu memahami makna pusaka ini. Secara filosifis tahu dan mampu tatacara menyatukan kembali Majapahit dan Pajajaran melalui pusaka ini.
Pemahaman saya tentang gaman/pusaka memang belumlah sempurna, karena belum lama mengerti tentang pusaka, saya mendapatkan referensi dari Al-Qur’an yang bisa merujuk kepada pusaka/keris pada Surah Al-Hadid 25 yang artinya :
“dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang sangat dan berbagai manfaat bagi manusia. Dan Allah hendak mengetahui siapa yang menolongnya dan rasul-rasul-Nya biarpun tidak kelihatan”.
Penelurusan tentang tokoh Mpu Tantular/Dang Hyang Angsokanatha penasehat Raja Hayam Wuruk menguasai wilayah Timur dan Tengah diibaratkan sebagai ilmunya, sedangkan Mpu Dwijendra/Dang Hyang Nirartha/Penanda Sakti Wuwu Rawuh/Tuan Semeru penasehat Sunan Lawu menguasai Barat, diibaratkan menguasai asset, atau diibaratkan Majapahit sebagai ilmunya sedangkan Sunda/Pajajaran sebagai pemilik assetnya. Mungkin disinilah letaknya, jika Majapahit (Raja Hayam Wuruk) meminang Sunda/Pajajaran (Dyah Pitaloka) yang diartikan perempuan indentik dengan harta, artinya setelah Majapahit kehilangan Sunda/Pajajaran sama saja ia kehilangan asset, ini yang tidak disadari oleh pejabat Majapahit karena sesungguhnya ada hubungan bhatin yang sangat kuat diantara keduanya. Sebagai contoh lambang/logo kemakmuran berbentuk “padi & kapas” yang terdapat di logam emas adalah milik Sunda/Pajajaran, dan lambang padi kapas juga tergambar jelas di pucuk/ujungnya gaman/pusaka yang dibuat Mpu Tantular atau bahkan pada lambang negara Burung Garuda. Hubungan bhatin terlihat dari wajah polos raja Sunda/Pajajaran yang tidak terpikir akan terjadi insiden di jalan. Demikian juga Raja Hayam Wuruk juga sangat terpukul setelah peristiwa tersebut, ia sakit dan wafat. Periswita tersebut juga membuat Mpu Tantular juga ikut terpukul, maka sebagai konsekwensinya pusaka buatannya dilarung/dibuang ke laut.
Cobalah simak Wangsit Siliwangi :
“Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong, dan bahkan berlebihan kalau bicara.”
Pada uraian di atas pernah saya kupas mengenai sejarahnya jaman Kalabendu sebagai akibat dari penghianatan Majapahit kepada Sunda/Pajajaran yaitu pada peristiwa Bubad. Hal ini terjadi karena generasi penerus utamanya para pejabat Majapahit tidak memahami sejarah dari leluhur terdahulunya. Karena dalam pikiran pejabat Majapahit tinggal Sunda yang belum di pangkuan Majapahit. Akhirnya terjadilah peristiwa yang menyakitkan hati masyarakat Sunda/Majapahit yang sesungguhnya kedua kerajaan adalah memang saudara sehidup dan semati.
Namun pada akhirnya kelak Sunda/Pajajaran akan memaafkan segala kekhilafan Majapahit itu terlihat dari kalimat “Orang Sunda dipanggil-panggil, orang Sunda memaafkan Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi …..” kita simak di bawah ini.
Wangsit Siliwangi :
“Dengarkan! Jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus. Disusul tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang Sunda dipanggil-panggil, orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil ratu adil yang sejati”.
“Tapi ratu siapa? dari mana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala”.
Berdasarkan kutipan Wangsit Siliwangi, jika Sunda telah memaafkan Majapahit, maka tandanya adalah Gunung Gede meletus disusul oleh 7 (tujuh) gunung. Yang menjadikan pertanyaan apakah Gunung Gede benar-benar meletus? Atau hanya sebuah siloka (lambang)?
Prediksi saya, kalimat tersebut hanya siloka dari pada mengarah kepada bencana alam yang banyak menelan korban dan tidak ada korelasi (kaitannya) antara bencana alam gunung meletus dengan negara bersatu kembali, nusa jaya lagi? Atau kah memang sungguh-sungguh gunung tersebut memang meletus?
Jangka Jayabaya Selebare Raja Kuning Babon Asli Kagungan Dalem Bandara Pangeran Harya Suryawijaya ing Ngayugyakarta, menerangkan bahwa Ratu Adil adalah seorang yang bersifat rendah hati tidak memiliki pamrih, bersedia mengeluarkan hartanya. Sedangkan rahasia menyangkut lokasi asset yang dimaksud oleh para leluhur dikatakan sebagai Lebak Cewene oleh Prabu Siliwangi adalah juga Gunung Perahu menurut Jayabaya, dan tempatnya di Semarang-Tembayat seperti juga telah diungkapkan oleh Jayabaya. Dengan ciri-ciri terdapat 2 sumber air besar, 3 pohon beringin dan keberadaan watu gilang. Hampir semua gunung yang mengandung rahasia mempunyai ciri-ciri khusus ini dari ujung kulon sampai ke timur.
Penelusuran keberadaan asset-asset nusatara telah disinggung oleh syair-syair Wangsit Siliwangi.
Syair-syair Wangsit Siliwangi sebagai berikut :
“… selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar.
Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong dan bahkan berkelebihan bicara”
“Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutup pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau, bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon.
Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satunya datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah, setiap waktu akan berulang, itu dan itu lagi.”
Kita kembali kepada Kitab Musarar Jayabaya untuk melihat bentuk perilaku manusia pada jaman kalabendu jawa (jaman sengsara) bentuk penyimpangan perilaku yang terjadi di masyarakat :
1. Sungguh zaman gonjang-ganjing menyaksikan zaman gila tidak ikut gila tidak dapat bagian, yang sehat pada olah pikir, para petani dibelenggu, para pembohong bersuka ria (bait 142).
2. Raja tidak menempati janji, orang makan sesamanya, kayu gelondongan dan besi juga dimakan katanya enak rasa kue bolu, malam hari semua tak bisa tidur (bait 143).
3. Yang gila dapat berdandan, yang membangkang semua dapat membangun rumah, gedung-gedung megah (bait 144).
4. Orang berdagang barang makin laris, tapi hartanya makin habis, banyak orang mati kelaparan disamping makanan, banyak orang berharta namun hidupnya sengsara (bait 145).
5. Orang waras & adil hidupnya memprihatinkan & terkucil, yg tidak dapat mencuri dibenci, yg pintar curang jadi teman, orang jujur semakin tak berkutik, orang salah makin pongah, banyak harta musnah tak jelas larinya, banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab (bait 146).
6. Bumi semakin lama semakin sempit, sejengkal tanah kena pajak, wanita memakai pakaian laki-laki (bait 147).
Akibat dari perilaku tersebut diatas mempengaruhi keseimbangan alam seperti :
1. Banjir bandang dimana-mana, gunung meletus tidak dinyana-nyana (bait 141).
2. Datangnya jaman penuh bencana di nusantara seperti tanah pecah merekah, gempa 7 kali sehari, dan bencana macam-macam.
3. Hujan salah musim.
Jaman edan akan berakhir, Sabdopalon yang termasyur dan menanggung malu, akan tampil kembali untuk membantu nusantara agar bermoral benar, lurus dan jujur (trisula weda) dengan ditandai munculnya putra kinasih swargi Sunan Lawu atau Putra Bathara Indra yang sulung.
Jika nanti jaman sudah berubah, barang siapa melanggar Sabdopalon maka konsekwensinya :
1. Banyak orang digigit nyamuk mati, digigit semut mati, banyak suara aneh tapan rupa, pasukan makluk halus sama-sama berbaris berebut garis yang benar, tak kelihatan, tak berbentuk yang memimpin putra Bathara Indra, bersenjatakan trisula weda, para asuhannya menjadi perwira perang, jika berperang tanpa pasukan sakti mandraguna tanpa aji-aji (bait 162).
2. Yang membantah pasti mati (bait 166).
Jika jaman sudah berubah menjadi jaman berakhlak trisula weda yang telah diwejang Sabdopalon maka akan terwujud jaman kemakmuran dan Indonesia akan segera menjadi negara mercusuar dunia, harta berlimpah muncul dimana-mana.
Prediksi saya perubahan jaman (wolak-waliknya jaman) dari jaman Kalabendu ke jaman Kalisuba dimulai awal bulan Suro tahun ini, yang hampir bertepatan bersamaan tahun baru Masehi, dapat disimak pada Bait 165 Pendhak Suro sambutlah kumara, yang sudah tampak menebus dosa dihadapan sang Maha Kuasa (“Pendhak Sura nguntapa kumara kang wus katon nimbus dosane kadhepake ngarsaning sang kuasa……”).
Disamping mengandung cerita sejarah, pusaka kesayangan Sunan Lawu ini juga :
1. Menguasai seluruh ajaran (ngelmu) bait 164
2. Mampu memberi perintah & mengerahkan jin, setan, kumara, prewangan dan para lelembut untuk bersatu padu membantu masyarakat Indoensia (bait 164).
3. Bergelar pangeran perang, dapat mengatasi keruwetan orang banyak (bait 163)
4. Setiap bulan Sura nguntapake kumara (bait 165)
5. Ludahnya ludah api, sabdanya sakti (terbukti) yang membantah pasti mati, orang tua, muda maupun bayi, orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi, garis sabdanya tidak akan lama (bait 166)
6. Pandai meramal seperti dewa, dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda, tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati, bijak, cermat dan sakti, mengerti sebelum sesuatu terjadi, mengerti garis hidup setiap umat, tidak khawatir tertelan zaman (bait 167).
7. Sudah lulus weda Jawa (bait 168).
Serat Centhini, pupuh 258.
“Saka marmaning Hyang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenenge nata, ing kono raharjaning, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka”
(Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murkapun mereda).
“Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji-wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya,adenge tanpa sarana, nagdam maksuming srinata, sonya rutikedatonnya”
(kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti munculnya secara ghaib, yang mempunyai sifat-sifat utama (note; yang diterjemahkan banyak pihak sabagai Satrio Piningit)
“Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita”
(datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dlm hidupnya, yg oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yg berbudi luhur)
“Luwih adil paraarta, lumuh maring brana-arta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangkan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirrullah prajuritnya, tungguling dzikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna”.
(Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dgn harta benda, bernama Sultan Erucakra, tdk ketahuan asal kedatangannya, tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya kepercayaan/keimanan thdp Allah SWT prajuritnya dan senjatanya adalah semata-mata dzikir, musuh semua bisa dikalahkan)
“Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagad sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahira, pitung reyal ika, tan karsa lamun luwiha”
(Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan Negara dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterimanya)
“Bumi sakjung pajegira, among sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda”
(Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang & pangan)
“Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak wana, panjenenganin sang nata”
(Tidak ada penjahat, semua sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil bijaksana).
Menurut kitab Musarar Jayabaya era sekarang masuk jaman Kalabendu (jaman sengsara), disebut kalabendu (kutukan bumi) disebabkan dari pengaruh hawa kutukan bumi, biasnya perilaku manusia menjadi edan (gila) dan hidupnya sengsara “hidup di jaman edan kalau tidak edan tidak kebagian”.
Pada masa-masa sulit di jaman edan (jaman kalabendu) ini, masyarakat nusantara mendambakan datangnya jaman kalisuba (jaman kemakmuran) yang ditandai datangnya sosok Satrio Piningit dan Ratu Adil sebagaimana yang ditulis pada bait-bait syair terakhir kitab Musarar Jayabaya, Uga Wangsit Siliwangi dan Ramalan Ronggowarsito.
Karya-karya leluhur nusantara antara satu dengan lainnya walaupun berbeda masa/periode yang jauh berselang, namun di dalam perlambangnya memiliki saling keterkaitan. Suatu perlambang dalam suatu karya menunjuk kepada perlambang atau karakter yang lain di dalam karya leluhur yang berbeda.
Masing-masing orang bisa saja menafsirkan yang berbeda-beda, tidak ada yang melarang. Bebas-bebas saja. Benar tidaknya kembali kepada diri kita masing-masing. Inilah tabir misteri menurut saya.
Wangsit Siliwangi :
“Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. tapi memang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hese apes ku rogahala”
(“Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan raja dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata, karena jelas keturunan raja penguasa baru susah dianiaya”).
Inilah Soekarno, Presiden pertama NKRI, ibunda Soekarno adalah Ida Ayu Nyoman Rai seorang putri bangsawan Bali. Ayahnya seorang guru bernama Raden Soekeni Sosrodihardjo. Namun dari penelusuran secara spiritual, ayahanda Soekarno sebenarnya adalah Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X. Nama kecil Soekarno adalah Raden Mas Malikul Koesno. Beliau termasuk “anak ciritan” dalam lingkaran kraton Solo.
Kitab Musarar Jayabaya, dalam Sinom bait 18 :
“Dene jejuluke nata, Lung gadung rara nglikasi, Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki, Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhing bebendu, Kerem negaranira, Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa”
(“Nama rajanya Lung Gadung Rara Nglikasi kemudian berganti Gajah Meta Semune Tengu Lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajak rakyat adalah …..”)
Lung Gadung Rara Nglikasi memiliki makna yaitu pemimpin yang penuh inisiatif (cerdas) namun memiliki kelemahan mudah tergoda wanita. Perlambang ini menunjuk kepada Presiden pertama RI, Soekarno. Sedangkan Gajah Meta Semune Tengu Lelaki bermakna pemimpin yang kuat karena disegani atau ditakuti, namun akhirnya terhina atau nista. Perlambang ini menunjuk kepada presiden kedua RI, Soeharto. Dalam bait ini juga dikatakan bahwa Negara selama 60 tahun menerima kutukan sehingga tidak ada kepastian hukum.
Dalam bait 20 dikatakan :
“Bejade ingkang Negara, Narendra pisah lan abdi. Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram”
(“Negara rusak, Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram”)
Bait ini menggambarkan situasi Negara yang kacau. Pemimpin jauh dari rakyat, dan dimulainya era baru dengan apa yang dinamakan otonomi daerah sebagai implikasi bergulirnya reformasi (Jaman Kutila). Karakter pemimpinnya saling jegal untuk saling menjatuhkan (Raja Kara Murka). Perlambang Panji Loro Semune Pajang – Mataram bermakna ada dua kekuatan pimpinan yang berseteru, yang satu dilambangkan dari trah Pajang (Joko Tingkir), dan yang lain dilambangkan dari trah Mataram (Pakubuwono), hal ini menunjuk kepada era Gus Dur dan Megawati.
Pada bait 22, dikatakan :
“Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih,Lajengipun sinung lambang, Dene Maolana Ngali, Samsujen Sang-a Yogi, Tekane Sang Kala Bendu, Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngrawuhi, Sasmitane lambang kang kocap punika”
(“Tan Kober Paes Sarira, Sinjang Kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu, Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut”)
Perlambang Tan Kober Paes Sarira, Sinjang Kemben tan Tinolih bermakna pemimpin yang tidak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah, ini menunjuk kepada Presiden RI keenam saat ini yaitu Susilo Bambang Yudhoyono.
Perlambang Semarang-Tembayat merupakan tempat dimana seseorang memahami dan mengetahui solusi dari apa yang terjadi. Jawaban & solusi mengatasi carut marut keadaan bangsa ini ada di “Semarang Tembayat” yang telah diungkap oleh Prabu Jayabaya guna membantu memecahkan misteri ini.
Kemudian bait 27 berbunyi :
“Dene besuk nuli ana, Tekane kang Tunjung Putih, Semune Pudhak Kasungsang, Bumi Mekah dennya lair, Iku kang angratoni, Jagad kabeh ingkang mengku. Juluk Ratu Amisan. Sirep musibating bumi, Wong nakoda milu manjing ing samuwan”
(“Kemudian kelak akan datang Tanjung Putih Semune Pudak Kasungsang. Lahir di bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan”)
Perlambang Tanjung Putih Semune Pudak Kasungsang memiliki makna seorang pemimpin yang masih tersembunyi berhati suci dan bersih. Inilah seorang pemimpin yang dikenal banyak orang dengan nama Ratu Adil sebagai pemimpin yang membawa amanat untuk membenahi kerusakan dahsyat bumi nusantara akibat bencana kemanusiaan dan bencana alam. Lahir di bumi Mekah merupakan perlambang bahwa pemimpin tersebut adalah seorang Islam sejati yang memiliki tingkat ketauhidan yang sangat tinggi.
Bait 28 tertulis :
“Prabu tusing Waliyullah, Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki, Perak lan Gunung Perahu, Sakulone tempuran, Balane samya jrih asih, Iya iku ratu rinenggeng sajagad”
(“Raja utusan waliyullah. berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan Gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia”)
Prediksi saya tentang bait tersebut, yang dimaksud dengan hasil didikan/tempaan seorang waliyullah (aulia) yang juga selalu tersembunyi berkedaton di Mekah dan Tanah Jawa adalah 2 (dua) waliyullah tersembunyi (menitis) di dalam dirinya (“sawiji”); yang satu seorang aulia dari Mekah dan yang satunya lagi seorang raja Jawa. Orang yang dimaksud merupakan Islam sejati, sudah makom Ma’rifat Mukasyafah, serta berciri khusus terdapat andheng-andheng (tahi lalat) segi tiga yang jelas sangat kelihatan (“dingklik”) “sanalika iku wong Jawa akeh kang tesmak bathok, senajan mlorok ora ndelok, andheng-andheng dingklik”. Pemimpin tersebut akan mampu memimpin nusantara ini dengan baik, adil dan membawa kepada kesejahteraan rakyat, serta menjadikan nusantara sebagai “barometer dunia” (istilah Bung Karno : “Negara mercusuar”).
Saya mencoba menelusuri alat-alatnya yang menandai datangnya Sang Ratu Adil pada serat Jangka Jayabaya/catursabda, Pethikan Seratan Tangan Kangge Sambetan Jangka Triwikrama :
”.. Kulup ingsun mangsit marang sira ... sanalika iku wong Jawa akeh kang tesmak bathok, senajan mlorok ora ndelok, andheng-andheng dingklik. Lah ing kono kulup, ora suwe bakal katon alat-alate kang minangka dadi cacaloning Sang Ratu Adil Panetep Panata Agama Kalipatullah”
”.... mung gegamane bae golekana kongsi katemu ”.
Kemudian kita simak serat Paweling (Peringatan), sebagai berikut :
”Nanging piweling ingsun, diawas dieling, jejegna imanira, turuten gustinira ratu adil panetep panata gama. Golekana gegamane sing nganti ketemu, turuten dalane, ngetutburia saparane..”,
Pada syair tersebut, Jangka Jayabaya memberikan pesan/paweling, agar kita selalu waspada dan ingat kepada Tuhannya, tegakan iman, jadilah pengikut Ratu Adil Panetep Panata gama, dan kita diminta untuk mencari ”senjatanya” sampai ketemu.
Kitab Musarar Jayabaya, Bait 159
“Se lelet-lelete yen mbesuk ngancik tutup tahun sinungkalan dewa wolu, ngasto manggalaning ratu, bakal ana dewa ngejawantah apengawak manungsa, apasuryan padha Bethara Kresna, awewatak Baladewa, agegaman Trisula Wedha. Jinejer wolak-waliking jaman, wong nyilih mbalekake, wong utang mbayar, utang nyawa bayar nyawa, utang wirang nyaur wirang”
(Selambat-lambatnya kelak menjelang tutup “sinungkalan dewa wolu, ngasto manggalaning ratu”, akan ada dewa tampil berbadan manusia, berparas seperti Bathara Kresna berwatak seperti Baladewa, bersenjatakan trisula wedha, tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam mengembalikan, orang berhutang membayar, hutang nyawa bayar nyawa, hutang malu dibayar malu)
Bait 160
“Sadurunge ana tetenger lintang kemukus lawa ngalu-alu tumanja ana kidul wetan bener lawase pitung bengi, perak esuk bener ilange Bathara Surya njumedhul …… iku tandane putra Bathara Indra wus katon tumeka ing arcapada …. “
(Sebelumnya ada pertanda Lintang Kemukus panjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timur lamanya tujuh malam, hilangnya menjelang pagi sekali bersama munculnya Batara Surya bebarengan dengan hilangnya kesengsaraan manusia yang berlarut-karut)
Bait 161
“Dununge ana sikile redi Lawu sisih Wetan, Wetane bengawan banyu, andhedukuh pindha Raden Gatotkaca, arupa pagupon Dara tundha tiga, kaya manungsa angleledha”.
(Asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur, sebelah Timurnya bengawan, berumah seperti Raden Gatutkaca, berupa rumah merpati susun tiga, seperti manusia yang menggoda)
Memahami bait 159 s/d 161: sinungkalan dewa wolu (8), ngasta (2) manggalaning (9) ratu (1) mungkin maksudnya tahun Jawa 1928 atau 2006 Masehi (dalam perkiraan yang tepat 2008) akan dewa tampil berbadan manusia berparas seperti Bhatara Kresna berwatak bagaikan Baladewa bersenjata Trisula Wedha, adalah tanda-tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam harus mengembalikan orang berhutang wajib membayar.
Prediksi saya tahun 2008 telah hadir ngejawantah di bumi nusantara berupa senjata Trisula Wedha atau Dewa/Putra Bathara Indra, munculnya di daerah Banyuwangi, sesuai dengan bait 161 “ bengawan banyu”). Tempat munculnya di Banyuwangi bukan secara kebetulan, karena daerah tsb dahulu adalah tempat pertemuan & perpisahan Prabu Brawijaya V (Sunan Lawu) dgn Sabdopalon & Noyogenggong, disaksikan Sunan Kalijaga (mengacu pada naskah Darmogandul).
Darmogandhul (Jawa) :
“Sang Prabu karsane arep ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna.
Sang Prabu ngungun serta nenggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk Negara Blambangan salina jenenge Negara Banyuwangi, dadiya tenger Sabdapalon enggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane”.
Berdasarkan kutipan serat Dharmogandul, tempat tersebut (Banyuwangi) menjadikan tanda Sabdopalon & Noyogenggong akan datang lagi ke tanah Jawa “nanti jika ada orang Jawa bersenjatakan kaweruh, yaitu yang akan diasuh Sabdopalon, orang Jawan akan diberi petunjuk tentang bener salah”. Sebagai tanda tempat tsb, oleh sang Prabu Brawijaya dgn disaksikan Sunan Kalijaga, daerah Blambangan dirubah namanya menjadi Banyuwangi menjadikan tanda Sabdopalon & Noyogenggong pulang kembali ke tanah Jawa membawa momongannya.
Seperti apakah wujud Trisula Wedha atau Dewa/Putra Bathara Indra yang dimaksud oleh kitab Musarar Jayabaya? Untuk memecahkan misteri ini, bait 161 telah memberikan kata kunci “rumahnya seperti Raden Gatotkaca” (bait 161 “andhedukuh pindha Raden Gatotkaca”). Artinya kita, diminta untuk berpikir dan menelusuri, siapakah sosok Raden Gatotkaca sehingga dikatakan sebagai rumah?
Untuk menjawab teka-teki tersebut, agar menyimak cerita wayang tentang masa kecil dan gugurnya Raden Gatotkaca. Diceritakan sewaktu Raden Gatutkaca masih bayi, pusernya tidak mempan dipotong dengan senjata apapun, maka Raden Arjuna diminta untuk pinjam pusaka Kunta kepada Dewa, tetapi hanya mendapatkan warangka/sarungnya pusaka saja, karena bilah pusaka telah terlebih dahulu diambil oleh Adipati Karna. Akhirnya pusernya Raden Gatutkaca dapat dipotong menggunakan warangka, tetapi naas warangkanya masuk kedalam puser. Kemudian pada waktu terjadinya perang Barathayuda antara Astina dengan Pandawa, Raden Gatutkaca mendapatkan lawan tangguh yaitu Adipati Karna. Diceritakan, senjata Kunta milik Adipati Karna digunakan untuk melawan Raden Gatotkaca, walaupun Raden Gatutkaca terbang menghindar dari kejaran senjata Kunta, bahkan sampai lapis langit ketujuh, tetap saja senjata Kunta mengejarnya!, dan Raden Gatotkaca tidak bisa menghindar. Hal ini disebabkan Raden Gatutkaca adalah rumah/sarangnya senjata tersebut (di pusernya bersemayam warangka/sarungnya).
Diperoleh jawaban sementara misteri teka-teki ini, bahwa Dewa/Putra Bathara Indra itu rumahnya seperti Raden Gatutkaca, dimaksud adalah Warangka.
Gambaran sementara, yang dimaksud sbg Dewa/Putra Bathara Indra yang sudah ngejawantah atau di temukan di Banyuwangi sebagai pasangan dari Warangka tersebut adalah bilah Keris.?!
Sepertinya indikasi Satrio Piningit lebih mengarah kepada gegaman/pusaka, kita simak :
Bait 164
”Putra kinasih swargi Sunan Lawu, ya Kyai Brajamusthi ya Kresna ya Herumurti, mumpuni sakehing laku, nugel tanah Jawa kaping pindho, ngerahake jin, setan, kumara, prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen abebantu manungso Jawa, padha asenjata Trisula Weda, landhepe triniji suci, bener, jejeg, jujur didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong”
(Putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu, yaitu Kyai Brajamusthi, ya Kresna, ya Herumurti, menguasai seluruh ajaran (ngelmu), memotong tanah Jawa kedua kali, mengerahkan jin dan setan seluruh makluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula wedha, tajamnya tritunggal nan suci benar, lurus, jujur didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong).
Bait 168
”Mula den udia satriya iki, wus tan abapa, tan bibi, lola wus aputus wedha Jawa,
mula ngandelake Trisula Wedha, landepe Trisula pucuk arupa gegawe sirik agawe pati utawa utang nyawa. Sing tengah sirik agawe kapitunaning liyan, sing pinggir-pinggir tulak tolak colong jupuk winaleran”
(Oleh sebab itu carilah satria itu yatim piatu, tak beranak saudara sudah lulus weda Jawa hanya berpedoman trisula, tajamnya trisula pucuk sangat tajam membawa maut atau utang nyawa, yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain, yang kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan).
Prediksi saya pada bait 164 dan 168 menggambarkan bahwa gaman/pusaka yang sebelum ditemukan memang yatim piatu, pusaka tersebut memang merupakan gaman/pusaka klangenan/ageman/putra kesayangan almarhum Sunan Lawu. Keistimewaan pusaka tersebut bersemayam 3 nur/dewa yaitu Kyai Brajamusthi, Kresna, Herumurti (asal kata Dewa adalah dari kata Div yang artinya cahaya), mampu mengerahkan jin, setan, kumara, prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo membantu orang Jawa/bangsa Indonesia.
Ciri-ciri fisik, pucuknya sangat tajam membawa maut, tengahnya pantang merugikan orang lain, dan pinggir-pinggirnya menolak pencurian dan kejahatan; Tajamnya tri tunggal nan suci; benar, lurus, jujur dan didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong (di pangkal pusaka tersebut terdapat 2 bocah kembar yang digambarkan diiringi Sambdopalon dan Noyogenggong. 2 bocah kembar ini lahir di bawah pohon beringin (lambang/pamor pohon beringin).
Untuk membuka misteri tentang gaman/pusaka tersebut telah kroscek dengan melakukan dialog batin dengan Sunan Lawu. Diakui oleh beliau bahwa pusaka tersebut memang merupakan putra kinasih (klangenan) beliau, bait 159 disebutkan seperti manusia, “ana dewa ngejawantah apengawak manungsa”) bukankah di diri masing-masing manusia terdapat 4 nur hitam, merah, kuning dan putih yang merupakan nafsu-nafsunya manusia.
Hasil deteksi, ciri-ciri pusaka terssbut telah sesuai sebagaimana digambarkan dalam kitab Musarar Jayabaya yakni bersemayam didalam pusaka 3 warna nur/cahaya yaitu Merah, Biru dan Hijau, yaitu Kyai Brajamusthi, Kresna dan Herumurthi (bait 164 ”Putra kinasih swargi Sunan Lawu, ya Kyai Brajamusthi ya Kresna ya Herumurti”), mempunyai sifat yang suci, bener, jejeg/lurus, jujur (“landhepe triniji suci, bener, jejeg, jujur”).
Spesifikasi yang lain diterangkan pada bait 164, di pangkal pusaka, tepatnya dibawah gambar pohon Beringin, terdapat 2 (dua) bocah kembar sebagai Sabdopalon & Noyogenggong (bait 164 “didampingi Sabdopalon & Noyogenggong”), dipisahkan oleh pamor/gambar, seperti rumah Merpati susun tiga (bait 161 “arupa pagupon Dara tundha tiga”).
Jika melihat ciri-ciri spesifikasi mengenai pusaka keris tersebut mengarah kepada jenis pusaka Oumyang Jembe. Jumlah jenis pusaka ini hasil dialog dgn Pangeran Diponegoro ada 27 buah (1 peti), tetapi hanya satu ini yang telah muncul dan terdapat 3 (tiga) nur dan yang dicari-cari oleh orang yang mengerti sejarah pusaka ini yang juga pusaka andalan kerajaan besar yang mempunyai wilayah terluas Sriwijaya & Majapahit, gaman ini yang disebut sebagai Satrio Piningit.
Salah satu faktor pada bait 164 gaman ini dikatakan sebagai pusaka (putra) kesayangan (kinasih) Sunan Lawu karena pusaka ini mengandung makna filosofis, sejarah & daya tuah yang luar biasa serta dipahat dalam lambang-lambang/pamor timbul. Lambang pohon Beringin yang terdapat pada pusaka tersebut menggambarkan menanam pohon bersama (Majapahit & Pajajaran yang diibaratkan sebagai satu pohon) yang akhirnya berpisah. Sedangkan Majapahit & Pajajaran dipahatkan dengan lambang 2 (dua) bocah kembar terletak di kiri–kanan, kitab Musarar Jayabaya menyebutnya sebagai diiringi Sabdopalon &Noyogenggong atau 2 (dua) bocah kembar yang lahir di bawah pohon cemara.
Sabdopalon sebagai sebuah petuah orang tua kepada anak keturunannya Raden Wijaya pendiri Majapahit (yang juga keturunan darah Sunda) mendapat wejangan dan disumpah, kelak jika nanti negaranya menjadi negara besar & luas wilayahnya, janganlah sekali-sekali menyerang Sunda/Pajajaran karena masih saudara sendiri. Dan janji /sumpah tersebut telah dipenuhi oleh Raden Wijaya.
Waktu pun terus berjalan, Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk mencapai puncak jaman keemasan dengan wilayah jangkauan kekuasaan Majapahit sangat luas. Didorong oleh ambisi Maha Patih Gajahmada mepersatukan nusantara, menganggap belum lengkap jika Sunda belum ditaklukan, maka terjadilah peristiwa perang Bubad. Atas peristiwa tersebut berarti Raden Wijaya dan keturunannya telah melanggar sumpah dan nasehat kakeknya.
Akibat pelanggaran tersebut, setelah wafatnya raja Hayam Wuruk, sinar kejayaan Majapahit berangsur-angsur memudar, sampai pada generasi Prabu Brawijaya V kerajaan Majapahit sirna ditelan bumi. Begitu juga (berdasarkan babad sunda) kerajaan Pajajaran/sunda juga sama sirna ditelan bumi, tidak berbekas (tan kasat mata). Sejak peristiwa tersebut jaman Kalajaya (jaman hunggul) telah berubah menjadi jaman kalabendu (jaman sengsara dan angkara murka), fitrah manusia sejati yang mengedepankan budi pakartai akhlak mulia/luhur (bener, lurus/eling dan jujur) telah luntur/rusak akibat pengaruh prabawa kutukan bumi jawa (kalabendu jawa).
Gejalanya dimulai jaman Kalabendu ini, menurut Serat Darmogandul ditandai datangnya orang-orang sebrang seperti dari Arab, kerbau bulai (eropa) ke bumi nusantara dan sejak saat itu burung kuntul ada kuncirnya. Dahulu sebelum jaman Kalabendu jawa terjadi belum tumbuh kuncirnya. Maknanya, melambangkan manusia jawa telah berubah sifat-sifat asli sebagai orang jawa yang sejati, seperti, hilangnya budi pakarti manusia jawa yang luhur, tidak tahu balas budi baik orang lain, jika ditolong ia membalas kejelekan dari belakang ia menohok, suka berbohong, suka memfitnah. Menghalalkan segala cara.
Diceritakan sejak Wafatnya Raden Hayam Wuruk, maka sinar kejayaan Majapahit mulai memudar. Pusaka tersebut oleh Mpu pembuatnya yaitu Mpu Gedeng Supo nama lain dari Mpu Tantular/Dang Hyang Angsokanatha di larung ke laut. Dengan harapan kelak akan ditemukan kembali dan dipegang oleh orang yang ditakdirkan untuk memegang pusaka ini. Dengan diketemukan kembali pusaka ini itulah tanda jaman kalabendu akan segera berakhir dan menuju jaman kalisuba (jaman kemakmuran). Sunda/Pajajaran memaafkan, Majapahit dan Pajajaran bersatu kembali, nusa jaya lagi.
Sebagaimana kita ketahui Mpu Tantular/Dang Hyang Angsokanatha adalah penyusun Kakawin Sutasoma yang didalamnya tercantum Bhineka Tunggal Ika adalah salah satu penasehat Raja Hayam Wuruk, sedangkan cucunya yaitu Mpu Dwijendra/Dang Hyang Nirartha/Penanda Sakti Wuwu Rawuh/Tuan Semeru adalah salah satu penasehat Prabu Brawijaya V atau Sunan Lawu. Keduanya mempunyai keterkaitan dengan masalah rahasia pusaka tersebut.
Pusaka pengayom nusantara yang dilarung ke laut tersebut oleh Mpu pembuatnya, oleh orang yang mengerti rahasia, pusaka ini dicari-cari dan bahkan konon PB X juga ikut mencari pusaka ini dengan mengadakan sayembara, barang siapa menemukan pusaka ini akan diberi hadiah serta dijadikan abdi dalem kraton, karena beliau merasa tidak kuat ketempatan pusaka ini akibat gawatnya prabawa pusaka. Pernah ada seorang nelayan yang menemukan pusaka ini tetapi nelayan tersebut dicari-cari tidak ditemukan menghilang di laut.
Sebagaimana harapan Mpu Tantular, kelak pusaka ini ditemukan dan orang yang ketempatan pusaka ini tentunya pasti seorang yang waskita dalam pandangan spiritual dan tajam mata bhatinnya serta mampu memahami makna pusaka ini. Secara filosifis tahu dan mampu tatacara menyatukan kembali Majapahit dan Pajajaran melalui pusaka ini.
Pemahaman saya tentang gaman/pusaka memang belumlah sempurna, karena belum lama mengerti tentang pusaka, saya mendapatkan referensi dari Al-Qur’an yang bisa merujuk kepada pusaka/keris pada Surah Al-Hadid 25 yang artinya :
“dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang sangat dan berbagai manfaat bagi manusia. Dan Allah hendak mengetahui siapa yang menolongnya dan rasul-rasul-Nya biarpun tidak kelihatan”.
Penelurusan tentang tokoh Mpu Tantular/Dang Hyang Angsokanatha penasehat Raja Hayam Wuruk menguasai wilayah Timur dan Tengah diibaratkan sebagai ilmunya, sedangkan Mpu Dwijendra/Dang Hyang Nirartha/Penanda Sakti Wuwu Rawuh/Tuan Semeru penasehat Sunan Lawu menguasai Barat, diibaratkan menguasai asset, atau diibaratkan Majapahit sebagai ilmunya sedangkan Sunda/Pajajaran sebagai pemilik assetnya. Mungkin disinilah letaknya, jika Majapahit (Raja Hayam Wuruk) meminang Sunda/Pajajaran (Dyah Pitaloka) yang diartikan perempuan indentik dengan harta, artinya setelah Majapahit kehilangan Sunda/Pajajaran sama saja ia kehilangan asset, ini yang tidak disadari oleh pejabat Majapahit karena sesungguhnya ada hubungan bhatin yang sangat kuat diantara keduanya. Sebagai contoh lambang/logo kemakmuran berbentuk “padi & kapas” yang terdapat di logam emas adalah milik Sunda/Pajajaran, dan lambang padi kapas juga tergambar jelas di pucuk/ujungnya gaman/pusaka yang dibuat Mpu Tantular atau bahkan pada lambang negara Burung Garuda. Hubungan bhatin terlihat dari wajah polos raja Sunda/Pajajaran yang tidak terpikir akan terjadi insiden di jalan. Demikian juga Raja Hayam Wuruk juga sangat terpukul setelah peristiwa tersebut, ia sakit dan wafat. Periswita tersebut juga membuat Mpu Tantular juga ikut terpukul, maka sebagai konsekwensinya pusaka buatannya dilarung/dibuang ke laut.
Cobalah simak Wangsit Siliwangi :
“Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong, dan bahkan berlebihan kalau bicara.”
Pada uraian di atas pernah saya kupas mengenai sejarahnya jaman Kalabendu sebagai akibat dari penghianatan Majapahit kepada Sunda/Pajajaran yaitu pada peristiwa Bubad. Hal ini terjadi karena generasi penerus utamanya para pejabat Majapahit tidak memahami sejarah dari leluhur terdahulunya. Karena dalam pikiran pejabat Majapahit tinggal Sunda yang belum di pangkuan Majapahit. Akhirnya terjadilah peristiwa yang menyakitkan hati masyarakat Sunda/Majapahit yang sesungguhnya kedua kerajaan adalah memang saudara sehidup dan semati.
Namun pada akhirnya kelak Sunda/Pajajaran akan memaafkan segala kekhilafan Majapahit itu terlihat dari kalimat “Orang Sunda dipanggil-panggil, orang Sunda memaafkan Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi …..” kita simak di bawah ini.
Wangsit Siliwangi :
“Dengarkan! Jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus. Disusul tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang Sunda dipanggil-panggil, orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil ratu adil yang sejati”.
“Tapi ratu siapa? dari mana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala”.
Berdasarkan kutipan Wangsit Siliwangi, jika Sunda telah memaafkan Majapahit, maka tandanya adalah Gunung Gede meletus disusul oleh 7 (tujuh) gunung. Yang menjadikan pertanyaan apakah Gunung Gede benar-benar meletus? Atau hanya sebuah siloka (lambang)?
Prediksi saya, kalimat tersebut hanya siloka dari pada mengarah kepada bencana alam yang banyak menelan korban dan tidak ada korelasi (kaitannya) antara bencana alam gunung meletus dengan negara bersatu kembali, nusa jaya lagi? Atau kah memang sungguh-sungguh gunung tersebut memang meletus?
Jangka Jayabaya Selebare Raja Kuning Babon Asli Kagungan Dalem Bandara Pangeran Harya Suryawijaya ing Ngayugyakarta, menerangkan bahwa Ratu Adil adalah seorang yang bersifat rendah hati tidak memiliki pamrih, bersedia mengeluarkan hartanya. Sedangkan rahasia menyangkut lokasi asset yang dimaksud oleh para leluhur dikatakan sebagai Lebak Cewene oleh Prabu Siliwangi adalah juga Gunung Perahu menurut Jayabaya, dan tempatnya di Semarang-Tembayat seperti juga telah diungkapkan oleh Jayabaya. Dengan ciri-ciri terdapat 2 sumber air besar, 3 pohon beringin dan keberadaan watu gilang. Hampir semua gunung yang mengandung rahasia mempunyai ciri-ciri khusus ini dari ujung kulon sampai ke timur.
Penelusuran keberadaan asset-asset nusatara telah disinggung oleh syair-syair Wangsit Siliwangi.
Syair-syair Wangsit Siliwangi sebagai berikut :
“… selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar.
Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong dan bahkan berkelebihan bicara”
“Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutup pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau, bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon.
Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satunya datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah, setiap waktu akan berulang, itu dan itu lagi.”
Kita kembali kepada Kitab Musarar Jayabaya untuk melihat bentuk perilaku manusia pada jaman kalabendu jawa (jaman sengsara) bentuk penyimpangan perilaku yang terjadi di masyarakat :
1. Sungguh zaman gonjang-ganjing menyaksikan zaman gila tidak ikut gila tidak dapat bagian, yang sehat pada olah pikir, para petani dibelenggu, para pembohong bersuka ria (bait 142).
2. Raja tidak menempati janji, orang makan sesamanya, kayu gelondongan dan besi juga dimakan katanya enak rasa kue bolu, malam hari semua tak bisa tidur (bait 143).
3. Yang gila dapat berdandan, yang membangkang semua dapat membangun rumah, gedung-gedung megah (bait 144).
4. Orang berdagang barang makin laris, tapi hartanya makin habis, banyak orang mati kelaparan disamping makanan, banyak orang berharta namun hidupnya sengsara (bait 145).
5. Orang waras & adil hidupnya memprihatinkan & terkucil, yg tidak dapat mencuri dibenci, yg pintar curang jadi teman, orang jujur semakin tak berkutik, orang salah makin pongah, banyak harta musnah tak jelas larinya, banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab (bait 146).
6. Bumi semakin lama semakin sempit, sejengkal tanah kena pajak, wanita memakai pakaian laki-laki (bait 147).
Akibat dari perilaku tersebut diatas mempengaruhi keseimbangan alam seperti :
1. Banjir bandang dimana-mana, gunung meletus tidak dinyana-nyana (bait 141).
2. Datangnya jaman penuh bencana di nusantara seperti tanah pecah merekah, gempa 7 kali sehari, dan bencana macam-macam.
3. Hujan salah musim.
Jaman edan akan berakhir, Sabdopalon yang termasyur dan menanggung malu, akan tampil kembali untuk membantu nusantara agar bermoral benar, lurus dan jujur (trisula weda) dengan ditandai munculnya putra kinasih swargi Sunan Lawu atau Putra Bathara Indra yang sulung.
Jika nanti jaman sudah berubah, barang siapa melanggar Sabdopalon maka konsekwensinya :
1. Banyak orang digigit nyamuk mati, digigit semut mati, banyak suara aneh tapan rupa, pasukan makluk halus sama-sama berbaris berebut garis yang benar, tak kelihatan, tak berbentuk yang memimpin putra Bathara Indra, bersenjatakan trisula weda, para asuhannya menjadi perwira perang, jika berperang tanpa pasukan sakti mandraguna tanpa aji-aji (bait 162).
2. Yang membantah pasti mati (bait 166).
Jika jaman sudah berubah menjadi jaman berakhlak trisula weda yang telah diwejang Sabdopalon maka akan terwujud jaman kemakmuran dan Indonesia akan segera menjadi negara mercusuar dunia, harta berlimpah muncul dimana-mana.
Prediksi saya perubahan jaman (wolak-waliknya jaman) dari jaman Kalabendu ke jaman Kalisuba dimulai awal bulan Suro tahun ini, yang hampir bertepatan bersamaan tahun baru Masehi, dapat disimak pada Bait 165 Pendhak Suro sambutlah kumara, yang sudah tampak menebus dosa dihadapan sang Maha Kuasa (“Pendhak Sura nguntapa kumara kang wus katon nimbus dosane kadhepake ngarsaning sang kuasa……”).
Disamping mengandung cerita sejarah, pusaka kesayangan Sunan Lawu ini juga :
1. Menguasai seluruh ajaran (ngelmu) bait 164
2. Mampu memberi perintah & mengerahkan jin, setan, kumara, prewangan dan para lelembut untuk bersatu padu membantu masyarakat Indoensia (bait 164).
3. Bergelar pangeran perang, dapat mengatasi keruwetan orang banyak (bait 163)
4. Setiap bulan Sura nguntapake kumara (bait 165)
5. Ludahnya ludah api, sabdanya sakti (terbukti) yang membantah pasti mati, orang tua, muda maupun bayi, orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi, garis sabdanya tidak akan lama (bait 166)
6. Pandai meramal seperti dewa, dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda, tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati, bijak, cermat dan sakti, mengerti sebelum sesuatu terjadi, mengerti garis hidup setiap umat, tidak khawatir tertelan zaman (bait 167).
7. Sudah lulus weda Jawa (bait 168).
Serat Centhini, pupuh 258.
“Saka marmaning Hyang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenenge nata, ing kono raharjaning, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka”
(Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murkapun mereda).
“Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji-wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya,adenge tanpa sarana, nagdam maksuming srinata, sonya rutikedatonnya”
(kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti munculnya secara ghaib, yang mempunyai sifat-sifat utama (note; yang diterjemahkan banyak pihak sabagai Satrio Piningit)
“Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita”
(datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dlm hidupnya, yg oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yg berbudi luhur)
“Luwih adil paraarta, lumuh maring brana-arta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangkan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirrullah prajuritnya, tungguling dzikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna”.
(Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dgn harta benda, bernama Sultan Erucakra, tdk ketahuan asal kedatangannya, tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya kepercayaan/keimanan thdp Allah SWT prajuritnya dan senjatanya adalah semata-mata dzikir, musuh semua bisa dikalahkan)
“Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagad sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahira, pitung reyal ika, tan karsa lamun luwiha”
(Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan Negara dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterimanya)
“Bumi sakjung pajegira, among sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda”
(Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang & pangan)
“Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak wana, panjenenganin sang nata”
(Tidak ada penjahat, semua sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil bijaksana).
Rabu, 05 Desember 2012
Sejarah Penghuni Pulau Jawa
Bicara tentang sejarah pulau Jawa sama halnya dengan membicarakan sejarah panjang umat manusia di muka bumi. Setidaknya berdasarkan mitos dan legenda, baik yang tercatat maupun dari lisan penduduk yang tinggal d
i pulau Jawa yang diceritakan secara turun temurun dari jaman nenek moyang. Masih sulit untuk dapat diterima nalar, dan dijabarkan dengan logika sehingga mungkin tidak mudah untuk memilah dan menentukan yang benar dan yang salah. Karena memang demikianlah cara legenda bercerita, demikian adanya. Bila anda suka, tak perlu berpanjang lebar lagi, dan silakan menikmati.
Pulau terbesar dengan penduduknya paling banyak di seluruh Indonesia ini, tidak menyangka, kalau dahulunya adalah pulau terkecil dan terpecah-belah oleh persilangan laut antara utara dan selatan. Kisah dipersatukannya seluruh pulau yang terdapat di berbagai pulau Jawa, akibat dari kesaktian yang dimiliki oleh Brahmana Agung bernama Shang Hyang Dewa. Konon dengan kesaktian beliau, pulau itu ditarik satu persatu menjadi pulau terbesar dan dinamakan Bumi Ing Jowo Dwipo. Semasa pulau ini belum terjamaah oleh manusia, para siluman dari bangsa seleman dan togog telah lebih dulu menduduki hingga ribuan tahun lamanya. Masa itu pulau Jawa disebut dengan nama Mokso Seleman (zaman para lelembut). Namun setelah keturunan dari Shang Hyang Nurasa menduduki bumi Jawa (Shang Hyang Dewa) pulau itu disebut dengan nama bumi pengurip (bumi yang di hidupkan). Shang Hyang Dewa akhirnya moksa di puncak Gunung Tidar, setelah beliau menyatukan berbagai bangsa lelembut untuk menuju jalan Adil (Kebenaran), dan dari keturunannya.
Terlahir pula para Shang Hyang Agung, seperti Shang Hyang Citra Suma, Shyang Hyang Dinata Dewa, Shang Hyang Panca Dria, yang akhirnya dari merekalah sebuah titisan atau wasilah turun-temurun menjadi kerajaan teragung yang absolut. Baru diabad ke 12, pulau Jawa diperluas dengan tiga aliran yang berbeda, yaitu dengan adanya ajaran Hindu, mokso Jawi dan Islam. Akhir dari ketiga aliran tersebut nantinya menjadi suatu perlambangan dari perwatakan penduduk pulau Jawa hingga sekarang ini. Dalam perluasan arti ketiga diatas, mencerminkan sebuah kehidupan bermasyarakat gemah ripah loh jinawi. Konon ajaran ini hanya ada di pulau Jawa dan seterusnya menyebar ke seluruh pelosok yang ada di Indonesia, seperti ajaran Hindu misalnya, ilmu yang diajarkan oleh para Shanghyang Dewa, ilmu, sebagai aji rrasa manunggaling agung. Lewat bait sansekerta Yunani yang mengupas di dalamnya, kebenaran, keadilan, kejujuran dan memahami sifat alam. Ilmu ini akhirnya diturunkan oleh bapaknya para dewa. Raden Nurasa kepada Nabiyullah Khidir a.s. dan di zaman Wali Songo nanti, ilmu ini dipegang dan menjadi lambang dari sifat kependudukan masyarakat Jawa oleh tiga tokoh Waliyullah, yaitu Sunan KaliJaga, Mbah Cakra Buana dan Khanjeng Syekh Siti Jenar. Moksa Jawi sendiri, sebuah ilmu yang mengupas tentang kedigdayaan ilmu yang bersumber dari raj lelembut, bernama raja lautan. ini sangat berperan dan menjadi salah satu perwatakan masyarakat Jawa. Konon ajaran yang tergabungn di dalamnya mengajarkan arti tirakat, mencegah hawa nafsu dan memahami makna rohani, simbol dari ajaran ilmu ini digambarkan sebagai bentuk keris. Keris menjadi suatu perlambang dari ajaran orang Jawa, bermula dari seorang Empu, bernama Ki Supo Mandragini. Beliau salah satu dari Khanjeng Sunan Ampel Denta yang diberi tugas untuk membuat sebilah keris. Namun rupanya, pemahaman dari sang guru dan murid ini saling berseberangan, disisi lain Sunan Ampel menginginkan sebuah pusaka berupa sebilah pedang sebagai perlambang dari makna Islam. Namun ketidaktahuan Ki Supo Mandragini sendiri, akhirnya beliau membuat sebilah keris berluk 9. Keris tersebut menjadi penengah antara ajaran Islam dan Hindu bagi orang Jawa, dengan sebutan Islam Kejawen, dan keris pembuatan Ki Supo diberi nama Kyai Sengkelat.
Dari kedua aliran diatas, Islam telah ada di pulau Jawa sejak abad ke 9. Ajaran ini dibawa dari kota Misri oleh seorang Waliyullah Kamil Syekh Sanusi dan muridnya Muhammad Al Bakhry, dan baru mansyhur tentang ajaran Islam di pulau Jawa pada abad 13 dan 14 atau zamannya para Wali Songo. Pembedaran dari keunikan yang terdapat di pulau Jawa pada masa itu, 300 tahun sebelum Wali Songo mendudukinya, para Shanghyang maupun bangsa lelembut seleman telah mengetahui lewat sasmita gaib yang mereka terima, bahwa sebentar lagi pulau Jawa akan dibanjiri para pemimpin makhluk dari berbagai negara. Mereka dari seluruh alam berkumpul, diskusi di puncak Gunung Ciremai, pada masa itu mereka mufakat untuk mengabdi dan membantu, apabila para Waliyullah telah menduduki pulau Jawa. Namun tentunya tidak semua dari mereka setuju, sehingga perpecahan dari dua kubu yang berseberang jalan itu dinamakan Getas Kinatas (terpecahnya satu keluarga atau satu keturunan). Nanti pada akhirnya tiba, dari Shanghyang Rowis Renggo Jenggala, akan menurunkan beberapa keturunan Saktineng Paku Jawa (orang-orang sakti yang menjadi penguasa pulau Jawa) diantaranya :
“Arya Bengah ” yang menurunkan para putera Majapahit dan keturunannya sampai putera Mataram.
“Ciung Wanara” yang menurunkan Lutung Kasarung hingga sampai ke silsilah Prabu Agung Galuh atau yang dikenal dengan nama Prabu Munding Wangi atau Prabu Siliwangi.
“Nyi Mas Ratu Ayu Maharaja Sakti” menurunkan beberapa keturunan berbagai alam diantaranya “Ratu Palaga Inggris, seorang puteri cantik dari bangsa manusia, yang akhirnya dikawin oleh Prabu Siliwangi.
“Kerta Jasa” maharaja sakti.
“Sang Kowelan” salah satu anak dari Ratu Palaga Inggris yang berjenis bangsa lelembut, dari beliau pula ucuk umum dan Ratu Kidul dihasilkan.
Dari “Syekh Sanusi” melahirkan ratusan Waliyullah kondang, diantaranya para Wali Irak, Yaman, Mesir, Turky, dan para Wali Jawa.
Untuk yang berseberangan atau getas kinatas , sebagian dari mereka memilih ngahyang (raib) dan tak pernah muncul lagi di permukaan bumi dan sebagian lagi mereka mengabdi dengan lewat menjaga semua alam di pulau Jawa. Diantara yang mengabdi adalah :
Sih Pohaci, beliau menjaga awan dan langit.
Sih Parjampi, beliau selalu menjaga bumi dan bertempat pada lapisan bumi nomor dua.
Sang Sontong, menjaga semua gunung pulau Jawa.
Sang Waluhun, menjaga pantai utara dan selatan.
Sih Walakat, menjaga seluruh hutan dan pepohonan.
Sangkala Brahmana, menjaga Bumi Cirebon.
Sangkala Wisesa, menjaga bumi Mataram.
Janggala Putih, menjaga bumi Bogor.
Sang Lenggang Lumenggang Gajah, menjaga bumi Jakarta.
Sang Seda Hening, menjaga bumi Banten.
Dan pengguron atau perguruan para purwa, Wali Jawa, diantaranya :
Perguruan, penatas angin Pekalongan
Perguruan, Agung Waliyullah Ki Bagus Santo Pekalongan.
Perguruan, Pandarang Semarang.
Perguruan, Jambu Karang Purwokerto.
Perguruan, Daon Lumbung Cilacap, dan lain-lain
Begitulah sepenggal kisah Purwa Jawa.
Pulau terbesar dengan penduduknya paling banyak di seluruh Indonesia ini, tidak menyangka, kalau dahulunya adalah pulau terkecil dan terpecah-belah oleh persilangan laut antara utara dan selatan. Kisah dipersatukannya seluruh pulau yang terdapat di berbagai pulau Jawa, akibat dari kesaktian yang dimiliki oleh Brahmana Agung bernama Shang Hyang Dewa. Konon dengan kesaktian beliau, pulau itu ditarik satu persatu menjadi pulau terbesar dan dinamakan Bumi Ing Jowo Dwipo. Semasa pulau ini belum terjamaah oleh manusia, para siluman dari bangsa seleman dan togog telah lebih dulu menduduki hingga ribuan tahun lamanya. Masa itu pulau Jawa disebut dengan nama Mokso Seleman (zaman para lelembut). Namun setelah keturunan dari Shang Hyang Nurasa menduduki bumi Jawa (Shang Hyang Dewa) pulau itu disebut dengan nama bumi pengurip (bumi yang di hidupkan). Shang Hyang Dewa akhirnya moksa di puncak Gunung Tidar, setelah beliau menyatukan berbagai bangsa lelembut untuk menuju jalan Adil (Kebenaran), dan dari keturunannya.
Terlahir pula para Shang Hyang Agung, seperti Shang Hyang Citra Suma, Shyang Hyang Dinata Dewa, Shang Hyang Panca Dria, yang akhirnya dari merekalah sebuah titisan atau wasilah turun-temurun menjadi kerajaan teragung yang absolut. Baru diabad ke 12, pulau Jawa diperluas dengan tiga aliran yang berbeda, yaitu dengan adanya ajaran Hindu, mokso Jawi dan Islam. Akhir dari ketiga aliran tersebut nantinya menjadi suatu perlambangan dari perwatakan penduduk pulau Jawa hingga sekarang ini. Dalam perluasan arti ketiga diatas, mencerminkan sebuah kehidupan bermasyarakat gemah ripah loh jinawi. Konon ajaran ini hanya ada di pulau Jawa dan seterusnya menyebar ke seluruh pelosok yang ada di Indonesia, seperti ajaran Hindu misalnya, ilmu yang diajarkan oleh para Shanghyang Dewa, ilmu, sebagai aji rrasa manunggaling agung. Lewat bait sansekerta Yunani yang mengupas di dalamnya, kebenaran, keadilan, kejujuran dan memahami sifat alam. Ilmu ini akhirnya diturunkan oleh bapaknya para dewa. Raden Nurasa kepada Nabiyullah Khidir a.s. dan di zaman Wali Songo nanti, ilmu ini dipegang dan menjadi lambang dari sifat kependudukan masyarakat Jawa oleh tiga tokoh Waliyullah, yaitu Sunan KaliJaga, Mbah Cakra Buana dan Khanjeng Syekh Siti Jenar. Moksa Jawi sendiri, sebuah ilmu yang mengupas tentang kedigdayaan ilmu yang bersumber dari raj lelembut, bernama raja lautan. ini sangat berperan dan menjadi salah satu perwatakan masyarakat Jawa. Konon ajaran yang tergabungn di dalamnya mengajarkan arti tirakat, mencegah hawa nafsu dan memahami makna rohani, simbol dari ajaran ilmu ini digambarkan sebagai bentuk keris. Keris menjadi suatu perlambang dari ajaran orang Jawa, bermula dari seorang Empu, bernama Ki Supo Mandragini. Beliau salah satu dari Khanjeng Sunan Ampel Denta yang diberi tugas untuk membuat sebilah keris. Namun rupanya, pemahaman dari sang guru dan murid ini saling berseberangan, disisi lain Sunan Ampel menginginkan sebuah pusaka berupa sebilah pedang sebagai perlambang dari makna Islam. Namun ketidaktahuan Ki Supo Mandragini sendiri, akhirnya beliau membuat sebilah keris berluk 9. Keris tersebut menjadi penengah antara ajaran Islam dan Hindu bagi orang Jawa, dengan sebutan Islam Kejawen, dan keris pembuatan Ki Supo diberi nama Kyai Sengkelat.
Dari kedua aliran diatas, Islam telah ada di pulau Jawa sejak abad ke 9. Ajaran ini dibawa dari kota Misri oleh seorang Waliyullah Kamil Syekh Sanusi dan muridnya Muhammad Al Bakhry, dan baru mansyhur tentang ajaran Islam di pulau Jawa pada abad 13 dan 14 atau zamannya para Wali Songo. Pembedaran dari keunikan yang terdapat di pulau Jawa pada masa itu, 300 tahun sebelum Wali Songo mendudukinya, para Shanghyang maupun bangsa lelembut seleman telah mengetahui lewat sasmita gaib yang mereka terima, bahwa sebentar lagi pulau Jawa akan dibanjiri para pemimpin makhluk dari berbagai negara. Mereka dari seluruh alam berkumpul, diskusi di puncak Gunung Ciremai, pada masa itu mereka mufakat untuk mengabdi dan membantu, apabila para Waliyullah telah menduduki pulau Jawa. Namun tentunya tidak semua dari mereka setuju, sehingga perpecahan dari dua kubu yang berseberang jalan itu dinamakan Getas Kinatas (terpecahnya satu keluarga atau satu keturunan). Nanti pada akhirnya tiba, dari Shanghyang Rowis Renggo Jenggala, akan menurunkan beberapa keturunan Saktineng Paku Jawa (orang-orang sakti yang menjadi penguasa pulau Jawa) diantaranya :
“Arya Bengah ” yang menurunkan para putera Majapahit dan keturunannya sampai putera Mataram.
“Ciung Wanara” yang menurunkan Lutung Kasarung hingga sampai ke silsilah Prabu Agung Galuh atau yang dikenal dengan nama Prabu Munding Wangi atau Prabu Siliwangi.
“Nyi Mas Ratu Ayu Maharaja Sakti” menurunkan beberapa keturunan berbagai alam diantaranya “Ratu Palaga Inggris, seorang puteri cantik dari bangsa manusia, yang akhirnya dikawin oleh Prabu Siliwangi.
“Kerta Jasa” maharaja sakti.
“Sang Kowelan” salah satu anak dari Ratu Palaga Inggris yang berjenis bangsa lelembut, dari beliau pula ucuk umum dan Ratu Kidul dihasilkan.
Dari “Syekh Sanusi” melahirkan ratusan Waliyullah kondang, diantaranya para Wali Irak, Yaman, Mesir, Turky, dan para Wali Jawa.
Untuk yang berseberangan atau getas kinatas , sebagian dari mereka memilih ngahyang (raib) dan tak pernah muncul lagi di permukaan bumi dan sebagian lagi mereka mengabdi dengan lewat menjaga semua alam di pulau Jawa. Diantara yang mengabdi adalah :
Sih Pohaci, beliau menjaga awan dan langit.
Sih Parjampi, beliau selalu menjaga bumi dan bertempat pada lapisan bumi nomor dua.
Sang Sontong, menjaga semua gunung pulau Jawa.
Sang Waluhun, menjaga pantai utara dan selatan.
Sih Walakat, menjaga seluruh hutan dan pepohonan.
Sangkala Brahmana, menjaga Bumi Cirebon.
Sangkala Wisesa, menjaga bumi Mataram.
Janggala Putih, menjaga bumi Bogor.
Sang Lenggang Lumenggang Gajah, menjaga bumi Jakarta.
Sang Seda Hening, menjaga bumi Banten.
Dan pengguron atau perguruan para purwa, Wali Jawa, diantaranya :
Perguruan, penatas angin Pekalongan
Perguruan, Agung Waliyullah Ki Bagus Santo Pekalongan.
Perguruan, Pandarang Semarang.
Perguruan, Jambu Karang Purwokerto.
Perguruan, Daon Lumbung Cilacap, dan lain-lain
Begitulah sepenggal kisah Purwa Jawa.
Jumat, 16 November 2012
Kebatinan
Kebatinan adalah laku, usaha dengan melalui rasa, hati yang bening, untuk mengetahui urip sejati, hidup sejati. Laku batin tersebut dilandasi perbuatan dan perilaku yang baik, budi luhur, hati bersih suci, dengan selalu mendekatk
an diri dan manembah kepada Gusti, Tuhan.
Beberapa pengalaman akan dialami oleh pelaku kebatinan, ada yang enak, ada yang dirasa berat, semua itu adalah bumbu-bumbu kehidupan dalam menapaki jalan Ilahi.
Pengalaman puncak pelaku kebatinan/ spiritualis adalah kenyataan bahwa dirinya sebagai kawulo berada dalam hubungan serasi dengan Gusti, Tuhan.
Istilah populernya adalah :
Jumbuhing kawulo Gusti - Hubungan serasi kawulo Gusti
Manunggaling kawulo Gusti - Manunggalnya kawulo Gusti
Pamore kawulo Gusti -Bersatunya kawulo Gusti
Yang intinya berarti : Seorang anak manusia telah berada dikehidupan sejati dalam lindungan keagungan Tuhan.
Timbulnya kebatinan
Timbulnya kebatinan sebenarnya adalah hal logis, setelah manusia dalam pengalaman menjalani kehidupan ini, menemukan fakta bahwa hidup dan alam ini , tidak hanya terdiri dari benda-benda dan zat-zat yang lahir saja. Selain yang lahir, yang kasat mata, ada juga hal-hal yang tidak terlihat oleh mata, tetapi sebenarnya ada, eksis.
Selain ada yang konkrit , ada yang abstrak, yang diakui oleh siapapun, seperti : pikiran, gagasan, batin dsb. Jelas, selain lahir ,ada batin.
Sebelum sesuatu termanifestasi, muncul, lahir, sesuatu itu berada dulu didalam angan-angan, pikiran, yaitu batin.
Setiap tindakan yang dilakukan, muncul dialam lahir, tentu sebelumnya di-batin dulu.
Batin itu luas dan dalam
Dengan pengertian dasar seperti diatas, maka yang termasuk lahir adalah apa saja yang kelihatan oleh mata, sedangkan yang tidak kelihatan termasuk ranah batin.
Pandangan yang ditangkap mata juga ada dua.
Pertama : Yang bisa dilihat oleh mata lahir, mata biasa.
Kedua : Ada orang yang tajam mata batinnya, sehingga mampu melihat yang oleh kebanyakan orang disebut gaib.
Perlu diketahui bahwa setiap orang secara alami,dari “ sononya” juga dilengkapi, memiliki mata batin. Itu anugerah Tuhan, bukan takhayul!
Tetapi kemampuan fungsi mata batin, sejak anak kecil telah dikalahkan oleh logika, yang ditanamkan oleh orang tua dan pergaulan umum.
Tidak hanya mata batin yang ditutup; kepekaan otak , rasa dan indra yang lain , juga ditutup.
Jadi yang terjadi sesungguhnya,kepekaan mata batin, otak batin, rasa batin , itu tidak hilang, hanya sengaja ditutup atau dihalangi atau tidak dikembangkan. Alasannya : Tidak sesuai dengan logika.
Oleh karena perangkat-perangkat batin secara alami dan sah dimiliki setiap manusia, maka hal tersebut tak bisa dihilangkan. Sekali lagi, yang terjadi hanyalah fungsinya tidak dihidupkan.
Seorang manusia yang terbuka mata lahir dan batinnya, tetap berfungsi otak dan rasa batinnya, dia bisa melihat dan memahami yang kelihatan dan “ yang tidak kelihatan”.
Sehingga yang disebut dunia nyata itu relatif. Ini tidak perlu diperdebatkan.
Kesimpulannya sebagai berikut :
Bagi saudara-saudara kita yang fungsi perangkat-perangkat batinnya tidak diaktifkan, dibiarkan tertutup, yang dilihat adalah yang nyata secara konkrit. Itu bagus, wajib bersyukur kepada Tuhan, karena mempunyai mata, otak dan panca indra normal yang berfungsi bagus.
Sementara itu, saudara-saudara kita yang perangkat-perangkatnya berfungsi lahir batin, mampu melihat dan mengetahui bahwa kenyataan itu terdiri dari dua hal, yaitu :
Yang nyata bagi setiap orang ditambah “ yang tidak kelihatan”
Ini sebenarnya hal yang normal saja, katakanlah bahwa orang tersebut memanfaatkan sepenuhnya karunia yang diberikan oleh Tuhan.
Membuka kembali perangkat-perangkat batin.
Karena yang mempunyai kemampuan melihat termasuk hal-hal yang disebut gaib jumlahnya sedikit, orang-orang seperti itu secara salah kaprah dipandang mempunyai kemampuan diatas normal, ada yang menyebut mereka paranormal, bahkan supernormal dlsb.
Untuk membuat keadaan lebih ramai, orang-orang yang disebut paranormal itu senang dengan julukan itu dan memanfaatkan kesempatan ( katanya ini lumrah , masih manusiawi) untuk mendapatkan rejeki dari situ.
Lalu memberikan konsultasi, tidak lagi berdasarkan suka rela sebagai sesama manusia mahluk Tuhan, tetapi ada tarifnya, harus dibayar. Mudah-mudahan, mereka memberikan petunjuk dan pendapat yang benar, tidak akal-akalan. Kalau yang minta tolong orang yang tidak punya dan lagi susah, mudah-mudahan digratiskan, bahkan dibantu uang transportnya untuk pulang naik bis!
Ini semua tentu terpulang kepada watak, nurani dan tingkat kesadaran spiritualnya.
Supaya anda tidak perlu ke “paranormal” kalau lagi bingung atau punya masalah, selain perlu lebih banyak berdoa kepada Tuhan, tenangkan perasaan anda, kendalikan emosi, mulailah berlatih santai membuka kembali fungsi-fungsi perangkat “gaib” yang anda miliki.
Tentu untuk itu anda harus sabar, melatih diri, karena perangkat-perangkat itu sudah lama sekali tidak difungsikan. Kalau terbukanya terlalu cepat atau tiba-tiba, nanti anda kaget dan bisa mengalami goncangan jiwa.
Pelaksanaan dan latihan tersebut hanya melibatkan dan berhubungan dengan diri anda sendiri dan diberkati oleh Tuhan.
Latihan mengolah batin, bisa dilakukan sendiri atas dasar kemantapan hati yang pasrah total kepada Gusti atau dengan petunjuk atau bimbingan seseorang yang lebih senior dalam olah kebatinan, yang biasanya disebut Guru.
Bimbingan Guru Laku tersebut untuk menghindari dari beraneka gangguan dan hal-hal yang negatif, sehingga tidak keliru tujuan sejatinya. Silahkan, anda bebas menentukan pilihan.
Yang penting anda yakin selalu berada dijalan yang hakiki, yang benar, yang menjadi hak anda dan itu adalah jalan Ilahi.
Menjalani, mempelajari, melatih olah kebatinan atau spiritualitas menurut istilah universal, itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan takhayul, mahluk-mahluk halus yang mendiami tempat-tempat angker, santet dan hal-hal semacam itu.
Kebatinan adalah jalan yang mulia, metode untuk menghayati kebenaran sejati, mengenali diri sejati, hidup sejati, sehingga hubungannya dengan Tuhan, serasi.
Ada yang menyebut keadaan seperti itu : Wis tinarbuko, bahasa Jawa, sudah terbuka batinnya yang tinggi, sudah mendapat Pencerahan – Enlightment – Pepadhang.
Ada yang menyebut Unio Mystica – Persatuan mistis kawulo Gusti . Dalam pemahaman spiritualitas universal dikatakan : Aku ketemu Higher-Self, diri yang lebih tinggi/ Pribadi atau bahkan bisa ketemu dengan Highest –Self – Pribadi Sejati.
Inilah initi kebatinan yang sesungguhnya.
Beberapa pengalaman akan dialami oleh pelaku kebatinan, ada yang enak, ada yang dirasa berat, semua itu adalah bumbu-bumbu kehidupan dalam menapaki jalan Ilahi.
Pengalaman puncak pelaku kebatinan/ spiritualis adalah kenyataan bahwa dirinya sebagai kawulo berada dalam hubungan serasi dengan Gusti, Tuhan.
Istilah populernya adalah :
Jumbuhing kawulo Gusti - Hubungan serasi kawulo Gusti
Manunggaling kawulo Gusti - Manunggalnya kawulo Gusti
Pamore kawulo Gusti -Bersatunya kawulo Gusti
Yang intinya berarti : Seorang anak manusia telah berada dikehidupan sejati dalam lindungan keagungan Tuhan.
Timbulnya kebatinan
Timbulnya kebatinan sebenarnya adalah hal logis, setelah manusia dalam pengalaman menjalani kehidupan ini, menemukan fakta bahwa hidup dan alam ini , tidak hanya terdiri dari benda-benda dan zat-zat yang lahir saja. Selain yang lahir, yang kasat mata, ada juga hal-hal yang tidak terlihat oleh mata, tetapi sebenarnya ada, eksis.
Selain ada yang konkrit , ada yang abstrak, yang diakui oleh siapapun, seperti : pikiran, gagasan, batin dsb. Jelas, selain lahir ,ada batin.
Sebelum sesuatu termanifestasi, muncul, lahir, sesuatu itu berada dulu didalam angan-angan, pikiran, yaitu batin.
Setiap tindakan yang dilakukan, muncul dialam lahir, tentu sebelumnya di-batin dulu.
Batin itu luas dan dalam
Dengan pengertian dasar seperti diatas, maka yang termasuk lahir adalah apa saja yang kelihatan oleh mata, sedangkan yang tidak kelihatan termasuk ranah batin.
Pandangan yang ditangkap mata juga ada dua.
Pertama : Yang bisa dilihat oleh mata lahir, mata biasa.
Kedua : Ada orang yang tajam mata batinnya, sehingga mampu melihat yang oleh kebanyakan orang disebut gaib.
Perlu diketahui bahwa setiap orang secara alami,dari “ sononya” juga dilengkapi, memiliki mata batin. Itu anugerah Tuhan, bukan takhayul!
Tetapi kemampuan fungsi mata batin, sejak anak kecil telah dikalahkan oleh logika, yang ditanamkan oleh orang tua dan pergaulan umum.
Tidak hanya mata batin yang ditutup; kepekaan otak , rasa dan indra yang lain , juga ditutup.
Jadi yang terjadi sesungguhnya,kepekaan mata batin, otak batin, rasa batin , itu tidak hilang, hanya sengaja ditutup atau dihalangi atau tidak dikembangkan. Alasannya : Tidak sesuai dengan logika.
Oleh karena perangkat-perangkat batin secara alami dan sah dimiliki setiap manusia, maka hal tersebut tak bisa dihilangkan. Sekali lagi, yang terjadi hanyalah fungsinya tidak dihidupkan.
Seorang manusia yang terbuka mata lahir dan batinnya, tetap berfungsi otak dan rasa batinnya, dia bisa melihat dan memahami yang kelihatan dan “ yang tidak kelihatan”.
Sehingga yang disebut dunia nyata itu relatif. Ini tidak perlu diperdebatkan.
Kesimpulannya sebagai berikut :
Bagi saudara-saudara kita yang fungsi perangkat-perangkat batinnya tidak diaktifkan, dibiarkan tertutup, yang dilihat adalah yang nyata secara konkrit. Itu bagus, wajib bersyukur kepada Tuhan, karena mempunyai mata, otak dan panca indra normal yang berfungsi bagus.
Sementara itu, saudara-saudara kita yang perangkat-perangkatnya berfungsi lahir batin, mampu melihat dan mengetahui bahwa kenyataan itu terdiri dari dua hal, yaitu :
Yang nyata bagi setiap orang ditambah “ yang tidak kelihatan”
Ini sebenarnya hal yang normal saja, katakanlah bahwa orang tersebut memanfaatkan sepenuhnya karunia yang diberikan oleh Tuhan.
Membuka kembali perangkat-perangkat batin.
Karena yang mempunyai kemampuan melihat termasuk hal-hal yang disebut gaib jumlahnya sedikit, orang-orang seperti itu secara salah kaprah dipandang mempunyai kemampuan diatas normal, ada yang menyebut mereka paranormal, bahkan supernormal dlsb.
Untuk membuat keadaan lebih ramai, orang-orang yang disebut paranormal itu senang dengan julukan itu dan memanfaatkan kesempatan ( katanya ini lumrah , masih manusiawi) untuk mendapatkan rejeki dari situ.
Lalu memberikan konsultasi, tidak lagi berdasarkan suka rela sebagai sesama manusia mahluk Tuhan, tetapi ada tarifnya, harus dibayar. Mudah-mudahan, mereka memberikan petunjuk dan pendapat yang benar, tidak akal-akalan. Kalau yang minta tolong orang yang tidak punya dan lagi susah, mudah-mudahan digratiskan, bahkan dibantu uang transportnya untuk pulang naik bis!
Ini semua tentu terpulang kepada watak, nurani dan tingkat kesadaran spiritualnya.
Supaya anda tidak perlu ke “paranormal” kalau lagi bingung atau punya masalah, selain perlu lebih banyak berdoa kepada Tuhan, tenangkan perasaan anda, kendalikan emosi, mulailah berlatih santai membuka kembali fungsi-fungsi perangkat “gaib” yang anda miliki.
Tentu untuk itu anda harus sabar, melatih diri, karena perangkat-perangkat itu sudah lama sekali tidak difungsikan. Kalau terbukanya terlalu cepat atau tiba-tiba, nanti anda kaget dan bisa mengalami goncangan jiwa.
Pelaksanaan dan latihan tersebut hanya melibatkan dan berhubungan dengan diri anda sendiri dan diberkati oleh Tuhan.
Latihan mengolah batin, bisa dilakukan sendiri atas dasar kemantapan hati yang pasrah total kepada Gusti atau dengan petunjuk atau bimbingan seseorang yang lebih senior dalam olah kebatinan, yang biasanya disebut Guru.
Bimbingan Guru Laku tersebut untuk menghindari dari beraneka gangguan dan hal-hal yang negatif, sehingga tidak keliru tujuan sejatinya. Silahkan, anda bebas menentukan pilihan.
Yang penting anda yakin selalu berada dijalan yang hakiki, yang benar, yang menjadi hak anda dan itu adalah jalan Ilahi.
Menjalani, mempelajari, melatih olah kebatinan atau spiritualitas menurut istilah universal, itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan takhayul, mahluk-mahluk halus yang mendiami tempat-tempat angker, santet dan hal-hal semacam itu.
Kebatinan adalah jalan yang mulia, metode untuk menghayati kebenaran sejati, mengenali diri sejati, hidup sejati, sehingga hubungannya dengan Tuhan, serasi.
Ada yang menyebut keadaan seperti itu : Wis tinarbuko, bahasa Jawa, sudah terbuka batinnya yang tinggi, sudah mendapat Pencerahan – Enlightment – Pepadhang.
Ada yang menyebut Unio Mystica – Persatuan mistis kawulo Gusti . Dalam pemahaman spiritualitas universal dikatakan : Aku ketemu Higher-Self, diri yang lebih tinggi/ Pribadi atau bahkan bisa ketemu dengan Highest –Self – Pribadi Sejati.
Inilah initi kebatinan yang sesungguhnya.
Selasa, 02 Oktober 2012
PERISTIWA ANEH SEBUAH JENAZAH .. (Kisah Nyata) ...
Ini adalah kisah nyata, kisah proses penguburan seorang pejabat di sebuah kota di Jawa Timur. Nama dan alamat sengaja tidak disebutkan untuk menjaga nama baik jenazah dan keluarga yang ditinggalkan. Insya Allah kisah ini menjadi hikmah dan cermin bagi kita semua sebelum ajal menjemput.
Kisah ini diceritakan langsung oleh seorang Modin (pengurus jenazah) kepada saya. Dengan gaya bertutur, selengkapnya ceritanya begini:
Saya terlibat dalam pengurus jenazah lebih dari 16 tahun, berbagai pengalaman telah saya lalui, sebab dalam jangka atau kurun waktu tersebut macam-macam jenis mayat sudah saya tangani. Ada yang meninggal dunia akibat kecelakaan, sakit tua, sakit jantung, bunuh diri dan sebagainya. Bagaimanapun, pengalaman mengurus satu jenazah seorang pejabat yang kaya serta berpengaruh ini, menyebabkan saya dapat kesempatan 'istimewa' sepanjang hidup. Inilah pertama saya bertemu cukup aneh, menyedihkan, menakutkan dan sekaligus memberikan banyak hikmah.
Sebagai Modin tetap di desa, saya diminta oleh anak almarhum mengurus jenazah Bapaknya. Saya terus pergi ke rumahnya. Ketika saya tiba sampai ke rumah almarhum tercium bau jenazah itu sangat busuk. Baunya cukup memualkan perut dan menjijikan. Saya telah mengurus banyak jenazah tetapi tidak pernah saya bertemu dengan mayat yang sebusuk ini. Ketika saya lihat wajah almarhum, sekali lagi saya tersentuh. Saya tengok wajahnya seperti dirundung oleh macam-macam perasaan takut, cemas, kesal dan macam-macam. Wajahnya seperti tidak mendapat nur dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Kemudian saya pun ambil kain kafan yang dibeli oleh anak almarhum dan saya potong. Secara kebetulan pula, disitu ada dua orang yang pernah mengikuti kursus "fardu kifayah" atau pengurus jenazah yang pernah saya ajar. Saya ajak mereka mambantu saya dan mereka setuju.
Tetapi selama memandikan mayat itu, kejadian pertama pun terjadi, sekedar untuk pengetahuan pembaca, apabila memandikan jenazah, badan mayat itu perlu dibangunkan sedikit dan perutnya hendaklah diurut-urut untuk mengeluarkan kotoran yang tersisa. Maka saya pun urut-urut perut almarhum.
Tapi apa yang terjadi, pada hari itu sangat mengejutkan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berkehendak dan menunjukkan kekuasaannya karena pada hari tersebut, kotoran tidak keluar dari dubur akan tetapi melalui mulutnya. Hati saya berdebar-debar. Apa yang sedang terjadi di depan saya ini? Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan kotoran, saya harap hal itu tidak terulang lagi karena saya mengurut perutnya untuk kali terakhir.
Tiba-tiba ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta'ala berlaku, ketika saya urut perutnya keluarlah dari mulut mayat itu kotoran bersama beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu adalah seperti ulat kotoran (belatung). Padahal almarhum meninggal dunia akibat diserang jantung dan waktu kematiannya dalam tempo yang begitu singkat mayatnya sudah menjadi demikian rupa ? saya lihat wajah anak almarhum.
Mereka seperti terkejut. Mungkin malu, terperanjat dan aib dengan apa yang berlaku pada Bapaknya,kemudian saya tengok dua orang pembantu tadi, mereka juga terkejut dan panik. Saya katakan kepada mereka,"Inilah ujian Allah terhadap kita". Kemudian saya minta salah satu seorang dari pada pembantu tadi pergi memanggil semua anak almarhum.
Almarhum pada dasarnya seorang yang beruntung karena mempunyai tujuh orang anak, kesemuanya laki-laki. Seorang berada di luar negeri dan enam lagi berada di rumah. Ketika semua anak almarhum masuk, saya nasehati mereka. Saya mengingatkan mereka bahwasanya tanggung jawab saya adalah membantu menguruskan jenazah Bapak mereka, bukan menguruskan semuanya, tanggung jawab ada pada ahli warisnya.
Sepatutnya sebagai anak, mereka yang lebih afdal menguruskan jenazah Bapak mereka itu, bukan hanya iman, hanya bilal, atau guru. Saya kemudian meminta ijin serta bantuan mereka untuk menunggingkan mayat itu. Takdir Allah ketika ditunggingkan mayat tersebut, tiba-tiba keluarlah ulat-ulat yang masih hidup, hampir sebaskom banyaknya. Baskom itu kira-kira besar sedikit dari penutup saji meja makan. Subhanallah suasana menjadi makin panik. Benar-benar kejadian yang luar biasa sulit diterima akal pikiran manusia biasa. Saya terus berdoa dan berharap tidak terjadi lagi kejadian yang lebih ganjil. Selepas itu saya memandikan kembali mayat tersebut dan saya ambilkan wudhu. Saya meminta anak-anaknya kain kafan.
Saya bawa mayat ke dalam kamarnya dan tidak diijinkan seorang pun melihat upacara itu terkecuali waris yang terdekat sebab saya takut kejadian yang lebih aib akan terjadi. Peristiwa apa pula yang terjadi setelah jenazah diangkat ke kamar dan hendak dikafani, takdir Allah jua yang menentukan, ketika mayat ini diletakkan di atas kain kafan, saya dapati kain kafan itu hanya cukup menutupi ujung kepala dan kaki tidak ada lebih, maka saya tak dapat mengikat kepala dan kaki.
Tidak keterlaluan kalau saya katakan ia seperti kain kafan itu tidak mau menerima mayat tadi. Tidak apalah, mungkin saya yang khilaf dikala memotongnya. Lalu saya ambil pula kain, saya potong dan tampung di tempat-tempat yang kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi sambung-menyambung, tapi apa mau dikata, itulah yang dapat saya lakukan. Dalam waktu yang sama saya berdoa kepada Allah "Ya Allah, jangan kau hinakan jenazah ini ya Allah, cukuplah sekedar peringatan kepada hamba-Mu ini."
Selepas itu saya beri taklimat tentang sholat jenazah tadi, satu lagi masalah timbul, jenazah tidak dapat dihantar ke tanah pekuburan karena tidak ada mobil jenazah/mobil ambulance. Saya hubungi kelurahan, pusat Islam, masjid, dan sebagainya, tapi susah. Semua sedang terpakai, beberapa tempat tersebut juga tidak punya kereta jenazah lebih dari satu karena kereta yang ada sedang digunakan pula.
Suatu hal yang saya pikir bukan sekedar kebetulan. Dalam keadaan itu seorang hamba Allah muncul menawarkan bantuan. Lelaki itu meminta saya menunggu sebentar untuk mengeluarkan van/sejenis mobil pick-up dari garasi rumahnya. Kemudian muncullah sebuah van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk meletakkan vannya itu dirumah almarhum, tiba-tiba istrinya keluar. Dengan suara yang tegas dia berkata dikhalayak ramai: "Mas, saya tidak perbolehkan mobil kita ini digunakan untuk angkat jenazah itu, sebab semasa hayatnya dia tidak pernah mengijinkan kita naik mobilnya." Renungkanlah kalau tidak ada apa-apanya, tidak mungkin seorang wanita yang lembut hatinya akan berkata demikian. Jadi saya suruh tuan yg punya van itu membawa kembali vannya.
Selepas itu muncul pula seorang lelaki menawarkan bantuannya. Lelaki itu mengaku dia anak murid saya. Dia meminta ijin saya dalam 10-15 menit membersihkan mobilnya itu. Dalam jangka waktu yang ditetapkan itu,muncul mobil tersebut, tapi dalam keadaan basah kuyup. Mobil yang dimaksudkan itu sebenarnya lori. Dan lori itu digunakan oleh lelaki tadi untuk menjual ayam ke pasar, dalam perjalanan menuju kawasan pekuburan, saya berpesan kepada dua pembantu tadi supaya masyarakat tidak usah membantu kami menguburkan jenazah, cukup tinggal di camping saja akan lebih baik. Saya tidak mau mereka melihat lagi peristiwa ganjil. Rupanya apa yang saya takutkan itu berlaku sekali lagi, takdir Allah yang terakhir amat memilukan.
Sesampainya Jenazah tiba di tanah pekuburan, saya perintahkan tiga orang anaknya turun ke dalam liang dan tiga lagi menurunkan jenazah. Allah berkehendak semua atas makhluk ciptaan-Nya berlaku, saat jenazah itu menyentuh ke tanah tiba-tiba air hitam yang busuk baunya keluar dari celah tanah yang pada asal mulanya kering.
Hari itu tidak ada hujan, tapi dari mana datang air itu? sukar untuk saya menjawabnya. Lalu saya arahkan anak almarhum, supaya jenazah bapak mereka dikemas dalam peti dengan hati-hati. Saya takut nanti ia terlentang atau telungkup na'udzubillah. Kalau mayat terlungkup, tak ada harapan untuk mendapat safa'at Nabi. Papan keranda diturunkan dan kami segera timbun kubur tersebut. Selepas itu kami injak-injak tanah supaya mampat dan bila hujan ia tidak mendap/ambrol. Tapi sungguh mengherankan, saya perhatikan tanah yang diinjak itu menjadi becek. Saya tahu, jenazah yang ada di dalam telah tenggelam oleh air hitam yang busuk itu.
Melihat keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak almarhum supaya berhenti menginjak tanah itu. Tinggalkan lobang kubur 1/4 meter. Artinya kubur itu tidak ditimbun hingga ke permukaan lubangnya, tapi ia seperti kubur berlobang. Tidak cukup dengan itu, apabila saya hendak bacakan talqin, saya lihat tanah yang diinjak itu ada kesan serapan air.
Masya Allah, dalam sejarah peristiwa seperti itu terjadi. Melihat keadaan itu, saya ambil keputusan untuk selesaikan penguburan secepat mungkin.
Sejak lama terlibat dalam penguburan jenazah, inilah mayat yang saya tidak talqimkan. Saya bacakan tahlil dan doa yang paling ringkas. Setelah saya pulang ke rumah almarhum dan mengumpulkan keluarganya. Saya bertanya kepada istri almarhum, apakah yang telah dilakukan oleh almarhum semasa hayatnya.
1. Apakah dia pernah menzalimi orang alim ?
2. Mendapat harta secara merampas, menipu dan mengambil yang bukan haknya?
3. Memakan harta masjid dan anak yatim ?
4. Menyalahkan jabatan untuk kepentingan sendiri ?
5. Tidak pernah mengeluarkan zakat, shodaqoh atau infaq ?
Istri almarhum tidak dapat memberikan jawabannya. Memikirkan mungkin dia malu Untuk memberi tahu, saya tinggalkan nomor telepon rumah. Tapi sedihnya hingga sekarang, tidak seorang pun anak almarhum menghubungi saya. Untuk pengetahuan umum, anak almarhum merupakan orang yang berpendidikan tinggi hingga ada seorang yg beristrikan orang Amerika, seorang dapat istri orang Australia dan seorang lagi istrinya orang Jepang.
Peristiwa ini akan tetap saya ingat. Dan kisah ini benar-benar nyata bukan rekaan atau isapan jempol. Semua kebenaran saya kembalikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala pencipta jagad raya ini.
Kepada semua pembaca setia STA, tanyalah diri kita akankah kita menginginkan peristiwa itu terjadi pada diri kita sendiri, ibu, bapak kita, anak kita atau kaum keluarga kita ?
Wallahu’alam bishshawab, ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Langganan:
Postingan (Atom)


